Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

RI Sudah Punya 1.000 Start-up

Selasa, 26 Februari 2019 | 16:04 WIB

JAKARTA–Indonesia saat ini diperkirakan memiliki setidaknya 1.000 perusahaan rintisan berbasis teknologi digital (start-up). Mereka paling banyak bergerak di bidang teknologi keuangan (financial technology/fintech), perdagangan secara elektronik (e-commerce), dan penyediaan lapak untuk berjualan (market place). Dengan jumlah start-up sebanyak itu, Indonesia sudah siap menjadi pusat ekonomi digital Asean.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengklaim jumlah start-up di Indonesia merupakan yang terbanyak di Asia Tenggara. Jumlah mereka akan terus membesar karena Indonesia ditopang pasar yang sangat potensial dengan populasi 265 juta orang, atau meliputi sekitar 65% dari penduduk di kawasan Asean. Empat start-up di antaranya bahkan sudah naik kelas menjadi unicorn (perusahaan rintisan yang memiliki valuasi aset minimal US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun), yakni Bukalapak, Tokopedia, Go-Jek, dan Traveloka.

Deputi Bekraf Hari Sungkari yakin target pemerintah melahirkan dan membina 1.000 start-up pada 2020 sudah tercapai saat ini. Soalnya, berdasarkan hasil survei Bekraf, per akhir Desember 2018 saja jumlah start-up yang aktif di Tanah Air telah mencapai 992 perusahaan. “Kekurangan sekitar delapan start-up baru sudah terpenuhi pada periode Januari-Februari 2019,” tutur Hari Sungkari kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (25/2).

Hari mengakui, berdasarkan versi lembaga lain, jumlah start-up di Indonesia jauh lebih banyak. “Beberapa lembaga dari luar negeri malah menyebutkan ada sekitar 3.000-an start-up yang beroperasi di Indonesia. Itu mungkin saja karena memperhitungkan yang sudah tidak aktif. Tapi, berdasarkan data hasil survei Bekraf, start-up yang aktif per akhir Desember tahun lalu mencapai 992. Saya yakin, saat ini jumlahnya sudah lebih dari 1.000 karena ada tambahan pada Januari dan Februari 2019,” papar dia.

Menurut dia, jumlah start-up yang terus berkembang sebagian besar merupakan hasil kreasi dan dilahirkan para generasi muda (milenial). Peran pemerintah, termasuk Bekraf serta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) adalah memberikan dukungan agar mereka berkembang, baik dari sisi dukungan pengetahuan, pelatihan, pendanaan awal, mediasi dengan para investor, maupun untuk pemasaran.

Peran Bekraf, kata Hari Sungkari, di antaranya memberikan pembinaan dan pelatihan, mendaftarkan start-up dan memastikan agar start-up memiliki hak kekayaan intelektual (HKI). “Kami juga memberikan modal awal Rp 50-200 juta untuk start-up pilihan, mendorong mereka untuk masuk inkubotar bisnis dengan dukungan dan bimbingan swasta, mencarikan pasar dan membantu promosi dengan mengikuti pameran hingga luar negeri, serta memfasilitasi pertemuan dengan para calon investor,” ujar dia.

Karena itu, Hari juga cukup yakin Indonesia akan menjelma menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asai Tenggara pada 2020 dengan nilai transaksi US$ 130 miliar pada 2020 sebagaimana ditargetkan pemerintah.

Selain itu, Hari optimistis maraknya e-commerce dan market place saat ini menjadi wahana bagi para usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk lebih berkembang. “Jutaan UMKM sudah memanfaatkan e-commerce dan market place untuk menjangkau pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tegas dia.

Dia menambahkan, jumlah UMKM yang sudah menjual produknya melalui sarana perdagangan dalam jaringan (go online) diperkirakan telah mencapai 9,6 juta pada akhir 2018 atau 16,27% dari total UMKM yang berjumlah sekitar 59 juta. Jumlah itu masih bisa digenjot lewat berbagai kebijakan pemerintah yang memihak kepada start-up dengan memberikan insentif menarik, memberikan akses pasar, serta membuat sistem pembayaran yang lebih baik dan menguntungkan. (ark/az)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/telecommunication/investasi-asing-sulit-dihindari/185896

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA