Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
wijaya karya

wijaya karya

Wika, Kontraktor Paling Menguntungkan

Parluhutan Situmorang, Selasa, 21 Januari 2020 | 21:07 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) diproyeksikan menjadi perusahaan kontraktor dengan tingkat pertumbuhan kinerja keuangan paling tinggi ke depan. Hal ini didasarkan solidnya kenaikan kontrak baru, neraca keuangan paling sehat, dan berlanjutnya investasi untuk memperkuat recurring incomes (pendapatan berulang).

Pandanan ekspektasi kuatnya pertumbuhan perseroan diberikan sejumlah analis, seperti Maybank Kim Eng Sekuritas, Danareksa Sekuritas, dan Sinarmas Sekuritas. Bahkan, ketiga anlis tersebut sepakat untuk menempatkan saham WIKA sebagaai pilihan teratas untuk saham sektor konstruksi yang layak dikoleksi investor.

Maybank Kim Eng Sekuritas menargetkan peningkatan laba bersih Wika menjadi Rp 2,15 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 2,10 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 1,72 triliun. Pendapatan juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 38,58 triliun tahun 2020, dibandingkan proyeksi tahun 2019 senilai Rp 30,74 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 31,15 triliun.

Proyeksi kenaikan kinerja keuangan tersebut didasarkan atas perkiraan perolehan kontrak baru perseroan mencapai Rp 61 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 54 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 50,56 triliun.

Sedangkan total kontrak yang ditangani (order book) diproyeksikan naik menjadi Rp 168,64 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 mencapai Rp 142,16 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 123,45 triliun.

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Arnanto Januri dan Isanaputra Iskandar mengatakan, Wika merupakan perusahaan konstruksi BUMN yang memiliki prospek tingkat pertumbuhan paling tinggi dan paling rendah dalam risiko keuangan. Hal ini didukung atas tesis perseroan mendapatkan keuntungan pesat dari proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, neraca keuangan yang sehat untuk mendukung investasi dan mengejar kontrak baru, dan mulai gencar untuk menghasilkan pendapatan berulang.

“Kami memperkirakan recurring incomes akan berkontribusi di atas 15% terhadap pendapatan tahun 2023, dibandingkan posisi saat ini masih di bawah 10%. Oleh karena itu, kami memberikan rekomendasi beli saham WIKA dengan target harga Rp 2.500,” tuturnya.

Sedangkan Danareksa Sekuritas memperkirakan perolehan kontrak baru perseroan bisa mencapai Rp 66,9 triliun tahun 2020 ditambah dengan kontrak lanjutn (carry over) berkisar Rp 102,9 triliun, sehingga total kontrak yang ditangani bisa mencapai Rp 169,8 triliun tahun ini.

Dengan perkiraan kenaikan kontrak baru tersebut, Danareksa Sekuritas berharap kinerja keuangan kontraktor pelat merah ini membukukan peningkatan kinerja keuangan. Laba bersih diharapkan mencapai Rp 2,71 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 20019 senilai Rp 2,25 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 1,73 triliun.

Pendapatan juga diharapkan melonjak menjadi Rp 44,77 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu Rp 35,76 triliun dan realsiaasi tahun 2018 mencapai Rp 31,15 triliun.

“Wika diprediksi tetap menjadi kontraktor BUMN dengan tingkat pertumbuhan paling pesat hingga tahun ini. Hal ini didukung atas proyek pengembangan kereta api cepat Jakarta-Bnadung dengan target progress mencapai 90% tahun 2020. Perseroan juga akan mendapatkan keuntungan dari pengerjaan proyek di luar negeri,” ujar analis Danareksa Sekuritas Maria Renata dalam riset tahunan yang dipublikasikan di Jakarta, belum lama ini.

Hal ini mendorong Danareksa Sekuritas untuk menetapkan saham WIKA sebagai pilihan teratas untuk sektor konstruksi dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 3.000 untuk 12 bulan mendatang.

Target harga tersebut juga menggambarkan progress pengerjaan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Outlook positif terhadap Wika juga diberikan tim riset Sinarmas Sekuritas.

Berdasarkan hasil reportnya, kontrak baru perseroan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 56,95 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu sebesar Rp 50,62 triliun atau tumbuh tipis dari realisasi tahun 2018 mencapai Rp 50,56 triliun.

Order book perseroan juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 169,28 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 sebesar Rp 143,76 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 123,51 triliun. Pertumbuhan tersebut diharapkan mendongkrak laba bersih perseroan menjadi Rp 2,16 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 2,06 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 1,73 triliun.

Sinarmas Sekuritas juga memberikan perkiraan pendapatan perseroan naik menjadi Rp 37,77 triliun tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 sebesar Rp 30,44 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 31,15 triliun.

“Kami menyukai Wika didukung atas kekonsistenan perseroan tetap outperform di sektornya. Hal ini mendorong saham WIKA sebagai pilihan teratas untuk sektor konstruksi dengan target harga Rp 2.510 per saham,” terang tim riset Sinarmas Sekuritas.

Pihaknya menyebutkan bahwa kontrak baru pembangunan MRT fase 2 dan LRT fase 2 dengan total Rp 10 triliun diharapkan menjadi penyumbang utama kontrak baru perseroan tahun ini. Perseroan juga diproyeksikan mendapatkan kontrak baru berlimbah dari pembangunan jalan tol tahun ini.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya sebelumnya mengatakan, Wika menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 11,5 triliun pada 2020. Dana ini akan digunakan untuk penyertaan modal di entitas bisnis dan pengembangan usaha perseroan.

Tahun ini, perseroan berencana mengembangkan beberapa proyek besar di bidang infrastruktur. Adapun proyek tersebut adalah proyek light railway transit (LRT) lanjutan di Jakarta, jalan tol di Jawa Tengah dan pengembangan pelabuhan di Indonesia Timur. "Masing-masing nilai proyeknya adalah Rp 3 triliun," kata dia.

Selain itu, perseroan juga mengembangkan beberapa proyek di luar negeri seperti di Aljazair, Nigeria, Malaysia, Taiwan dan Timor Leste. Mahendra mengungkapkan, perseroan juga akan memulai proyek mixed use building di Senegal dan pembangunan jembatan di Filipina. Hingga September 2019, perseroan berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp 25,7 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA