Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) sepanjang Maret 2020 mengekspor berbagai produk pertanian dan perikanan ke berbagai negara seperti Amerika, Jepang, Taiwan, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) sepanjang Maret 2020 mengekspor berbagai produk pertanian dan perikanan ke berbagai negara seperti Amerika, Jepang, Taiwan, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.

Tekanan terhadap Japfa Belum Berakhir

Parluhutan Situmorang, Rabu, 20 Mei 2020 | 07:16 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) masih menghadapi tantangan berat di tengah pandemi Covid-19. Pandemi berpotensi menekan harga jual ayam dan pakan ternak yang bisa berimbas negatif terhadap kinerja keuangan perseroan hingga akhir tahun ini.

Sedangkan pencapaian kinerja keuangan Japfa sampai kuartal I-2020 telah melampaui perkiraan sejumlah analis. Realisasi yang baik tersebut didukung oleh keberhasilan perseroan mendongkrak volume penjualan dan berjalannya efisiensi biaya.

Analis Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, bisnis Japfa Comfeed diproyeksikan masih menghadapi tantangan berat akibat pandemi Covid-19 yang berujung pada anjloknya harga jual ayam di pasaran.

“Kami memperkirakan penurunan harga jual daging ayam terjadi lebih dalam pada kuartal II tahun ini. Penurunan lebih dalam dipengaruhi oleh dampak Covid-19 yang telah merembet ke semua semua daerah,” ungkap Victor dalam risetnya, baru-baru ini.

Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal
Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Sentimen negatif tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk memproyeksikan penurunan pendapatan Japfa menjadi Rp 33,26 triliun tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 36,74 triliun.

Laba bersih tahun ini juga diproyeksi turun menjadi Rp 404 miliar dibandingkan 2019 yang senilai Rp 1,76 triliun. Meski kinerja keuangan akan tertekan sepanjang tahun ini, saham JPFA tetap direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.000.

Target harga tersebut menggambarkan prospek bisnis perseroan ke depan. Targt harga tersebut juga menggambarkan bahwa harga saham JPFA telah turun dalam beberapa bulan terakhir, sehingga terbuka peluang untuk berbalik arah.

Terkait realisasi kinerja keuangan Japfa hingga kuartal I-2020, Victor menegaskan bahwa perolehan tersebut telah melampaui ekspektasi Danareksa Sekuritas. Pertumbuhan laba bersih Japfa didukung oleh tingginya margin keuntungan bisnis pakan ternak perseroan, seiring dengan penurunan beban produksi. Hal ini menolong anjloknya margin keuntungan perseroan dari bisnis ayam pedaging.

Hingga kuartal I-2020, perseroan mencetak kenaikan laba bersih sebesar 11% dari Rp 311 miliar menjadi Rp 344 miliar. Pendapatan juga tumbuh mencapai 6% dari Rp 8,56 triliun menjadi Rp 9,08 triliun. Perseroan mencetak kenaikan gross margin dari 16,6% menjadi 17,5% dan margin laba bersih tumbuh dari 3,6% menjadi 3,8%.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Emma A Fauni mengungkapkan bahwa Japfa erhasil menunjukkan kinerja memuaskan sepanjang kuartal I-2020 di tengah kondisi yang penuh tantangan. Keberhasilan perseroan dibuktikan oleh kemampuan dalam mengontrol beban operasional.

“Kami memperkirakan bahwa bisnis perseroan masih dinaungi tekanan pada kuartal II tahun ini, meskipun perseroan telah berhasil melalui kuartal pertama tahun ini dengan baik,” tulis dia dalam risetnya.

Pertumbuhan kinerja keuangan yang baik pada kuartal I-2020 ditambah banyaknya tantangan harus dilalui perseroan dalam beberapa kuartal mendatang mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan targetharga Rp 1.050.

Emma sebelumnya mengungkapkan, berlanjutnya penurunan harga daging ayam yang dipicu pelemahan daya beli masyarakat akibat pandemic Covid-19 bakal menjadi tantangan kinerja keuangan Japfa Comfeed pada 2020.

Sedangkan kuatnya margin keuntungan perseroan diharapkan menjadi faktor penopang tetap bertumbuhnya laba bersih tahun ini.

Menurut dia, harga daging ayam turun sejak Maret lalu. Rata-rata harga beli turun ke Rp 17 ribu per kilogram (kg). Penurunan harga kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan karantina mandiri akibat pandemic Covid-19 yang mengubah preferensi konsumsi masyarakat.

Pandemi tersebut telah mengakibatkan perubahan pola konsumsi masyarakat, yaitu konsumen lebih memilih untuk menimbun bahan makanan tahan lama. Konsumen menghindari berbelanja ke pasar basah.

“Memburuknya kondisi ekonomi juga dapat memperlemah daya beli masyarakat ke depan. Kebijakan fiskal pemerintah untuk menopang daya beli masyarakat tampaknya belum cukup untuk kalangan pekerja yang terdampak,” jelas Emma.

Menurut dia, pemerintah memang telah meluncurkan sejumlah kebijakan, seperti pemusnahan induk ayam untuk menahan kejatuhan harga unggas dalam tiga bulan terakhir.

Kebijakan tersebut seharusnya dapat mengangkat harga jual unggas pada kuartal I-2020, namun itu nampaknya belum bisa mengangkat harga jual daging ayam, apalagi ada wabah Covid-19.

Begitu juga dengan harga jual anak ayam usia sehari (DOC). Emma memperkirakan harga DOC melemah akibat penurunan permintaan pasar. Penjualan DOC menjadi penyumbang terbesar pendapatan hampir semua emiten peternakan ayam di dalam negeri. Penurunan permintaan DOC sejalan dengan belum pulihnya harga jual daging ayam di pasaran.

Terkait Ramadan pada kuartal II-2020, dia berharap momen itu seharusnya mampu mendongrak harga jual DOC dan ayam pedaging. Setelah itu, pada kuartal III-2020, harga bisa kembali melemah. Namun, sejak pandemic Covid-19 belum terlihat tanda-tanda pemulihan, harga jual daging ayam sudah turun bulan ini.

“Kami malah memperkirakan emiten peternakan dan pakan ternak akan kehilangan momentum pertumbuhan permintaan pada kuartal II tahun ini. Konsensus analis kemungkinan memangkas proyeksi kinerja keuangan emiten sektor ini,” jelas Emma.

Meski harga jual daging ayam belum pulih, bisnis penjualan pakan ternak diproyeksi cenderung stabil. Japfa juga diproyeksi mampu mengurangi efek buruk kenaikan harga bahan baku, sehinggatidak bakal menekan margin keuntungan penjualan pakan ternak.

“Kami memperkirakan penjualan pakan ternak bisa menjadi bantalan atas penurunan segmen ayam pedagingdan DOC tahun ini,” ungkap dia.

Segmen penjualan ayam pedaging berkontribusi sekitar 38,5% terhadap total pendapatan Japfa dibandingkan Charoen yang hanya 28,8% dan Malindo sebesar 11,3%. Namun, margin EBIT ayam pedaging Japfa pada kuartal II kemungkinan turun.

Meski menghadapi kejatuhan harga jual daging ayam, Japfa merupakan perusahaan peternakan yang terintegrasi. Perseroan memperluas segmen penjualan DOC dan ayam pedaging dengan tujuan mendongkrak permintaan pakan ternak yang bakal dijadikan sebagai pusat laba perseroan.

Strategi ekspansi pabrik pakan ternak di wilayah penghasil jagung untuk menekan biaya logistik juga menjadi keunggulan perseroan dibaningkan perusahaan pakan ternak lainnya.

Berbagai strategi tersebut membuat Japfa memiliki keunggulan untuk menopang efisiensi.

Strategi tersebut membuat margin keuntungan penjualan pakan ternak perseroan tertinggi dibandingkan emiten sejenis. Perseroan juga telah berinvestasi dalam jumlah besar dalam dua tahun terakhir yang diharapkan bisa membuat pertumbuhan lebih lanjut, khususnya investasi silo untuk menekan biaya bahan baku pakan ternak.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN