Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Foto: Perseroan.

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Foto: Perseroan.

Wika Masih Butuh untuk Pulih

Selasa, 20 April 2021 | 04:29 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) bakal menunjukkan pemulihan tahun ini, karena didukung oleh peningkatan anggaran infrastruktur oleh pemerintah. Namun, pemulihan tersebut diperkirakan cenderung lambat, sehingga proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tahun ini direvisi turun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Joshua Michael mengungkapkan, performa operasional dan keuangan Wika tahun ini belum akan seperti sebelum pandemi Covid-19.

“Kami memperkirakan pemulihan bisnis konstruksi datang dari peningkatan anggaran infrastruktur pemerintah,” tulis dia dalam risetnya.

Mengenai marjin keuntungan, Joshua memperkirakan lebih rendah dari ekspektasi semula. Sebab itu, proyeksi marjin kotor Wika tahun ini dipangkas menjadi 10,4% dari 12,2%. Proyeksi marjin laba bersih diturunkan menjadi 1,6% dari 1,8%.

Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto:  Investor Daily/DAVID
Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID

Pemangkasan proyeksi marjin keuntungan tersebut mendorong Mirae untuk merevisi turun perkiraan laba bersih Wika tahun ini menjadi Rp 358 miliar dari Rp 393 miliar. Proyeksi tersebut mengesampingkan pendapatan di luar operasional.

Pemulihan kinerja keuangan Wika diperkirakan berlanjut pada 2022 dengan proyeksi pendapatan Rp 26,2 triliun dan marjin kotor mencapai 11%.

Laba bersih diharapkan melonjak menjadi Rp 714 miliar.

Adapun target kontrak baru dan total kontrak yang dihadapi perseroan tahun ini diestimasi masing-masing sebesar Rp 30,1 triliun dan Rp 97 triliun. Nilai kontrak baru tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan manajemen yang mencapai Rp 40,1 triliun.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi turun target harga saham WIKA menjadi Rp 1.550 dari semula Rp 1.800. Rekomendasi dipertahankan hold.

Tahun ini, laba bersih Wika diperkirakan meningkat menjadi Rp 358 miliar dibandingkan realisasi 2020 yang senilai Rp 186 miliar. Pendapatan perseroan juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 21,69 triliun dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 16,53 triliun.

Harga saham WIKA dalam satu dekade terakhir, prospek WIKA, dan kinerja keuangan Wijaya Karya
Harga saham WIKA dalam satu dekade terakhir, prospek WIKA, dan kinerja keuangan Wijaya Karya

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, kehadiran Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) menjadi katalis positif bagi Wi ka. Selain itu, pengembangan aspal alam bakal turut mendukung kinerja perseroan.

Berdasarkan hasil pertemuan dengan manajemen Wika terungkap bahwa BUMN konstruksi itu memiliki sejumlah faktor positif yang dapat menopang kinerja keuangan ke depan.

Salah satunya, ekspansi bisnis aspal Buton melalui PT Wika Bitumen dengan target commissioning pabrik percontohan pada April tahun ini.

“Perseroan sedang menyiapkan proyek percontohan produksi aspal alam. Jika produk ini berjalan lancar, Wika Bitumen akan mulai menjual aspal ekstrak tahun ini. Pabrik percontohan tersebut memiliki kapasitas 25-50 ton aspal alami per tahun,” tulis Maria dalam risetnya.

Apabila proyek percontohan ini berjalan lancar, dalam dua tahun mendatang, Wika Bitumen akan menaikkan kapasitas produksi menjadi 200-300 ribu ton per tahun atau merefleksikan 21% kebutuhan domestic dan ditargetkan meningkat menjadi 50% atau sekitar 700 ribu ton per tahun dalam jangka panjang.

Berdasarkan data, permintaan aspal di dalam negeri mencapai 1,4 juta ton per tahun dengan suplai terbanyak mencapai 40% berasal dari Pertamina dan sisanya sebanyak 60% diimpor. Jenis aspal yang dihasilkan Pertamina dan diimpor menggunakan residu bahan bakar minyak, berbeda dengan produk Wika Bitumen.

Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA
Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Perseroan juga membuka peluang ekspor produk aspal alam tersebut. Margin penjualan aspal ekstrak dipe lebih tinggi dibandingkan aspal alam. Ekspansi bisnis ini diharapkan bisa berkontribusi minimal sekitar 10% terhadap total pendapatan perseroan dalam jangka panjang.

Selain ekspansi tersebut, menurut Maria, INA akan mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia, seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara. Hal ini bisa berdampak pada peningkatan kontrak baru Wika.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham WIKA dengan target harga Rp 2.700. Target harga tersebut mempertimbangkan potensi peningkatan laba bersih Wika menjadi Rp 788 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 146 miliar.

Begitu juga dengan pendapatan diharapkan melonjak menjadi Rp 23,61 triliun dari target 2020 yang senilai Rp 14,18 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN