Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu aktivias pertambangan Bukit Asam. Foto: DEFRIZAL

Salah satu aktivias pertambangan Bukit Asam. Foto: DEFRIZAL

Upaya Bukit Asam Pertahankan Laba

Jumat, 13 November 2020 | 09:19 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diyakini mampu untuk mempertahankan keuntungan hingga akhir tahun ini, meskipun volume dan rata-rata harga jual batu bara turun. Keuntungan tersebut ditopang oleh penurunan biaya penambangan dan harga batu bara global yang berangsur pulih.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya mengungkapkan, ekspektasi mulai membaiknya volume penjualan batu bara perseroan pada kuartal IV tahun ini dan efisiensi biaya penambangan diharapkan mendukung laba pada kuartal terakhir tahun ini.

Peningkatan volume penjualan batu bara Bukit Asam pada kuartal tersebut sejalan dengan target pertumbuhan permintaan dari pasar Tiongkok dan negara lain yang menjadi pasar baru perseroan.

Sedangkan penurunan biaya penambangan seiring pengurangan biaya pengangkutan kereta batu bara, dimana hal itu telah dibicarakan bersama PT Kereta Api Indonesia. Hingga kuartal III-2020, biaya penambangan berkontribusi sekitar 31% terhadap total biaya.

Sementara itu, mengenai pemberlakuan Omnibus Law UU Cipta Kerja, Stefanus menyebutkan bahwa UU tersebut akan berdampak pada pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% terhadap penjualan batu bara. Pengenaan pajak tersebut justru positif bagi perseroan, karena dapat memotong PPN keluaran dari PPN masukan.

Sedangkan kebijakan royalty 0% untuk industri hilir batu bara memang masih dalam kajian. Namun, kebijakan tersebut bisa berdampak positif bagi pembangkit listrik mulut tambang Bukit Asam. Aturan baru tersebut juga bisa berdampak positif bagi proyek gasifikasi batu bara perseroan.

Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 2.900. Target harga tersebut merefleksikan diversifikasi bisnis perseroan, seperti pembangkit listrik mulut tambang dan gasifikasi batu bara yang akan mendorong lonjakan volume produksi perseroan. Target harga tersebut juga merefleksikan perkiraan PE tahun 2021 sebesar 10,8 kali. Pun, mencerminkan perkiraan peningkatan laba bersih Bukit Asam menjadi Rp 3,04 triliun pada 2021 dibandingkan perkiraan tahun ini Rp 2,45 triliun dan realisasi 2019 senilai Rp 4,05 triliun.

Pendapatan juga diharapkan naik menjadi Rp 20,13 triliun pada 2021 dibandingkan proyeksi tahun ini Rp 17,35 triliun dan realisasi 2019 senilai Rp 21,78 triliun.

Di lain pihak, analis Sinarmas Sekuritas Richard Suherman justru merevisi turun target kinerja operasional dan keuangan Bukit Asam tahun ini. Pemangkasan tersebut berdasarkan performa keuangan perseroan hingga kuartal III-2020.

Adapun target pendapatan dan laba bersih Bukit Asam tahun ini masing-masing diturunkan dari Rp 18,51 triliun dan Rp 2,79 triliun menjadi Rp 16,85 triliun dan Rp 2,26 triliun. Begitu juga dengan perkiraan pendapatan dan laba bersih tahun 2021 yang masing-masing dipangkas dari Rp 20,83 triliun dan Rp 3,54 triliun menjadi Rp 19,71 triliun dan Rp 3,24 triliun.

“Melihat pencapaian kinerja operasional dan keuangan Bukit Asam hingga September, kami memilih untuk memangkas target pendapatan dan laba bersih perseroan pada 2020-2022. Namun, kami melihat bahwa pemulihan produksi dan penjualan batu bara perseroan akan berlanjut hingga beberapa kuartal ke depan, seiring dengan ekspektasi membaiknya pasar batu bara global setelah pandemic Covid-19 terkendali,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Sebab itu, Sinarmas Sekuritas merekomendasikan add saham PTBA dengan target harga Rp 2.300. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 8,1 kali dan tahun 2022 mencapai 6,9 kali.

Target tersebut juga mencerminkan katalis pulihnya harga jual batu bara yang didukung oleh kenaikan permintaan dari Tiongkok menjelang musim dingin, relaksasi PSBB, penurunan jumlah pasien Covid-19, dan vaksinasi.

Di Bawah Ekspektasi

Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST
Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Bukit Asam membukukan penurunan laba bersih sebesar 44,3% menjadi Rp 1,72 triliun hingga kuartal III-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 3,10 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan perseroan dari Rp 16,25 triliun menjadi Rp 12,84 triliun. Hal itu dipengaruhi oleh penurunan harga dan volume penjualan batu bara perseroan. Penurunan kinerja keuangan perseroan sejalan dengan pelemahan volume produksi batu bara dari 21,6 juta ton menjadi 19,4 juta ton.

Penjualan perseroan juga turun dari 20,6 juta ton menjadi 18,6 juta ton hingga September 2020. Begitu juga dengan rasio pengupasan tanah (stripping ratio) yang terpangkas dari 4,6 kali menjadi 4,4 kali.

Sedangkan rata-rata harga jual batu bara turun dari Rp 775,7 ribu per ton menjadi Rp 680,1 ribu per ton. Realisasi kinerja keuangan tersebut di bawah ekspektasi. Pencapaian pendapatan baru merefleksikan 74% dari target tahun ini dan laba bersih sekitar 71% dari target.

Sementara itu, Bukit Asam segera menandatangani proyek gasifikasi batu bara dengan Air Product and Chemical Inc beserta PT Pertamina pada November ini. Sebab itu, perseroan akan lebih ekspansif tahun depan dibandingkan tahun ini, dengan perkiraan belanja modal (capital expenditure/ capex) lebih dari Rp 2 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, saat ini pihaknya melakukan finalisasi draf legal kerja sama proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Proyek yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan itu dipastikan menjadi proyek prioritas yang digarap perseroan tahun depan.

“Kami akan tanda tangan dengan Air Product dan Pertamina pada November ini. Nilai investasi sekitar US$ 2,1 miliar akan masuk ke negara. Ini bukan hanya penting bagi Bukit Asam, tapi juga Indonesia di tengah pandemi,” kata dia.

Sesuai rencana, pabrik ini akan mengolah sebanyak 6 juta ton batu bara per tahun dan diproses menjadi 1,4 juta ton DME. Hasilnya, DME bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG).

Investasi sepenuhnya akan ditanggung Air Product selaku investor dan Pertamina bertindak sebagai_off taker_atau pembeli produk DME. Alhasil, tak ada biaya investasi signifikan yang dibebankan ke Bukit Asam karena perseroan bertugas memasok batu bara.

Di sisi lain, kata Arviyan, perseroan punya opsi mengambil sebagian saham mitra dalam proyek gasifikasi tersebut. Opsi ini bisa dieksekusi setelah pabrik beroperasi dan menghasilkan. Sebagai informasi, persiapan konstruksi proyek ini direncanakan dimulai pada pertengahan 2021 dengan target operasional tahun 2025.

“Memang jangka panjangnya proyek ini bentuknya buildoperate- transfer (BOT). Setelah 20 tahun, pabrik ini akan dimiliki konsorsium Bukit Asam dan Pertamina,” terang dia.

Lebih lanjut, proyek diversifikasi lain yang tengah disiapkan Bukit Asam adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Proyek PLTS akan dikembangkan di bandara, yang merupakan bentuk kolaborasi dengan PT Angkasa Pura II. Selain itu, PLTS akan dibangun di lahan bekas tambang perseroan, yakni Ombilin, Sumatera Barat.

Direktur Pengembangan Usaha Bukit Asam Fuad I. Z. Fachroeddin mengatakan, saat ini, perseroan mampu mengembangkan PLTS skala kecil di Bandara Soekarno- Hatta dan akan dilanjutkan dengan pengembangan PLTS di bandara milik AP II lainnya.

Adapun untuk PLTS di Ombilin direncanakan berkapasitas 200 megawatt (MW). Proses konstruksi bakal dilakukan dua tahap dengan tahap pertama sebanyak 100 MW. Perseroan menargetkan pembangunan PTLS bisa rampung pada 2023 atau 2024.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN