idEA Sikapi Pembatasan Barang Impor di E-Commerce i

Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung.

Oleh : Herman / FER | Kamis, 6 Sepember 2018 | 18:43 WIB

Jakarta - Dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus tertekan, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan, salah satunya terkait pembatasan barang impor di e-Commerce dengan menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 untuk barang-barang impor konsumsi hingga 10 persen.

Terkait kebijakan tersebut, Wakil Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Mohamad Rosihan menyampaikan, pada prinsipnya idEA dan anggota-anggotanya harus mendukung berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam upaya menstabilkan neraca perdagangan. Namun, idEA juga membutuhkan data seberapa besar sebenarnya pengaruh barang-barang impor yang dijual di e-Commerce terhadap kondisi yang saat ini dialami Indonesia.

"Kita butuh data, berapa besar sih nilai barang-barang impor yang ada di e-Commerce. Kalau memang sedikit, ya kita akan dukung-dukung saja (regulasi pembatasan barang impor). Tapi kalau ternyata jumlahnya besar, kita sangat terbuka untuk mendiskusikan hal ini. Tapi menurut feeling saya, nilainya itu tidak terlalu besar. Yang besar itu barang-barang untuk keperluan infrastruktur, bukan barang ritel yang ada di e-Commerce," kata Rosihan, di Jakarta, Kamis (6/9).

Ditambahkan oleh Ketua Umum idEA, Ignatius Untung, definisi mengenai barang-barang impor juga harus diperjelas. Sebab di industri e-Commerce, ada beberapa jalur yang bisa dipilih oleh konsumen untuk mendapatkan barang-barang impor.

Pertama adalah barang-barang impor yang dikirim langsung oleh e-Commerce di luar negeri kepada konsumen di Indonesia. Kedua, barang impor yang dijual oleh pedagang di luar negeri melalui platform yang ada di Indonesia. Dan ketiga, barang-barang impor yang sudah ada di Indonesia yang diimpor langsung oleh para importir untuk dijual di markertplace atau e-Commerce.

"Kalau yang disoroti adalah pedagang asing yang berjualan di e-Commerce lokal, sebenarnya jumlahnya itu tidak banyak kok. Kalau saya amati, hanya ada sekitar lima pemain saja. Artinya kalau memang dibatasi, itu tidak akan terlalu berdampak pada industri e-Commerce di Indonesia," tutur Untung.

Di sisi lain, Untung melihat kebijakan penaikan pajak barang impor juga bisa memberi dampak positif. Salah satunya memberi kesempatan pada produk-produk lokal untuk lebih bisa dipilh konsumen. "Di saat harga produk-produk impor naik karena pajaknya dinaikkan, produk lokal bisa mengambil kesempatan di situ," ujar Untung.



Selengkapnya
 
MORE STORIES