Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk United Tractors. Foto: DEFRIZAL

Produk United Tractors. Foto: DEFRIZAL

Tantangan United Tractors Berlanjut

Parluhutan Situmorang, Selasa, 14 Januari 2020 | 13:32 WIB

JAKARTA, investor.id - Belum pulihnya harga jual batubara ditambah pelarangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah bakal berimbas negatif terhadap kinerja keuangan PT United Tractors Tbk (UNTR) tahun ini. Faktor tersebut akan membuat kinerja keuangan turun sepanjang 2020.

Sedangkan dari bisnis kontraktor penambangan batubara dperkirakan tidak mampu mengimbangi tren penurunan volume penjualan alat berat. Bisnis kontraktor tersebut diperkirakan menghasilkan kinerja stagnan sepanjang tahun ini dipicu atas belum pulihnya harga jual batu bara dan kondisi cuaca dengan curah hujan lebih tinggi.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, volume penjualan alat berat Komatsu diproyeksikan lanjutkan penurunan tahun ini. “Belum membaiknya harga jual batu bara ditambah pelarangan ekspor bijih nikel akan membuat volume penjualan alat berat Komatsu tahun ini turun menjadi 2.900 unit,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Meskipun pengembangan infrastruktur dalam negeri oleh pemerintah tetap berlanjut, dia mengatakan, tidak mampu mengimbangi tren penurunan permintaan alat berat sector pertambangan. Bahkan, volume penjualan alat berat sector infrastruktur cenderung stagnan tahun ini. Terkait sumbangan pendapatan dari bisnis kontraktor penambangan batu bara, Stefanus mengatakan, produksi dan pengupasan tanah (overburden removal/ OB) diproyeksikan cenderung stabil. Begitu juga dengan volume penjualan batu bara perseroan diproyeksikan cenderung stabil tahun ini.

Hingga November 2019, perseroan telah membukukan volume produksi batu bara sebanyak 120,5 juta ton. Perolehan tersebut sudah sesuai dengan target sepanjang 2019 mencapai 128 juta ton.

Sedangkan OB meningkat 2,6% hingga November 2019. Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga Rp 28 ribu per saham. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sebanyak 9,7 kali.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan penurunan kinerja keuangan perseroan tahun ini. Danareksa Sekuritas menargetkan penurunan laba bersih United Tractors menjadi Rp 10,80 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 11,31 triliun. Sedangkan pendapatan diperkirakan juga turun dari estimasi 2019 sebesar Rp 83,91 triliun menjadi Rp 80,56 triliun.

Sebelumnya, anak usaha United Tractors, yaitu PT Tuah Turangga Agung, mengucurkan fasilitas pinjaman kepada perusahaan terafiliasi Aegis Energy Trading Pte. Ltd sebesar US $ 9 Miliar.

Corporate Secretary United Tractors Sara K Loebis menjelaskan, pinjaman tersebut dikuncurkan dengan tingkat bunga libor sebesar 2% per tahun dan jangka waktu pinjaman terhitung sejak ditandatangani perjanjian hingga 31 Desember 2020. Fasilitas pinjaman tersebut adalah pinjaman berjangka.

"Perjanjian pinjaman tersebut sudah ditandatangani oleh Tuah Turangga Agung dan Aegis Energy pada tanggal 27 Desember 2019 lalu," jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (5/1).

Sara menambahkan dana hasil pinjaman tersebut akan digunakan oleh Aegis Energy untuk keperluan modal kerja perusahaan.

"Secara bisnis bagi Aegis Energy akan lebih menguntungkan apabila mendapatkan pinjaman tersebut dari Tuah Turangga Agung dibandingkan dari pihak lain," kata dia.

Sebagai informasi transaksi yang dilakukan anak usaha UNTR ini tidak memiliki benturan kepentingan dikarenakan PT Tuah Turangga Agung merupakan anak usaha langsung yang dimiliki oleh United Tractors, sedangkan Aegis Energy Trading Pte. Ltd adalah anak usaha yang dimiliki oleh TTA.

Sementara itu induk usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) baru-baru ini meraih pinjaman dari anak usahanya, PT Pamapersada Nusantara (Pama), sebesar Rp 700 miliar. Pinjaman ini akan digunakan sebagai modal kerja perseroan. Penandatanganan pinjaman tersebut dilakukan perseroan dengan Pama pada tanggal 16 Desember 2019.

Dalam perjanjian tersebut, Pama akan memberikan revolving loan dengan tingkat bunga 6,25% per tahun dengan jangka waktu hingga 16 Desember 2020.

"Secara bisnis akan lebih menguntungkan, apabila perseroan mendapatkan pinjaman dari Pama dibandingkan dari pihak lain," kata dia.

Lebih lanjut, transaksi ini tidak ada benturan kepentingan sehingga tidak memerlukan persetujuan pemegang saham. Transaksi ini juga bukan merupakan transaksi material karena tidak memenuhi treshold yang ditetapkan.

Rekomendasi Buy

Sementara itu, tim riset Sinarmas Sekuritas menaikkan prospek saham UNTR dari neutral menjadi buy tahun ini. Target harga saham perseroan ditargetkan menjadi Rp 25.700 dalam 52 minggu ke depan. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 8,4 kali.

“Koreksi saham UNTR saat ini merupakan waktu tepat untuk dikoleksi,” terangnya  dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Target harga tersebut juga merepresentasikan proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan United Tractors tahun ini. Laba bersih perseroan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 11,42 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 11,01 triliun.

Sedangkan pendapatan perseroan diharapkan mencapai Rp 87,05 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 87,36 triliun. Tahun 2018, perseroan membukukan pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 84,62 triliun dan Rp 11,12 triliun.

Manajemen United Tractors, ungkap Sinarmas Sekuritas, kemungkinan memangkas belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini. Perseroan juga disebut akan menjajaki kesempatan menguntungkan pada bisnis di luar batu bara, seiring dengan keinginan manajemen untuk menaikkan kontribusi di luar bisnis batu bara.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN