Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kecanduan medsos. Foto ilustrasi: IST

Kecanduan medsos. Foto ilustrasi: IST

Pemuda Diajak Cek Kebenaran Informasi

LM, Rabu, 12 Juni 2019 | 12:34 WIB

JAKARTA Generasi muda diajak untuk membangun kesadaran guna mencari dan mengecek kebenaran sebuah informasi sejak dini sebelum mengabarkannya kepada orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail dalam Talkshow Inspirasi Ramadan (Irama) di Bandung, Senin (20/05).

Mewakili Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, Ismail mengajak para mahasiswa dan masyarakat yang hadir menjadi peserta talkshow untuk terus mencari kebenaran informasi, terutama yang ditemukan dalam dunia digital dan media sosial.

“Berbeda dengan media mainstream seperti koran (media cetak) yang telah melewati beberapa jenjang validasi dan penyaringan mulai dari editor sampai dengan redaktur, informasi yang beredar di internet bisa muncul dan tersebar tanpa ada verifikasi kebenarannya,” ujar Ismail, seperti dikutip dari laman kominfo.go.id, Rabu (22/5).

Dia mengatakan, para mahasiswa harus menciptakan budaya, atau kebiasaan di masyarakat agar terus mengecek setiap informasi yang diterima dan tidak mudah kembali menyebarkan informasi yang masih belum jelas kebenarannya.

Ismail menjelaskan, ada beberapa perangkat bisa dipakai untuk memastikan kebenaran sebuah informasi, mulai dari dengan memanfaatkan mesin kecerdasan buatan maupun aplikasi. “Tapi, intinya, kita perlu mengecek ke ahlinya. Jika dengan mesin atau aplikasi, kebenaran dinyatakan dengan presentase error, atau dalam hal ini menggunakan statistik,” tambahnya.

Agama juga sudah mengajarkan bahwa perlu adanya guru, atau ulama karena banyak sekali informasi yang diperoleh dari banyak sumber yang bisa saja bertentangan, sehingga bisa membingungkan, atau meresahkan orang yang sedang melakukan pencarian kebenaran.

Menurut dia, orang yang lebih ahli pun disebutnya sebagai alat yang bisa mengonfirmasi kebenaran suatu informasi. “Tergantung topiknya, guru tersebut bisa berupa orang yang mempunyai wawasan yang lebih luas, atau sebagai contoh di bidang kesehatan seperti dokter,” jelasnya.

 

Serba Digital

Pada kesempatan itu, Ismail juga menjelaskan bahwa Indonesia sudah memasuki dunia digital yang sangat masif. Hal ini dimungkinkan karena keberadaan infrastruktur telekomunikasi yang sudah memadai, salah satunya dengan dibangunnya jaringan tulang punggung serat optik Palapa Ring untuk menghubungkan komunikasi daerah terpencil.

“Dunia digital dipicu oleh infrastruktur yang ada. Kalau infrastruktur tidak ada, tidak mungkin kita bisa berada di situ. Jadi, Infrastruktur itu adalah network yang dibangun oleh operator telekomunikasi dan bisa dibagi menjadi dua layer, backbone dan access. Infrastruktur ini berkembang sangat pesat dan pemerintah sudah membangun jaringan yang disebut dengan Palapa Ring,” kata Ismail.

Faktor lain pendorong perkembangan dunia digital di Indonesia, lanjut Ismail, karena tarif data internet yang sudah lebih terjangkau. Mengutip data Cable UK yang dirilis tahun 2019, tarif rata-rata untuk paket data di Indonesia hanya sebesar US$ 1,71 per 1 GB.

“Jika berbicara tarif, kita bukan bicara mahal, atau murah, tapi affordable, atau keterjangkauan, yaitu kemampuan masyarakat untuk membiayai koneksi internet,” tambahnya.

Dia juga membeberkan adanya dinamika dalam lapisan aplikasi dengan keberadaan perusahaan rintisan berbasis teknologi (start-up) dan sart-up yang terus berkembang dengan valuasi minimal US$ 1 miliar (unicorn) yang telah mengubah wajah dunia di semua sektor.

“Dunia start-up ini mengubah lifestyle. Mengapa bisa demikian? Infrastruktur tersedia, tarifnya cukup affordable, dan sekarang banyak gap antara demand dan supply. Ada kebutuhan riil yang dibutuhkan. Dari sinilah, start-up hadir,” papar Ismail.

Dampak ekonomi start-up digital dan unicorn, bahkan, decacorn Go-Jek sangat fantastis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Belum lagi, dampak langsung yang bisa dirasakan oleh segala lapisan masyarakat.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN