×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Sumatera, Mesin Baru Ekonomi

(gor/ant), Jumat, 8 Maret 2019 | 08:49 WIB

Babak baru Sumatera dimulai. Tak hanya kini merebut status pemilik tol terpanjang di Indonesia, yang akan diresmikan Jokowi Jumat (8/3), pulau ini dipastikan bisa segera memasuki era industri. Infrastruktur jalan bebas hambatan untuk konektivitas utama itu bakal menarik masuk banyak industri berbasis sumber daya yang luar biasa. Kebangkitannya sebagai mesin baru andalan ekonomi nasional pun sudah di ambang mata.

Pasalnya, sumber daya alam Sumatera nantinya tak lagi sekadar dikirim untuk memasok pulau lain, namun dipastikan akan bisa diolah lebih lanjut di industri pengolahan yang akan dikembangkan di pulau dekat Benua Asia tersebut. Selama ini, pasokan bahan baku dari Sumatera lebih banyak digunakan untuk industri di Jawa, yang infrastrukturnya sudah dibangun jauh lebih baik.

Didukung infrastruktur yang sudah banyak dibangun, Jawa bisa menjadi pusat industri selama puluhan tahun dan menikmati kehidupan yang lebihmakmur. Ini bisa diindikasikan dengan besarnya porsi produk domestik bruto (PDB) yang dihasilkan Jawa, mencapai 58,48% dari PDB RI yang totalnya Rp 14.837,4 triliun. Sementara itu, PDB Sumatera yang banyak memasok bahan baku dan energi ke Jawa hanya sebesar 21,58%.

Padahal, Sumatera merupakan kontributor berbagai komoditas utama Indonesia. Ini misalnya kelapa sawit, kopi, kakao, kayu, karet, batu bara, migas, besi, timah, dan aluminium. Namun demikian, karena infrastruktur di Sumatera belum sebaik Jawa, maka itulah wilayah tersebut masih banyak menggantungkan diri pada komoditas, terutama dari sektor pertanian.

Sektor pertanian ini penyumbang terbesar PDB Sumatera, dengan kontribusi sekitar 22%. Potensi Sumatera yang luar biasa namun belum dikembangkan optimal tersebut sebenarnya sudah disadari pemerintahan sebelumnya, namun tidak ada langkah konkret yang berarti. Padahal, negara-negara lain pun menyadari besarnya potensi Sumatera dan tergiur menggarapnya.

Ini misalnya Malaysia, yang berkali-kali mengajukan proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan Dumai di Sumatera dengan Malaysia sepanjang 50 km, agar kekayaan bahan baku dan energinya mengalir ke negara jiran itu. Tak hanya Malaysia, bahkan Bank Export-Import (Exim) RRT sudah sempat mengumumkan setuju mendanai 85% dari total pembiayaan jembatan yang diperkirakan sekitar US$ 13 miliar itu.

Oleh karena itu, pemerintah RI harus mempercepat pembangunan infrastruktur-infrastruktur transportasi dan penunjang industri di Sumatera. Ini tidak hanya harus dibangun oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wapres Jusuf Kalla (Jokowi- JK) 2014-2019, namun juga oleh siapa pun presiden terpilih berikutnya.

Salah satu infrastruktur sangat strategis yang tengah dibangun di Sumatera adalah Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.700 km, yang ditargetkan rampung seluruhnya pada 2024. Tol yang dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) itu total investasi pembangunannya mencapai Rp 476 triliun.

Saat ini, BUMN karya tersebut sudah selesai membangun 180 km dari Tol Trans Sumatera, termasuk ruas sepanjang 140 km Bakauheni-Bandar Lampung-Terbanggi Besar (Bakter) yang akan diresmikan Presiden Jokowi hari ini. Artinya, Bakter menjadi tol terpanjang di Nusantara, menggeser posisi tol Cikopo–Palimanan (Cipali) di Jawa sepanjang 116,75 km yang diresmikan Jokowi pada 2015, yang kini melorot ke posisi kedua.

The Center for Sustainable Infrastructure Development UI menganalisis, proyek JTTS itu bisa meningkatkan penghasilan masyarakat, dengan kontribusi paling besar diberikan pengembangan rest area (34,39%). Berikutnya, pengembangan tourism park (32,54%), integrasi jaringan rel kereta api (19,06%), integrasi dry port (12,38%), integrasi jalur sepeda motor (0,92%), dan jaringan serat optic (0,71%).

Namun demikian, tentu saja pembangunan infrastruktur transportasi vital itu tidak akan optimal jika tidak ada industri yang segera dibangun masif di wilayah itu. Oleh karenanya, pembangunan industri juga harus segera digeber di Sumatera, untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dihasilkan wilayah ini dan mengoptimalkan multiplier effect pembangunan infrastruktur yang mahal.

Pemerintah harus memberikan fasilitasi dan insentif yang lebih menarik untuk pengembangan industri di kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan industri (KI) yang sudah ditetapkan sebagai proyek strategis nasional, maupun enam KI lain yang punya potensi besar di Sumatera.

Kawasan itu totalnya mencakup KI Dumai, KI Bengkalis, KI Jambi Kemingking, KI Way Pisang, KI Kuala Tanjung, KEK Lhokseumawe, KI Tanggamus, KI Tanjung Buton, dan KI Tenayan. Selain itu, KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Kelayang, dan KEK Tanjung Api-Api.

Pembangunan infrastruktur dan industri di Sumatera itu tak hanya bakal mendorong multiplier ef fect pengelolaan potensi dan sumber daya setempat. Hal ini juga dipastikan bakal berdampak positif bagi kepentingan nasional.

Pasalnya, Tol Trans Sumatera yang menghubungkan kota-kota di Sumatera --dari Aceh hingga Lampung—juga akan menempatkan Indonesia sebagai bagian dari Asian Highway Network (AHN). AHN ini merupakan jaringan transportasi darat sangat strategis di Asia, yakni jalan raya bebas hambatan berstandar internasional sepanjang 141.000 km yang melintasi 32 negara.

Konektivitas dengan Asia itu tentu berdampak luar biasa, termasuk bakal memperbaiki peringkat indeks kemudahan berusaha Indonesia (Index of Ease of Doing Business) yang masih di posisi ke-91, meski sudah lebih baik dari posisi pada 2017 yang ke-106. Indeks daya saing Indonesia juga bisa naik dari peringkat saat ini ke-36.

Demikian pula logistic performance index (LPI) RI akan membaik, dibanding posisi ke-46 pada 2018, dari 160 negara yang disurvei. LPI antara lain diukur dari meningkatnya indicator ketepatan waktu (timeliness), di mana RI masih menduduki peringkat ke-41 dunia.

Selain itu, dengan Sumatera nanti menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang baru melengkapi Jawa, maka laju pertumbuhan ekonomi ke depan bisa 6-7%, tidak lagi terjebak hanya di angka sekitar 5%.

Sumbangan sektor industri pengolahan terhadap PDB kita juga bakal menguat, sehingga memperkokoh struktur perekonomian nasional, yang kini masih banyak tergantung pada sektor komoditas yang rawan tertekan gejolak global. Artinya, prospek yang sangat cerah negeri ini tentunya meningkatkan kepercayaan investor untuk masuk, baik lewat investasi langsung maupun portofolio. (*)

BAGIKAN

Terkini

Jokowi: 4,5 Tahun Saya Diam, Sekarang Lawan

Senin, 25 Maret 2019 | 08:16 WIB

Trans Snow World Bekasi Hadirkan Permainan Salju

Senin, 25 Maret 2019 | 08:05 WIB

Jokowi Janji Terbitkan Tiga Kartu untuk Masyarakat

Minggu, 24 Maret 2019 | 23:35 WIB