Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkominfo Johnny G Plate (tengah) didampingi Ahmad Ramli, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemkominfo (kiri) dan Dirut PT Telkom Indonesia Ririek Adriansyah (kanan), saat konferensi pers terkait gangguan layanan telekomunikasi di Papua di Media Center Kemkominfo, Senin (7/6).

Menkominfo Johnny G Plate (tengah) didampingi Ahmad Ramli, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemkominfo (kiri) dan Dirut PT Telkom Indonesia Ririek Adriansyah (kanan), saat konferensi pers terkait gangguan layanan telekomunikasi di Papua di Media Center Kemkominfo, Senin (7/6).

Menkominfo: Gangguan Telekomunikasi di Papua Diakibatkan Faktor Alam

Selasa, 8 Juni 2021 | 13:16 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menegaskan, gangguan layanan telekomunikasi di Papua, yang terjadi sejak 30 April lalu, dan saat ini masih dalam proses recovery diakibatkan oleh faktor alam.

Gangguan tersebut, sebagai akibat dari putusnya kabel laut ruas Biak-Jayapura, tepatnya pada posisi 280 kilometer dari kota Biak dengan kedalaman 4.050 meter di bawah permukaan laut (Mdpl).

“Gangguan infrastruktur telekomunikasi di Papua murni karena putusnya sistem komunikasi kabel laut, yang diduga diakibatkan oleh faktor alam,” kata Johnny saat konferensi pers, di ruangan media center Kemkominfo, Senin (7/6).

Menurut Johnny, wilayah yang terdampak akibat gangguna tersebut hanya terjadi di Kota Jayapura, Abepura, Sentani dan Sarmi. Bukan wilayah Papua seluruhnya. Putusnya kabel laut tersebut berdampak pada total trafik dari normal sistem komunikasi di seluruh Papua, sekitar 154 Gbps, dari total trafik di Papua sebesar 464 Gbps. Atau yang terdampak itu sepertiga dari total trafik.

“Saya perlu tekankan ini, karena ada kesan, seolah-olah putusnya kabel tersebut mengaibatkan total black out di Papua. Tidak betul. Yang betul terdapat 154 Gbps dari total 464 Gbps. Dan area terdampak gangguan itu pada 4 titik. Yaitu, kota Jayapura, Abepura, Sentani dan Sarmi. Bukan di seluruh Papua,” ujar Johnny.

Dalam menanggulangi kejadian ini, lanjut Johnny, pihaknya terus melakukan koordinasi rutin dengan PT Telkom dalam upaya penanganan dan pemulihan jaringan di wilayah terdampak. Selain itu, Kemkominfo juga telah mengirimkan surat kepada PT Telkom untuk memberikan penjaminan perlindungan bagi konsumen yang terdampak.

“Berdasarkan informasi yang diperoleh dari PT Telkom, telah dilakukan langkah mitigasi langsung melalui aktivasi jaringan backup secara bertahap, dimulai dari layanan suara hingga layanan data yang menyesuaikan ketersediaan bandwidth,” jelas Johnny.

Johnny juga mengungkapkan, pada 17 Mei 2021, jaringan backup ini telah mencapai total kapasitas 4,7 Gbps, ditunjang oleh pemanfaatan link satelit sebesar 2.662 Mbps, radio long haul Palapa Ring Timur sebesar 500 Mbps, dan radio long haul Sarmi-Biak sebesar 1.600 Mbps.

“Untuk mengamankan kualitas layanan pada saat proses penyambungan, Telkom juga menyediakan backup link khususnya untuk wilayah Manokwari dan Biak sebesar 40 Gbps melalui Palapa Ring Timur,” tambah Johnny.

Upaya Mitigasi

Lebih jauh, sebagai upaya pemulihan jangka pendek terhadap kabel ruas Biak-Jayapura yang terputus, proses penyambungan kabel dan identifikasi penyebab putusnya kabel telah diusahakan sejak 1 Mei 2021 menggunakan kapal khusus.

PT Telkom sendiri, kata Johnny, menargetkan penyelesaian perbaikan pada 7 Juni 2021. Namun, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi saat proses penyambungan kabel, salah satunya faktor cuaca, yaitu adanya Siklon Tropis Choi-Wan di sekitar Samudera Pasifik sebelah utara Papua Barat-Papua sehingga menurunkan kecepatan kapal (5-7 Knots dari kecepatan normal 9 Knots) dan menyebabkan delay.

“Sebagai upaya mitigasi jangka panjang, PT Telkom telah memulai pembangunan jalur baru kabel laut Jayapura-Sarmi-Waisai sepanjang 1.141 kilometer,” ungkap Johnny.

Tak hanya itu, Kemkominfo juga akan terus mengawal dan membangun infrastruktur, baik kabel serat optik hingga base transceiver stations (BTS) untuk memperkuat sistem telekomunikasi di Indonesia.

Sementara, Direktur Utama PT Telkom Indonesia Ririek Adriansyah menjelaskan, pihaknya telah menyediakan backup secara bertahap untuk mengatasi masalah tersebut.

“Sebenarnya backup kita sediakan bertahap, karena yang namanya satelit kapasitasnya tidak sebesar fiber optik, sehingga tidak mungkin backup-nya ini menggunakan satelit dan microwave bisa sebesar yang aslinya, 154 (Gbps) tadi,” kata Ririek.

Menurut Ririek, backup yang telah disiapkan itu masih untuk mengaktifkan layanan voice (suara) yang langsung ter-cover pada tanggal 30 April lalu sekitar pukul 22.30 WIB.

“Selanjutnya, kita upaya menambah kapasitas backup dengan mengaktifkan lagi di satelit maupun di microwave dan juga ada fiber optik. Sehingga pada tanggal 17 Mei itu menjadi 4,7 gigabyte, seluruh layanan sebetulnya sudah recover tapi kapasitas atau speed belum kembali normal karena keterbatasan kapasitas backup yang hanya 4,7 giga,” ungkap Ririek.

Mengenai kapal yang digunakan untuk proses penyambungan kembali kabel bawah laut mengalami keterlambatan, Ririek menuturkan, sejak SKKL ruas Biak-Jayapura itu terputus pada tanggal 30 April, kapal baru bisa beroperasi di awal Juni.

“Antara tanggal 1 sampai 18 Mei, kami melakukan pengurusan dan persiapan kapal yang juga harus berangkat dari titik awal keberadaannya menuju Makassar. Karena di Makassar lah kita tempat menyimpan untuk sper kabelnya, termasuk penyiapan awak dan sebagainya,” ungkap Ririek.

Kemudian, tim diberangkatkan menuju Makassar dan kemudian setelah menyiapkan berbagai kebutuhan, kapal diberangkatkan pada tanggal 19 Mei menuju Jayapura. “Jadi baru sampai di Jayapura akhir Mei, kemudian akhir Mei sampai hari ini adalah proses penyiapan untuk penyambungannya,” tandas Ririek.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN