Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Tren Kenaikan Volume dan Harga Cerahkan Vale Indonesia

Parluhutan Situmorang, Selasa, 13 Agustus 2019 | 10:39 WIB

JAKARTA, investor.id - Ekspektasi peningkatan volume produksi nikel dalam matte dan berlanjutnya kenaikan rata-rata harga jual akan berimbas terhadap pemulihan kinerja keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada semester II-2019. Hal ini mendorong sejumlah analis untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham perseroan hingga akhir tahun.

Analis Danareksa Sekurtias Stefanus Darmagiri mengatakan, kinerja keuangan Vale Indonesia diperkirakan pulih pada paruh kedua tahun ini didukung ekspektasi peningkatan volume produksi nikel.

“Ekspektasi perbaikan dari kuartal ke kuartal tersebut mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 4.400,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Ekspektasi pertumbuhan volume produksi, ungkap dia, juga diindikasikan keinginan manajemen Vale Indonesia untuk mendongkrak volume produksi pada semester II tahun ini. Peningkatan volume tentu didukung atas rampungnya pembangunan Larona Canal Lining dengan target produksi mencapai 71-73 ribu ton.

Pulihnya kinerja keuangan, ungkap dia, juga didukung atas tren kenaikan rata-rata harga jual nikel dalam beberapa bulan terakhir. Harga jual komoditas ini melonjak menjadi US$ 12.900 per ton periode Juni-Juli tahun ini. Harga kembali naik menjadi di atas US$ 14.000 per ton dalam beberapa hari terakhir, dibandingkan dengan Maret-Mei di level US$ 12.608 per ton.

“Pulihnya kinerja keuangan juga diharapkan datang dari berlanjutnya efisiensi biaya dengan target US$ 28,1 juta sepanjang tahun ini,” tulisnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan Vale Indonesia tetap meraih keuntungan tahun ini, meskipun realisasi semester I-2019 masih merugi. Laba bersih diestimasi turun dari US$ 61 juta menjadi US$ 48 juta. Pendapatan diproyeksikan turun menjadi US$ 748 juta tahun ini, dibandingkan perolehan tahun lalu US$ 777 juta.

Tren perbaikan volume produksi perseroan, ungkap dia, dapat dilihat dari kinerja operasional Vale sepanjang kuartal II-2019 dengan produksi nikel dalam matte sebanyak 17.631 mt yang berimbas terhadap kenaikan penjualan menjadi US$ 165,82 juta.

Produksi nikel dalam matte pada kuartal II-2019 lebih tinggi sekitar 35%, dibandingkan produksi pada kuartal I-2019. Pendapatan kuartal II-2019 juga tumbuh sekitar 31,16% dari kuartal I-2019 yang sebesar US$ 126,42 juta.

Kontribusi pendapatan tersebut berasal dari kenaikan penjualan nikel 22% menjadi 16.965 mt. Peningkatan penjualan nikel seiring dengan peningkatan harga nikel sekitar 7% menjadi US$ 9.774 per ton pada kuartal II-2019. Kendati terjadi kenaikan penjualan pada kuartal II-2019, pendapatan perseroan periode semester I-2019 masih mengalami penurunan menjadi US$ 292,25 juta, dibandingkan semester I-2018 mencapai US$ 374,61 juta.

Pelemahan tersebut akibat penurunan volume penjualan nikel pada semester I-2019 menjadi 30.832 mt dari 36.003 mt pada semester I-2018. Penurunan harga juga nikel menjadi US$ 9.479 per ton, dari US$ 10.405 per ton pada semester I-2018 juga ikut menekan kinerja keuangan perseroan semester I tahun ini. Hal ini berimbas terhadap kerugian perseroan sekitar US$ 26 juta, dibandingkan semester I-2018 dengan laba bersih sebesar US$ 29 juta.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA