Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teknisi merawat BTS dengan latar belakang Gedung XL Axiata di Jakarta. (IST)

Teknisi merawat BTS dengan latar belakang Gedung XL Axiata di Jakarta. (IST)

XL Axiata Hadapi Penurunan Daya Beli Masyarakat

Parluhutan Situmorang, Selasa, 30 Juni 2020 | 04:33 WIB

JAKARTA, investor.id - Penurunan daya beli masyarakat diperkirakan memperlambat pertumbuhan pendapatan PT XL Axiata Tbk (EXCL) pada semester IItahun ini. Meski demikian, laba bersih perseroan diproyeksi melesat berkat hasil divestasi menara telekomunikasi.

Analis Mirae Asset Sekuritas Lee Young Jun mengungkapkan, berdasarkan hasil pembicaraan dengan manajemen XL di Indonesia dan induk usahanya, Axiata Group, terungkap bahwa pertumbuhantrafik data telekomunikasi perseroan diperkirakan lebih lambat pada semester II tahun inidibandingkan semester I-2020.

Hal itu terjadi setelah pemerintah merelaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). “Kami memperkirakan pendapatan XL turun tipis tahun ini, namun laba bersih bisa melonjak hingga 112,8% yang ditopang oleh keuntungan dari penjualan menara telekomunikasi dan pengendalian biaya,” tulis Young Jun dalam risetnya, baru-baru ini.

XL juga akan menghadapi tantangan berat dalam menaikkan imbal hasil penjualan data dan menarik pengguna baru akibat penurunan daya beli masyarakat. Konsumen berpotensi menekan belanja data dengan perkiraan penurunan yield data sebesar 1,7% dan penurunan pengguna baru sebesar 1,9% tahun ini.

Terkait peluncuran paket data unlimited dengan harga murah, menurut Young Jun bahwa permintaan data tersebut sangat tergantung situasi pasar,sehingga keputusan untuk melanjutkannya disesuaikan dengan hasil pemantauan.

Meski demikian, yield penjualan data ini tidak atraktif bagi perseroan. “Kami juga melihat bahwa penjualan produk tersebut tidak akan menjadi trigger baru perang tarif pada kemudian hari,” jelas dia.

Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)
Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)

Young Jun memprediksi bahwa XL kemungkinan tidak melaksanakan aksi merger dan akuisisi, meski opsi tersebut selalu menjadi pilihan perseroan dalam menambah nilai perusahaan. “Namun, kami berpikir bahwa aksi tersebut tidak akan terealisasi dalam waktu dekat, khususnya pada semester II tahun ini, akibat perlambatan bisnis setelah pandemic Covid-19,” sebut dia.

Selain itu, tidak mudah untuk menggabungkan isu spektrum perusahaan yang diakuisisi, karena terbentur dengan aturan. Berbagai faktor  tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham EXCL dengan target harga Rp 3.720. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan EV/EBITDA perseroan sekitar 5,2 kali tahun ini.

Target harga tersebut jugamempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih XL menjadi Rp 1,51 triliun tahun ini dibandingkan pencapaian tahun lalu Rp 713 miliar. Sedangnkan pendapatan perseroan diperkirakan turun tipis dari Rp 25,13 triliun menjadi Rp 25,08 triliun.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam riset sebelumnya menyebutkan bahwa XL telah menunjukkan kinerja keuangan yang baik sepanjang kuartal I-2020 karena didukung oleh positifnya penjualan data dan layanan lainnya.

Perseroan menunjukkan volume penjualan data meningkat sebesar 41% pada kuartal I-2020dibandingkan periode sama tahun lalu. Kenaikan penjualan tersebut juga setara dengan 7% dari kuartal terakhir tahun lalu.

Meski demikian, perseroan meyakini bahwa pandemi Covid-19 bisa berimbas negative terhadap belanja telekomunikasi kelas bawah hingga akhir tahun ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan penurunan laba bersih XL menjadi Rp 423 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 713 miliar. Pendapatan perseroan diperkirakan naik dari Rp 25,13 triliun menjadi Rp 26,13 triliun.

Daya Beli

Penurunan daya beli masyarakat sejalan dengan perkiraan peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan. Hal itu bisa menjadi faktor penekan lebih lanjut pertumbuhan emiten telekomunikasi sepanjang tahun ini.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa tren peningkatan trafik data telekomunikasi akan terganggu penurunan daya beli masyarakat dalam jangka menengah.

Setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia terlihat data peningkatan jumlah pengangguran. Diperkirakan, jumlah pengangguran melonjak tahun ini. Kementerian Keuangan memperkirakan angka pengangguran bisa meningkat dari 5% menjadi sekitar 7,3-9% tahun ini.

Sedangkan Bank Dunia memperkirakan bahwa jumlah penduduk miskin Indonesia berpotensi naik menjadi 11% tahun ini dibandingkan tahun lalu yang mencapai 9%. Pertumbuhan produk demestik bruto (PDB) diperkirakan hanya tumbuh sebesar 2,1% tahun ini. Sejumlah faktor tersebut diperkirakan menekan belanja telekomunikasi masyarakat.

“Kami memperkirakan pertumbuhan trafik data telekomunikasi akan kembali normal pada semester II tahun ini setelah terjadi lonjakan berkisar 40-64% pada kuartal I-2020 yang didukung oleh penerapan bekerja dari rumah,” ungkap analis

Teknisi merawat BTS XL Axiata. (IST)
Teknisi merawat BTS XL Axiata. (IST)

Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun dalam risetnya. Terkait fokus operator telekomunikasi pada paruh kedua tahun ini, dia mengungkapkan bahwa itu tetap pada peningkatan pangsa pasar dan peningkatan rata-rata penggunaan per nomor (ARPU) dengan menciptakan kompetisi yang sehat.

Sedangkan iklim persaingan bisnis telekomunikasi diperkirakan tetap sehat tahun ini dengan perkiraan pertumbuhanpendapatan cenderung mendatar.

Berdasarkan hasil diskusi dengan sejumlah operator telekomunikasi, menurut dia, mereka tidak akan menciptakan kompetisi yang tidak penting di tengah situsasi seperti sekarang ini. Hal ini membuat tingkat perang harga kemungkinan tidak terjadi tahun ini, seperti yang melanda industri ini pada 2018. “Kami memperkirakan harga paket data telekomunikasi tetap stabil sepanjang semester II tahun ini,” jelas dia.

Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor telekomunikasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN