Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kurang Tepat Sasaran

Selasa, 26 Februari 2019 | 15:50 WIB

Walaupun terlihat mentereng dan penuh gebyar, CEO dan Founder liteBIG M Tesar Sandikapura justru menilai program Gerakan 1.000 Start-up masih jauh dari harapan dan kurang tepat sasaran. Soalnya, program ini tidak melibatkan stakeholder dari para komintas start-up yang telah ada di di Indonesia.

“Sebaiknya, kembali ke niat awal dari program ini. Jika memang ingin mencetak start-up, ada baiknya bina yang sudah ada saja, dan bimbing mereka hingga mendapatkan pasar dan funding yang cukup, tidak usah mengejar kuantitas, tapi lebih ke kualitas. Indonesia tidak butuh terlalu banyak start-up, tapi butuh yang berkualitas dan mampu menjawab solusi dari beberapa permasalah bangsa ini, atau membuat social impact,” tandas Tesar.

Dia mengakui, berdasarkan data Kemenristek dan Bekraf, Indonesia telah memiliki sekitar 956 dan 992 start-up pada akhir 2018. Namun, yang benar-benar hidup dan menjalankan usaha diperkirakannya hanya sekitar 700 start-up. “Yang berkembang sekarang umumnya adalah start-up fintech, edutech, agritech, dan market place,” tutur dia.

Tesar menyarankan pemerintah membuat semacam satu layanan (one shop service) untuk para start-up di Indonesia agar dapat menjadi satu tempat untuk mengadu dan berkumpul, serta memenuhi kebutuhan langsung kepada para ahli (expert) di bidangnya. Layanan itu harus beragam, mulai pendidikan, pendanaan, hingga kebutuhan infrastruktur dan pasar (market).

Dia juga berpendapat bahwa unicorn di Indonesia saat ini sangat burning money. Artinya, keberadaannya hanya mengejar valuasi semata dan tidak mengejar keuntungan (profit). Mereka sangat rentan untuk bisa survive ke depannya.

“Karena itu, sudah selayaknya, cara seperti ini mulai ditinggalkan. Mulailah membuat start-up yang menggunakan bisnis model yang baik, mencari profit, dan tidak hanya perang harga dan discount semata,” tegas dia.

Menurut Tesar Sandikapura, cara para unicorn menjalankan usahanya itu cenderung mengarah ke penguasaan pasar (monopolistik). Mereka mengeluarkan dana investasi yang besar, kemudian, start-up yang digelontorkan dana membuat program diskon yang tak masuk akal. Bahkan, ada yang sampai memberikan diskon hingga 99%, sehingga tak bisa dilawan oleh pemain yang miskin modal, terutama para pemain lokal yang berusaha berdiri atas usaha mandiri dan punya modal pas-pasan.

“Yang kami khawatirkan, nantinya, mungkin lima tahun lagi, ketika para pesaingnya telah mati, para unicorn bisa mengatur dan memainkan harga. Itu sangat mungkin terjadi karena relatif hanya mereka saja nanti pemainnya. Itu yang perlu disadari pemerintah. Perlu kebijakan yang antisipatif dan tegas,” ujar Tesar. (ark/az)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/home/agenda-besar-dengan-tantangan-dan-persoalan-besar/185891

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA