Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan Waskita Karya. Foto: IST

Salah satu kegiatan Waskita Karya. Foto: IST

Tantangan Waskita Karya di Masa Pandemi Virus Korona

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 21 Maret 2020 | 06:24 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Waskita Karya Tbk (WSKT) bakal menghadapi sejumlah tantangan sepanjang tahun ini akibat pandemi virus korona atau Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Pandemi tersebut bisa memicu penurunan perolehan kontrak baru yang berimbas terhadap kinerja keuangan tahun ini.

Analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, pandemic Covid-19 akan berimbas sedang dan besar bagi perusahaan sektor konstruksi tahun ini. Hal ini bisa berimplikasi negative terhadap perolehan kontrak baru sejumlah perusahaan konstruksi tahun ini.

Apalagi, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan masyarakat untuk berdiam diri di rumah dan menghindari pertemuan dengan banyak orang (social distancing). Hal ini tentu bisa berimbas terhadap penundaan penyelesaian sejumlah proyek yang sedang dikerjakan, baik untuk proyek pemerintah maupun swasta tahun ini.

“Selain faktor tersebut, pemerintah bisa saja mengalihkan sebagian anggaran dari sektor infrastruktur ke sektor lain. Hal ini bisa berdampak terhadap penurunan perolehan kontrak baru emiten konstruksi semester I tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu,” ungkap Maria dalam risetnya, baru-baru ini.

Salah satu kegiatan konstruksi Waskita Karya. Foto: Arief
Salah satu kegiatan konstruksi Waskita Karya. Foto: Arief

Maria memperkirakan bahwa perolehan kontrak baru emiten konstruksi pada semester I-2020 hanya menyumbang sebesar 21,6% dari total target kontrak baru tahun ini. Apabila dibandingkan dengan realisasi periode sama tahun lalu, perolehan kontrak baru semester I-2020 kemungkinan turun sekitar 8,2% dari realisasi kontrak baru periode sama tahun 2018.

“Kami memperkirakan perolehan kontrak baru masing-masing emiten BUMN tahun ini turun sekitar 6,3% dari perolehan tahun lalu,” jelasnya.

Terkait pelemahan rupiah yang telah mendekati level Rp 16.000 per dolar AS, dia mengatakan bahwa itu tidak berimbas signifikan terhadap emiten konstruksi. Sebab, mayoritas bahan baku perusahaan didatangkan dari dalam negeri.

Emiten konstruksi juga umumnya sudah mengamankan bahan baku proyek sesaat ditandatanganinya kontrak baru untuk menghindari fluktuasi harga pembelian bahan baku.

Namun, perusahaan konstruksi yang menggarap proyek EPC, MRT, dan LRT kemungkinan terimbas akibat sebagian besar bahan baku didatang dari luar negeri. Namun pengerjaan proyek tahunan (multiyears) dimungkinkan untuk mengajukan tambahan anggaran.

Tak Sesuai Harapan

Waskita Karya.
Waskita Karya.

Waskita Karya membukukan penurunan pendapatan sebesar 35,6% menjadi Rp 31,4 triliun tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya Rp 48,78 triliun. Laba bersih anjlok mencapai 76,3% menjadi Rp 938 miliar sampai akhir 2019 dibandingkan pencapaian 2018 yang sebesar Rp 3,96 triliun.

Penurunan laba bersih tahun lalu akibat penurunan pendapatan, penurunan margin kotor, kenaikan beban bunga, dan pelemahan pendapatan lainnya. Hal ini terlihat dari rugi bersih perseroan senilai Rp 212 miliar pada kuartal IV-2019 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dengan laba bersih Rp 236 miliar.

“Realisasi kinerja keuangan Waskita Karya sepanjang tahun 2019 tersebut jauh di bawah perkiraan kami. Realisasi laba bersih tersebut hanya merefleksikan 43,7% dari target Danareksa Sekuritas. Sedangkan pencapaian pendapatan hanya merefleksikan 81,9% dari proyeksi Danareksa Sekuritas,” ungkap Maria.

Dia juga menyebutkan bahwa realisasi kontrak baru Waskita Karya tahun lalu tergolong rendah. Perseroan hanya mencetak kontrak baru Rp 25 triliun tahun 2019, dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 27,2 triliun.

Angka tersebut jauh di bawah pencapaian tahun 2016 mencapai Rp 70 triliun dan tahun 2017 senilai Rp 55,8 triliun. Penurunan kinerja keuangan, ungkap Maria, dipengaruhi atas penurunan margin laba kotor (gross margin) dari 18,2% menjadi 17,9% yang berimbas terhadap penurunan margin operasional perseroan dari 14,8% menjadi 12,6%.

Perseroan juga menunjukkan lonjakan utang menjadi Rp 70,8 triliun sampai akhir 2019, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 64,6 triliun. Peningkatan total utang juga berimbas terhadap lonjakan beban bunga perseroan tahun  lalu sebesar 47,2% menjadi Rp 3,6 triliun.

Realisasi utang tersebut setara dengan DER sekitar 2,43 kali. Perseroan juga mencetak penurunan pendapatan lainnya dari Rp 2 triliun tahun 2018 menjadi Rp 965 miliar.

Meski demikian, Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham WSKT dengan target harga Rp 1.200. Target harga tersebut telah mempertimbangkan penandatanganan divesasi sebanyak 40% saham tol Solo-Ngawi dan Ngawi-Kertosono akhir Desember 2019 kepada Road King Infrastructure Ltd. Perseroan berpotensi mendapatkan dana senilai Rp 2,4 triliun dari transaksi tersebut.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan pendapatan menjadi Rp 40,09 triliun dan laba bersih diharapkan mencapai Rp 2,23 triliun sepanjang tahun 2020.

Pembayaran Proyek

Salah satu proyek Waskita Karya. Foto: B1photo-Danung
Salah satu proyek Waskita Karya. Foto: B1photo-Danung

Sementara itu, Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan sebelumnya mengatakan, perseroan telah menerima pembayaran senilai Rp 6,2 triliun atau 51% dari total pembayaran yang disesuaikan dengan porsi atas kerja sama operasi dengan Acset Indonusa. Pencairan proyek Jakarta-Cikampek II (Elevated) merupakan salah satu target penerimaan kas masuk dari proyek turnkey perseroan.

“Tahun ini, Waskita menargetkan penerimaan pembayaran senilai Rp 10 triliun dari proyek yang dikerjakan dengan skema turnkey dan Rp 18,7 triliun dari proyek konstruksi lainnya,” kata Haris.

Tahun ini, Waskita menargetkan penerimaan dana masuk ke kas internal sekitar Rp 14,5 triliun. Dana tersebut akan berasal dari pembayaran proyek turnkey Rp 10 triliun dan pengembalian dana talangan tanah dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) senilai Rp 4,5 triliun.

Senior Vice President Corporate Secretary Waskita Karya Shastia Hadiarti menambahkan, dari total target pencairan turnkey, perseroan berharap segera mengantongi pembayaran dari proyek tol Jakarta- Cikampek II Elevated dengan nilai sekitar Rp 4,5 triliun dalam waktu dekat.

Perseroan juga mengkaji opsi penerbitan obligasi rupiah untuk memperkuat modal tahun ini. Namun, nilai penerbitan masih difinalisasi. “Kami lihat dulu situasi pasarnya ke depan,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN