Menu
Sign in
@ Contact
Search

Solusi Digital Dongkrak Pendapatan Bank Ritel

Selasa, 7 Juni 2016 | 07:02 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Cisco merilis hasil penelitian global terbarunya yang berjudul Roadmap Digital Value di Industri Ritel. Penelitian tersebut mengungkapkan potensi kenaikan nilai atau pendapatan dan pengembalian investasi digital (value at stake/VaS) bank ritel jika menerapkan solusi digital pada bisnisnya. Selain itu, penelitian menggambarkan roadmap atau peta jalan untuk mencapainya.

 

Studi memaparkan, penggunaan solusi digital pada bank ritel bisa dilakukan dengan mengadopsi dan investasi teknologi yang tepat, seperti analytic, mobility, video, dan model pengiriman tervirtualisasi (virtualized delivery model), dan perencanaan navigasi risiko keamanan. Apabila mau menggunakan solusi digital, bank ritel berpotensi bisa meraih VAS senilai US$ 405 miliar dalam kurun waktu 2015-2017.

 

“Kemampuan teknologi digital dalam menciptakan dan mendorong peluang pendapatan, digabung dengan kemampuan untuk menurunkan biaya operasional melalui proses bisnis yang terdigitalisasi, akan menciptakan peluang yang menggiurkan,” kata Director of Financial Services Cisco’s Business Transformation Group Jason Bettinger, dalam keterangannya, pekan lalu.

 

Meski demikian, Bettinger mengakui, meskipun ada peluang yang menggiurkan dan tekanan kompetitif yang datang bersama transformasi digital, bank ritel ternyata masih lamban dalam adopsi digital. Studi terbaru dari Cisco menyebutkan, Cyber’s security as a Growth Advantage, yang meneliti 1.014 senior eksekutif di bagian keuangan dan berbagai lini bisnis secara global, menemukan, sebanyak 71% dari mereka setuju bahwa risiko dan ancaman keamanan siber (cyber security) telah menghambat inovasi digital pada organisasi mereka.

 

Sementara itu, 39% lainnya mengatakan, inisiatif terhenti karena masalah cyber security. Sebanyak 60% responden mengaku organisasi mereka menolak inovasi, seperti menciptakan produk dan layanan digital karena takut dengan risiko cyber security.

 

Dampaknya, inisiatif digital seperti kapabilitas omnichannel, wealth management, dan asset transfer, mobile banking, dan mobile payment, serta self-service model dan virtualized delivery model juga ikut tertunda. Analisis ekonomi Cisco memperkirakan, jika tidak melakukan digitalisasi, bank ritel telah kehilangan US$ 144 miliar secara global dalam kurun waktu sejak 2011 hingga tahun 2015.

 

Intinya, lanjut Baettinger, persoalan cyber security tidak seharusnya menjadi penghambat inovasi dan digitalalisasi bisnis. Bank ritel bisa mengubah persepsi bahwa cyber rsecurity dari sebuah ancaman menjadi aset yang dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan, serta mendukung inovasi dan pertumbuhan. Namun harus diakui, seluruh solusi digital tergantung pada fondasi cyber security yang kuat.

 

“Dengan mengevaluasi, mengadaptasi, serta mengombinasikan penggunaan solusi digital yang tepat, dan melakukannya secara aman, bank ritel bisa mendapat value at stake serta menjadi lebih tangkas dan kompetitif,” pungkasnya. (man)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com