Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Teknologi 5G-Computerworld/IST

Ilustrasi Teknologi 5G-Computerworld/IST

Tahun 2025, Pelanggan 5G Diprediksi 2,8 Miliar

Emanuel Kure, Kamis, 25 Juni 2020 | 09:28 WIB

JAKARTA, investor.id - Ericsson, vendor teknologi informasi global, memperkirakan jumlah pelanggan teknologi seluler generasi kelima (5G) di seluruh dunia mencapai 190 juta pada akhir 2020. Hingga akhir tahun 2025, jumlahnya akan mencapai 2,8 miliar pelanggan.

Sementara itu, pelanggan 5G di wilayah Asia Tenggara dan Oseania diprediksi  bisa mencapai 270 juta orang, atau mencakup 21% dari total pengguna seluler tahun 2025.

Country Head of Ericsson Indonesia Jerry Soper mengatakan, orang-orang di seluruh dunia harus mengubah kehidupan sehari-hari mereka akibat dari pandemi Covid-19.

Perpindahan tempat kerja, atau proses belajar ke rumah telah menunjukan pertumbuhan trafik data dari bisnis ke perumahan bergeser dengan cepat. “Hal ini semakin menunjukkan pentingnya konektivitas,” tutur Jerry, dalam keterangannya, Rabu (24/6).

Di sisi lain, lanjut Jerry, keberhasilan implementasi 5G tidak hanya diukur dari jumlah pelanggan yang tinggi. Karena, dampak dari teknologi ini pada akhirnya juga dinilai dari manfaatnya bagi masyarakat dan pelaku usaha.

“5G adalah platform yang dibuat untuk inovasi. Karena, teknologi ini akan merumuskan ulang cara orang berinteraksi, cara masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari, serta cara bisnis bekerja,” ujar Jerry.

Dengan adanya pandemi Covid-19, Ericsson juga menyoroti makna penting digitalisasi untuk bisnis di seluruh dunia. Konektivitas memungkinkan perusahaan terus terlibat dengan pelanggan serta melakukan transaksi bisnis secara online.

Selain itu, kombinasi 5G dan digitalisasi akan menciptakan peluang baru bagi penyedia layanan untuk memperluas bisnis di luar konektivitas ke berbagai sektor, mulai dari perawatan kesehatan, otomotif, hingga manufaktur.

“Jaringan 5G menawarkan kecepatan lebih tinggi, latensi sangat rendah, dan jangkauan luas tanpa batas, yang memungkinkan pengguna memiliki pengalaman cepat dan mulus, yang belum pernah mereka miliki sebelumnya,” ungkap Ericsson Chief Technology Officer for Asia-Pacific Magnus Ewerbring.

Dampak Covid-19

Jerry pun menyoroti perubahan perilaku masyarakat dunia akibat aturan isolasi wilayah (lockdown) sebagai upaya menghadapi pandemi Covid-19. Hal ini menyebabkan berbagai perubahan terukur, baik pada jaringan stabil maupun seluler.

Menurut penelitian terkini Ericsson Consumer Lab, 83% responden dari 11 negara menyatakan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT) membantu dalam menjalani masa lockdown.

Penelitian juga menunjukkan peningkatan penerapan dan penggunaan berbagai layanan ICT, antara lain aplikasi e-learning dan kesehatan, dapat membantu masyarakat menyesuaikan diri dengan kenyataan baru yang didukung oleh konektivitas.

Ke depan, 57% responden menyatakan akan menabung demi keamanan keuangannya. Sedangkan sepertiga lainnya berencana investasi pada teknologi 5G dan jaringan broadband yang ditingkatkan di rumah mereka.

“Hal tersebut dilakukan untuk menyiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan gelombang kedua Covid-19,” tutur Jerry.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN