Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi menara telekomunikasi

Ilustrasi menara telekomunikasi

Transaksi Menara Marak, Saham Telekomunikasi Dinilai Menarik Diakumulasi

Mashud Toarik, Kamis, 31 Oktober 2019 | 17:34 WIB

Jakarta, Investor.id –Pamor saham-saham emiten telekomunikasi belakangan meredup bila dibandingkan sektor lain seperti perbankan maupun konsumer. Ini lantaran minimnya katalis positif yang bisa memicu pemodal melakukan akumulasi.

Berdasarkan catatan Bahana Sekuritas, sejak era diskon tarif berlalu, emiten-emiten telko nyaris tak dilirik pemodal. Namun kini, setelah sekian lama saham telekomunikasi tidak mendapat katalis positif berhembus kabar tentang divestasi menara yang dilakukan PT Indosat Tbk (ISAT) kepada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Sarana Menara Nusantara.

Bagi Bahana, kabar ini merupakan angin segar dan berdampak pada menggeliatnya hampir seluruh saham telko. 

Sebagai catatan, Indosat telah menjual total 3.100 menaranya, yang dibeli oleh PT Dayamitra Telekomunikasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Miratel sebanyak 2.100 tower dan sisanya 1.000 tower dibeli oleh PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Protelindo, yang dimiliki oleh PT Sarana Menara Nusantara, dengan total nilai pembelian mencapi Rp 6,394 triliun atau setara dengan Rp 2,063 miliar/tower.

Menurut Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi, hasil penjualan ini lebih premium dari transaksi penjualan menara yang dilakukan oleh PT XL Axiata pada 2016 silam, senilai Rp 1,43 miliar untuk setiap towernya. ‘

’Dengan keberhasilan transaksi ini, Indosat tidak perlu khawatir dengan masalah ketersediaan belanja modal dan melakukan ekspansi usaha untuk tahun depan serta mendapat valuasi asset yang positip,’’ papar Lucky.

Sehingga rekomendasi Beli diberikan untuk saham Indosat (ISAT) dengan target harga Rp 3.770/saham. Sekuritas milik negara ini memperkirakan pada akhir tahun ini, total pendapatan Indosat akan mencapai Rp 25,095 triliun, naik dibanding pencapaian akhir tahun lalu yang membukukan pendapatan sebesar Rp 23,14 triliun. Laba bersih diperkirakan akan berada pada kisaran negatif Rp 1,6 triliun, di luar laba dari penjualan menara, lebih baik bagi dari pencapaian tahun lalu yang tercatat sebesar negatif Rp 2,404 triliun.

Transaksi ini juga berdampak positif untuk PT Sarana Menara karena dengan pembelian menara ini, perusahaan berkode saham TOWR ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penyewaan menara Hutchinson, juga akan mengurangi konsentrasi basis pelanggannya dengan penambahan yang signifikan sewa Indosat dan Telkomsel. Bahana memperkirakan dengan pembelian ini, akan menambah pendapatan bersih sekitar Rp 49 miliar/tahun. Bahana memberi rekomendasi beli atas saham TOWR dengan target harga Rp 780/saham.

Hal yang sama juga berlaku bagi Miratel, dengan pembelian ini mengukuhkan Miratel sebagai perusahaan tower terbesar di Indonesia, yang memiliki lebih dari 27.000 menara, setelah pada awal tahun ini juga membeli 1.000 tower melalui akuisisi Persada Sokka Tama. Strategi ini akan membuat Telkom sebagai induk usaha memiliki kelebihan kas dan neraca keuangan yang semakin kuat ditengah-tengah tren penurunan suku bunga.

‘’Kedepan beberapa emiten telekomunikasi kemungkinan masih akan menjual menara lagi, namun waktunya belum dipastikan,’’ pungkas Lucky.

 

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA