Proyek 1 Juta Atap Tenaga Surya Dorong Kemandirian Energi i

Pembangunan pembangkit Listrik tenaga surya tipe atap sebesar 500 KW yang merupakan salah satu contoh konkrit kontribusi dari sektor industri swasta didalam penggunaan energi yang ramah lingkungan.

Oleh : Ari Supriyanti Rikin / JAS | Rabu, 5 Sepember 2018 | 15:01 WIB
Kategori :

Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendorong gerakan 1 juta atap surya yang menghasilkan energi listrik dari energi matahari semakin masif. Hal ini layak dilakukan agar Indonesia memiliki kemandirian energi dari diversifikasi energi yang dimiliki.

Dikaruniai iklim tropis, potensi sinar matahari yang bisa disimpan menjadi energi sangat besar. Hanya saja, perangkat penyimpanan energi matahari berupa teknologi solar photovoltaic atau sel surya belum masif dipasang dan digunakan.

Deputi Bidang Teknologi Pengkajian Kebijakan Teknologi BPPT Gatot Dwianto mengatakan, pemanfaatan energi surya dengan menggunakan teknologi solar photovoltaic atau sel surya menjadi salah satu sumber energi pilihan.

"Teknologi ini diharapkan mampu menjadi pilihan untuk menggantikan sumber energi primer untuk dikonversi menjadi tenaga listrik," katanya di Jakarta, Rabu (5/9).

Direktur Pusat Pengkajian Industri Manufaktur Telematika dan Elektronika BPPT Andhika Prastawa mengungkapkan, gerakan 1 juta surya atap itu dicanangkan tahun 2017. Hingga saat ini baru 600 rumah di Pulau Jawa dengan kapasitas sekitar 5 kilowatt per rumah. Nilai tersebut setara dengan listrik kapasitas 1.300 watt.

"Solar roof top atau surya atap bisa digabung dengan listrik PLN. Siang hari, listrik yang disimpan di sel surya bisa didistribusikan ke PLN, sehingga biaya pembayaran listrik pemilik sel surya bisa dikurangi sebesar listrik yang dikirim ke PLN," katanya.

Andhika menjelaskan, untuk 5 kilowatt membutuhkan lahan sekitar 50 meter persegi. Nilai pemasangan hingga beroperasinya sekitar 15 juta.

Namun kekuatan teknologi ini mencapai 25 tahun. Dalam waktu 8 tahun, bisa kembali modal. Artinya listrik yang diserahkan rumah tangga pada siang hari dari sel surya ke PLN, bisa dihargai seharga tarif dasar listrik Rp 1.400 per kilowatt misalnya.

"Saat musim kemarau, sinar matahari yang disimpan bisa 4-6 jam. Sedangkan saat musim hujan bisa 2-3,5 jam," ucap Andhika.

Diharapkan dengan lahirnya peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral nantinya bisa memperkuat aturan penerapan dan pemanfaatan tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sel surya pun diharapkan dapat ditingkatkan sehingga tidak bergantung pada impor.

Selain mendorong bauran energi dan memaksimalkan energi baru terbarukan. Energi matahari juga mampu menekan emisi yang terlepas ke udara.



Selengkapnya
 
MORE STORIES