Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Siapa Penguasa Pasar Smartphone di Indonesia? Cek di Sini

Sabtu, 7 Jan 2023 | 15:46 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com) ,Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Ponsel pintar (smartphone) asal Tiongkok menguasai pasar Indonesia dalam empat tahun terakhir. Oppo dan Vivo bersaing di peringkat 2 besar, sedangkan ponsel pabrikan Korea, Samsung, tergusur ke posisi ke-3.

Sebaliknya, di pasar global, Samsung terus bertengger di puncak, mengalahkan Iphone (Apple) dan merek-merek smartphone asal Tiongkok.

Baca juga: Oppo Persiapkan 8 Toko Baru di Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengguna ponsel di Tanah Air mencapai 355,62 juta pada 2020, tumbuh 4,2% dari tahun sebelumnya. Pada 2022, jumlah pengguna ponsel diperkirakan mencapai 365 juta, lebih banyak dibanding populasi 277,7 juta jiwa.

Advertisement

Sementara itu, International Data Corporation (IDC) Indonesia mengungkapkan, dari total penjualan 28,2 juta smartphone hingga kuartal III-2022, empat merek Tiongkok, yakni Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Realme berkontribusi 19,6 juta unit, atau 69,5%.

Di tengah kelesuan pasar, empat merek ponsel Tiongkok tersebut menjadi pendobrak dan selalu masuk lima besar di Indonesia. Sedangkan Samsung menempati peringkat berikutnya, bersaing dengan merek-merek Tiongkok. Secara bergantian, Oppo dan Vivo menjadi raja pasar ponsel smartphone Indonesia pada 2019-2022, mengalahkan Samsung.

Baca juga: Samsung Electronics Isyaratkan Laba Kuartal IV-2022 Anjlok

Pada 2019, 2021, dan 2022, Oppo merajai pasar smartphone Tanah Air dengan pangsa pasar masing-masing 26,2%, 20,8%, dan 20,92%. Kecuali itu, Vivo pernah menjadi raja pasar pada 2020 dengan pangsa pasar 25,2%. Adapun Samsung tergusur ke peringkat ke-2 atau ke-3.

Terakhir, pada 2022, Samsung berada pada urutan ke-2 bersama Xiaomi dengan pangsa pasar (market share) 19,15%. Samsung pernah menjadi raja pasar smartphone di Indonesia pada 2017 dengan pangsa pasar 31,8%.

Associate Market Analyst IDC Indonesia, Vanessa Aurelia mengatakan, dengan total penjualan 28,2 juta smartphone hingga kuartal III-2022, pasar smartphone di Indonesia kembali lesu. Khusus pada kuartal III tahun lalu, penjualan smartphone mencapai 8,1 juta unit atau turun 12,4% dibandingkan kuartal III-2021 (year on year/yoy) dan 14,6% dibandingkan kuartal II-2022 (quarter to quarter/q to q).

Pasar smartphone domestik, menurut Vanessa, masih lemah sebagai dampak inflasi yang mencapai 5,95% (yoy) pada September 2022 setelah harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan nonsubsidi naik. Penaikan harga BBM berdampak negatif terhadap daya beli masyarakat dan permintaan pasar.

Baca juga: Apple dan Amazon Kehilangan Kapitalisasi US$ 800 Miliar pada 2022

Tekanan lebih besar dirasakan oleh ponsel segmen ultra-low-end (kurang dari US$ 100) dan segmen low-end (US$ 100<200). “Jumlah pangsa keduanya turun menjadi 75% dari 81% pada kuartal III-2021,” ujar Vanessa Aurelia di Jakarta, Jumat (6/1/2023).

Vanessa menambahkan, ada ponsel lokal, Advan, yang sempat bersaing dan masuk daftar tiga besar di Tanah Air pada 2017. Ketika itu, Advan masuk posisi tiga besar dengan penguasaan market share 7,7% di bawah Samsung sebesar 31,8% dan Oppo 22,9%.

Namun setelah itu, ponsel Advan yang banyak berkiprah di segmen menengah terlempar dari lima besar karena kalah bersaing dengan ponsel asal Tiongkok yang lebih kaya fitur dengan harga yang relatif terjangkau.

Di sisi lain, berdasarkan data IDC Indonesia, Iphone juga tak pernah muncul dalam lima besar penguasaan pasar smartphone di Tanah Air karena merupakan perangkat paling premium, sehingga pasar dan pembelinya sangat terbatas. Saat ini, hampir semua ponsel baru Iphone dijual di atas Rp 10 juta per unit.

Baca juga: Telkom (TLKM) Akan Alihkan Bisnis Indihome ke Telkomsel, Bukan Merger

Total penjualan smartphone di Tanah Air pernah mencapai puncaknya sebanyak 40,9 juta pada 2021 sebagai dampak positif pemberlakuan kebijakan baru. Saat itu, pemerintah mewajibkan ponsel memiliki nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang terdaftar ke dalam mesin Centralized Equipment Identity Register (CEIR) di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mulai 15 September 2020.

IMEI merupakan nomor identifikasi sebuah prangkat bergerak (mobile), termasuk di dalamnya smartphone, sebagai persyaratan agar bisa terhubung dengan jaringan operator telekomunikasi di Tanah Air. Selain itu, IMEI berfungsi menekan peredaran ponsel di pasar gelap (black market) dan meningkatkan pendapatan negara melalui bea masuk (BM) dan pajak.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com