ICCED 2018 Bahas Inovasi di Era Teknologi Disrupsi i

Para peserta dan pembicara pada Internasional Conference on Computing and Engineering and Design (ICCED 2018) berfoto bersama seusai acara di Asian Institute of Technology (AIT), Bangkok, Thailand, Sabtu, 8 September 2018.

Oleh : Asni Ovier / AO | Sabtu, 8 Sepember 2018 | 18:38 WIB
Kategori :

Bangkok - Inovasi teknologi dan kreativitas guna menunjang keberlanjutannya di era teknologi disrupsi menjadi topik hangat dalam Internasional Conference on Computing and Engineering and Design (ICCED 2018). ICCED 2018 merupakan konferensi keempat dan diselenggarakan di Asian Institute of Technology (AIT), Bangkok, Thailand, pada 6-8 September 2018.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (8/9), dikatakan, konferensi tersebut dibuka oleh Duta Besar dan Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Thailand, Ahmad Rusdi, dan Presiden AIT Eden Woon. ICCED 2018 relevan dengan kebutuhan untuk mencapai agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan.

Seperti diketahui, sains, teknologi, dan inovasi (STI) memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan menciptakan manfaat bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan. “Inovasi yang dieksplorasi dan disajikan dalam makalah ICCED 2018 perlu dikembangkan dan disebarluaskan, sehingga akan memberikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia,” ujar Dubes Ahmad Rusdi.

Sementara, Woon menyebutkan, tema ICCED 2018 sangat selaras dengan apa yang sedang berlangsung saat ini dan yang akan berlangsung di masa depan, yaitu era disrupsi. Presiden AIT itu berharap agar pada masa depan banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkn studi di AIT atau di universitas lain di Thailand.

Di dunia akademis, kata dia, teknologi disrupsi berarti teknologi yang mengganggu teknologi lain. “Kita perlu mempersiapkan keterampilan abad ke-21 dalam pendidikan, terutama kompetensi dalam memecahkan masalah rumit, berpikir kritis, dan kreativitas,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Rektor Universitas Nusa Putra, Kurniawan mengatakan, ICCED juga dimaksudkan untuk membuka wawasan para mahasiswa dan staf pengajar di universitasnya untuk go global dan lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan masyarakat internasional.

Pakar remote sensing (RS) dan geographical information system (GIS) dari Asian Institute of Technology, Nithin Kumar menyajikan data and hasil penelitian yang sangat menarik. Nithin menunjukkan bagaimana teknologi GIS dan ICT secara umum mampu membantu pencegahan meluasnya penyakit-penyakit berbahaya, seperti kanker paru-paru.

Dia juga menyajikan peran GIS yang dapat memilih tempat tinggal yang sehat berdasarkan pada informasi keadaan lingkungan, histori data tentang penyakit di area tersebut, dan level perubahan iklim yang terjadi.

ICCED 2018 dihadiri oleh peserta dari 35 institusi dan universitas dari 10 negara, yaitu Australia, Indonesia, Malaysia, Nigeria, Oman, Pakistan, Moroko, Tiongkok, Vietnam, and Arab Saudi. ICCED 2018 diselenggarakan atas kerja sama antara Universitas Nusa Putra, Universitas Sampoerna, dan KBRI Bangkok.



Selengkapnya
 
MORE STORIES