Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkominfo Johnny G Plate menyampaikan sambutan dalam peresmian Indonesia Makin Cakap Digital, Kamis (20/5/2021). Sumber: BSTV

Menkominfo Johnny G Plate menyampaikan sambutan dalam peresmian Indonesia Makin Cakap Digital, Kamis (20/5/2021). Sumber: BSTV

Menkominfo: ASO akan Hasilkan Digital Dividend

Kamis, 10 Juni 2021 | 19:43 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengungkapkan, langkah migrasi televisi (TV) analog ke televisi digital (analog switch off/ASO) akan memberikan manfaat keuntungan digital (digital dividend) bagi Indonesia.

Pasalnya, penggunaan pita frekuensi 700 Mhz yang saat ini digunakan untuk penyiaran TV analog nantinya dapat digunakan untuk kepentingan transformasi digital di Indonesia. Hal ini akan berguna untuk menambah kecepatan internet dan digunakan untuk frekuensi kebencanaan.

“Implementasi sistem penyiaran digital akan menghasilkan efisiensi spektrum radio pada pita frekuensi 700 Mhz, atau dikenal sebagai digital dividend. Kita semua telah ketahui yang saat ini (pita frekuensi 700 MHz) seluruhnya digunakan hanya untuk siaran televisi analog,” kata Johnny, dalam keterangannya, seperti dikutip Kamis (10/6).

Mengutip data dari Boston Consultant Group (BCG), pada 2017, Menkominfo  menyatakan bahwa estimasi dampak bergulis (multiplier effect) yang akan dihasilkan apabila Indonesia engalihkan digital dividend untuk keperluan telekomunikasi seluler pita lebar sangat besar.

“Dalam lima tahun ke depan, diharapkan akan berdampak pada PDB kita, menghasilkan kenaikan PDB sekitar Rp 443 triliun, pajak sekitar Rp 77 triliun, serta yang tak kalah penting adalah penciptaan lebih dari 230.000 lapangan pekerjaan baru dan 181 ribu unit usaha baru,” imbuhnya.

Hasil telaah tersebut pun menjadi motivasi bagi dunia, termasuk Indonesia, untuk menerapkan sistem penyiaran digital guna memaksimalkan ekonomi digital di negaranya masing-masing. Karena itu, program ASO diharapkan juga dapat membawa kemajuan penyiaran di Indonesia.

“Satu hal yang ingin saya tambahkan sebelum mengakhiri sambutan adalah penyelenggara multiplexing dilakukan sekali lagi melalui dua metode, yakni metode seleksi di 22 provinsi dan metode evaluasi di 12 provinsi, melengkapi di 34 provinsi di Indonesia,” ungkap Johnny.

Dia melanjutkan, masyarakat, atau penyelenggara dan ekosistem penyiaran perlu memahami penyelenggara multiplexing masih tetap dapat bersiaran walaupun 50% dari slot multiplexing akan dikelola oleh pemerintah.

Dengan penguasaan 50% tersebut, semua penyelenggara siaran swasta, lokal maupun komunitas, yang membutuhkan hak siaran, akan tetap difasilitasi oleh pemerintah.

“Karena itu, tidak akan mengganggu penyiaran bagi lembaga penyiaran dan tidak juga menghambat bagi masyarakat sebagai pembeli televisi masing-masing di rumahnya,” tutur Johnny.

Hemat Infrastructure Cost

Direktur Penyiaran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Geryantika Kurnia menambahkan, selain digital dividend, migrasi TV analog ke digital juga dapat menghemat biaya (cost) infrastruktur bagi para penyelenggaranya.

Pasalnya, jika penyelenggara siaran TV memiliki infrastruktur sendiri, cost infrastrukturnya bisa mencapai Rp 14 miliar. Tetapi, kalau menyewa infrastruktur, biayanya hanya berkisar Rp 9-10 miliar.

“Kalau di Jakarta, cost infrastruktur setahun mencapai Rp 3,5-4,5 miliar, itu kalau infrastruktur sendiri. Tetapi kalau sewa, setahun hanya Rp 400-500 juta. Jadi, ada efisiensi infrastruktur. Itu mengapa migrasi TV analog ke digital itu penting,” kata Geryantika, dalam webinar sosialisai TV digital.

Menurut dia, pita frekeunsi 700 Mhz juga disebut ‘frekuensi emas’. Sebab, frekuensi ini dapat mendukung transformasi digital di Indonesia serta menghasilkan internet yang berkecepatan tinggi.

“Dengan ASO, berkali-kali lipat kecepatan broadband-nya. Dengan adanya efisiensi sebesar 112 Mhz pada pita frekuensi 700 Mhz, kita negara yang sering terjadi bencana, belum punya frekuensi khusus tentang kebencanaan, dan kita dapat menggunakannya untuk frekuensi kebencanaan,” pungkas Geryantika.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN