Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Tanda-Tanda Pemulihan Kinerja Japfa

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 7 Maret 2020 | 09:32 WIB

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diproyeksi pulih tahun ini. Tanda-tanda pemulihan telah terlihat sejak kuartal IV tahun lalu dengan kinerja keuangan yang tumbuh signifikan. Pemulihan juga didukung oleh berhasilnya program culling induk ayam yang berimbas terhadap penurunan suplai di pasar.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A Fauni menyebutkan bahwa Japfa bakal mampu merealisasikan peningkatan laba bersih sebesar 19,6% menjadi Rp 2,11 triliun tahun ini. Optimisme tercapainya target itu didukung oleh keberhasilan perseroan merealisasikan laba bersih tahun lalu yang sesuai konsensus analis.

“Pertumbuhan perseroan juga didukung oleh harga jual ayam pedaging dan anak ayam (DOC) yang kemungkinan pulih tahun ini. Kenaikan juga bakal ditopang oleh langkah perseroan untuk menaikkan margin produk pakan ternak secara bertahap,” tulis Emma dalam risetnya, baru-baru ini.

Meski demikian, menurut dia, perkembangan bisnis Japfa akan dipengaruhi oleh fluktuasi harga jual jagung, perubahan kebijakan pemerintah, dan apabila terjadi kelebihan pasokan ayam pedaging dan anak ayam. Hal ini bisa menekan kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga Rp 2.000. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 2,11 triliun dan pendapatan menjadi Rp 40,6 triliun seanjang tahun ini.

Optimisme terhadap pertumbuhan kinerja keuangan Japfa juga diungkapkan oleh analis Danareksa Sekuritas Victor Stefano. Menurut dia, Japfa berpeluang membukukan pertumbuhan EBITDA sebesar 12% tahun ini.

Kenaikan tersebut didukung oleh perkiraan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,8% dan peluang kenaikan margin dari 11,1% menjadi 11,5% tahun ini.

“Peningkatan EBITDA dan margin didukung oleh perkiraan penguatan harga anak ayam usia sehari (day old chick/DOC) dan rata-rata ayam pedaging masingmasing 4% dan 5% tahun ini. Hal ini tentu akan berimbas positif terhadap raihan keuntungan sepanjang tahun ini,” jelas Victor dalam risetnya.

Dia memperkirakan peningkatan laba bersih Japfa menjadi Rp 1,85 triliun sepanjang tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu yang mencapai Rp 1,76 triliun. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan perkiraan kenaikan pendapatan perseroan menjadi Rp 39,59 triliun pada 2020 dibandingkan perolehan tahun lalu senilai Rp 36,74 triliun.

Dengan peluang berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ditambah kuatnya fundamental, saham JPFA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.050. Target harga tersebut juga menggambarkan keberhasilan perseroan untuk membukukan kinerja keuangan tahun lalu sesuai dengan harapan.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Gusti Angga Rizky Pratama memprediksi harga jual broiler akan berada pada kisaran Rp 19.000-21.500 pada 2020, seiring dengan aksi cepat pemerintah untuk menstabilkan harga melalui program culling.

“Program tersebut akan berdampak terhadap perbaikan margin operasional Japfa pada 2020,” tulis Gusti dalam risetnya.

Selain faktor tersebut, perseroan diuntungkan oleh kepemilikan fasilitas silo dan pengering jagung. Ketersediaan fasilitas tersebut memungkinkan perseroan untuk membeli jagung dalam jumlah banyak saat panen raya dengan harga rendah.

Saat harga jagung melonjak, perseroan masih memiliki stok dengan harga beli yang tergolong rendah.

“Perseroan juga akan diuntungkan oleh tren penurunan harga pembelian soybean meal, yaitu salah satu bahan baku utama produksi pakan ternak. Berbagai faktor tersebut akan membuat laba bersih perseroan bertumbuh pesat pada 2020,” jelas Gusti.

Program culling diharapkan mendorong perbaikan kinerja keuangan Japfa pada 2020 dibandingkan 2019.

Samuel Sekuritas memproyeksikan kenaikan laba bersih Japfa menjadi Rp 2,1 triliun pada 2020 dan pendapatan diharapkan meningkat menjadi Rp 40,49 triliun pada 2020.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 1.950. Target harga saham tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2020 sebesar 15 kali.

Target tersebut juga mempertimbangkan tetap terjaganya pertumbuhan pendapatan perseroan.

Lampaui Target

Victor Stefano menegaskan, Japfa berhasil membukukan kinerja keuangan yang mengesankan tahun lalu, meskipun perolehannya di bawah pencapaian tahun sebelumnya. Kinerja keuangan tersebut didukung oleh berhasilnya program pemusnahan (culling) induk ayam selama empat kuartal tahun lalu. Hal ini membuat penjualan bisnis ayam pedaging perseroan melonjak pada kuartal terakhir tahun 2019.

“Realisasi laba bersih Japfa tahun lalu setara dengan 123% dari target yang telah kami tetapkan semula dan setara dengan 114% dari target konsensus analis. Sedangkan pendapatan perseroan tahun 2019 merefleksikan 98% dari proyeksi Danareksa Sekuritas dan 101% dari estimasi konsensus analis,” ungkap dia.

Tahun 2019, Japfa Comfeed membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,76 triliun pada 2019. Raihan tersebut turun sebesar 18,55% dari pencaian tahun 2018 senilai Rp 2,16 triliun.

Berdasarkan publikasi kinerja keuangan, penurunan laba ini dipengaruhi atas kenaikan beban pokok penjualan sekitar 10,48% menjadi Rp 29,61 triliun pada 2019 dari Rp 26,8 triliun pada 2018. Sementara, pendapatan tercatat turun 8,02% dari Rp 34,01 triliun pada 2018 menjadi Rp 36,74 triliun pada 2019.

Japfa mencetak kenaikan volume penjualan pakan ternak dan ayam pedaging sebesar 5% pada kuartal IV- 2019 dibandingkan kuartal III-2019. Rata-rata harga jual ayam pedaging juga mengalami kenaikan 17%.

Begitu juga volume penjualan anak ayam menunjukkan kenaikan sekitar 13% pada kuartal akhir tahun lalu. Pandangangan positif terkait realisasi kinerja keuangan Japfa tahun lalu juga diungkapakan Emma A Fauni.

Menurut dia, raihan laba bersih perseroan tahun lalu sudah melampaui harapan. “Raihan laba bersih tersebut setara dengan 112,1% dari target awal kami dan setara dengan 115,1% dari perkiraan consensus analis,” jelas dia.

Emma menegaskan, terlampauinya target kinerja keuangan tersebut didukung oleh performa perseroan pada kuartal akhir tahun lalu. Kuartal akhir tersebut berhasil menyumbangkan laba bersih bagi perseroan sekitar Rp 722 miliar atau melonjak 45,6% dari perolehan periode sama tahun lalu.

Sedangkan pendongrak utama laba bersih pada kuartal akhir 2019 berasal dari peningkatan margin keuntungan perseroan, khususnya segmen ayam pedaging dan DOC.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN