Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkominfo Johnny G Plate beri sambutan pada PWA proyek Satria yang disiarkan secara virtual, Kamis (3/9)

Menkominfo Johnny G Plate beri sambutan pada PWA proyek Satria yang disiarkan secara virtual, Kamis (3/9)

PSN Mulai Konstruksi Proyek Satelit Satria

Jumat, 4 September 2020 | 08:41 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menandatangani Preparatory Work Agreement (PWA) dengan perusahaan industri kendaraan antariksa asal Prancis, Thales Alenia Space (TAS). Penandantanganan PWA menjadi titik awal untuk dimulainya konstruksi proyek Satelit Multifungsi Republik Indonesia (Satria).

Dalam tahapan pekerjaan tersebut, terdapat dua kegiatan pokok. Pertama,  tinjauan kebutuhan muatan sistem satelit yang merupakan penyesuaian desain satelit dengan permintaan pengguna. Kedua, tinjauan status kualifikasi komponen-komponen satelit yang dipersyaratkan.

Hadir dalam secara secara virtual itu Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia,  Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, Staf Ahli Menkeu Bidang Organisasi SDM dan Teknologi Informasi Sudarto, dan pejabat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Hadir pula pada kesempatan tersebut, Duta Besar Perancis untuk Indonesia Olivier Chambard, Direktur utama PSN Adi Rahman Adiwoso, dan Southeast Asia Sales Director of TAS  Oliver Guilbert.

Adi Rahman Adiwoso mengatakan, Satria dibutuhkan karena memiliki spesifikasi multifungsi (high throughput satellite/HTS) yang dapat menjadi investasi besar bagi Indonesia. Program satelit ini juga merupakan hal yang jitu karena tidak membutuhkan anggaran selama 3,5 tahun yang akan datang

“Biayanya Rp 8 triliun serta biaya konsensi Rp 20 triliun, yang akan dibayar 15 tahun. Ini juga tidak membutuhkan keuntungan finansial seperti satelit komersial lainnya, (sehingga bisa lebih hemat)," ujar Adi, dalam acara penandatanganan PWA yang disiarkan secara langsung, Kamis (3/9).

Hal hampir senada disampaikan oleh Menkominfo Johnny G Plate. Dia mengatakan bahwa penandatanganan PWA tersebut menunjukkan optimisme iklim investasi di Indonesia.

Preparatory Work Agreement ini sekaligus memastikan bahwa pembuatan satelit dapat dilaksanakan tepat waktu pada saat kontrak, sekaligus menandai bahwa perjanjian pembiayaan akan mulai efektif berjalan,” jelas Johnny.

Menurut Menkominfo, proyek Sastria menandai peluang investasi di masa datang yang lebih besar. Sebab, sampai dengan tahun 2030, kebutuhan kapasitas satelit Indonesia diproyeksikan mencapai 900 Gbps, atau 0,9 Tbps.

“Kita juga masih membutuhkan pembangunan ground segment untuk melengkapi pembangunan space segment yang sedang kita bangun,” tuturnya.

Keberlanjutan proyek Satria juga menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah untuk mempercepat transformasi digital. Menurut Menkominfo, momentum ini akan menandai layanan publik yang prima.

150 Gbps

Satria memiliki ciri, atau spesifikasi khusus yang dikenal dengan sebutan HTS dengan kapasitas 150 Gbps. Sebagai pembanding, saat ini, Indonesia memanfaatkan lima satelit nasional dengan kapasitas hanya sekitar 30 Gbps dan empat satelit asing punya kapasitas 20 Gbps.

Karena besarnya kapasitas tersebut, Satria akan mampu menghadirkan akses 150 ribu titik W-Fi gratis untuk layanan publik di berbagai penjuru Nusantara. Kapasitas ini akan  menghadirkan layanan publik yang prima dengan setiap titik akan tersedia kapasitas sebesar 1 Mbps.

“150.000 titik tersebut terdiri atas 93.900 titik sekolah dan pesantren, 47.900 titik kantor desa, kelurahan, dan kantor pemerintahan daerah, 3.700 titik fasilitas kesehatan, serta 4.500 titik layanan publik lainnya,” jelasnya.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN