BPPT Boyong Teknologi Rumah Tahan Gempa ke Lombok i

Ilustrasi rumah ramah lingkungan dan tahan gempa.

Oleh : / FER | Jumat, 31 Agustus 2018 | 15:22 WIB

Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan memboyong teknologi rumah tahan gempa yang dikembangkan berbahan komposit sandwich ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Direktur Pusat Teknologi Material BPPT, Mahendra Anggaravidya, mengatakan Pusat Teknologi Material (PTM) membuat inovasi rumah ini dengan konstruksi dan materialnya ramah terhadap gempa.

"Rumah ini disusun per panel, kalaupun roboh tidak mencelakai penghuni. Karena material ringan yang terbuat dari komposit sandwich, kalaupun ada yang jatuh menimpa berat panel hanya dua kilogram (kg) saja jadi tidak begitu berbahaya," kata Mahendra, di Jakarta, Jumat (31/8).

Mahendra menjelaskan, posisi rumah ini disambung dalam ikatan yang utuh, jadi ketika terkena beban gempa, sambungan tersebut tidak tercerai berai, atau tidak terjadi roboh.

"Bahannya sandwich panel buatan BPPT yang bermitra dengan industri lokal. Dalam hal ini BPPT berperan dalam memformulasikan bahan komposit, lalu menyusun desain dan di produksi massal oleh industri lokal, jadi hampir 80 persen TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri)," ujarnya.

Dari uji simulasi beban gempa menunjukkan, setelah Simulasi Percepatan 2,28 G dalam frekuensi 0,1-10 Hz dengan metode (spectrum) serta kombinasi beban mati, hidup dan angin. Hasil simulasi dan analisis struktur menggunakan SAP2000, menunjukkan struktur tetap aman dengan kombinasi frame dan sandwich.

Meski ini sifatnya simulasi, PTM BPPT tengah membuat permodelan bertipe 21 dan 36 rencananya untuk dibawa ke Lombok. Pembangunan rumah komposit ini membutuhkan waktu satu minggu per unit, lanjut Mahendra.

Untuk itu, kata Mahendra, dibutuhkan sinergi dari pemangku kepentingan seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk segera dipasang di Lombok. Hal ini penting untuk membuktikan bahwa model rumah tersebut memang kokoh dan layak huni di wilayah gempa.

"Selain itu juga kami inginkan ada dukungan khusus yang sifatnya pendanaan, khususnya untuk memperbanyak jumlah unit yang akan dijadikan bantuan," ujar dia.

Menurut Mahendra, satu unit rumah dirinci olehnya, membutuhkan anggaran sekitar Rp 40 jutaan untuk rumah komposit tipe 21. Sedangkan untuk tipe 36 akan menghabiskan dana Rp 70 jutaan per unitnya.

"Selain kedua tipe tersebut, kami juga bisa membuat ukuran yang di kustom dengan biaya per meter dua jutaan. Bisa untuk ukuran besar untuk pembuatan fasilitas umum seperti Puskesmas atau tempat ibadah," urainya.

Intinya, kata Mahendra, pihaknya yakin bahwa rumah komposit ini harusnya dapat menjadi model untuk diterapkan di wilayah rawan gempa.

"Rumah komposit inovasi BPPT ini patut menjadi perhatian pemangku kepentingan. Agar dapat di perbanyak di wilayah rawan gempa di seluruh Indonesia," lanjutnya.



Selengkapnya
 
MORE STORIES