Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tarif Pulsa Perlu Diturunkan

Oleh Imam Suhartadi dan Tri Murti, Sabtu, 23 Juli 2016 | 09:18 WIB

JAKARTA – Tarif pulsa ponsel di Tanah Air yang relatif tinggi dibanding negara-negara lain perlu diturunkan agar tidak membebani konsumen, antara lain, dengan memangkas tarif interkoneksi yang masih mahal.

 

Hal itu bisa dilakukan jika regulator mau turun tangan untuk turut menetapkan tarif interkoneksi yang lebih murah. Saat ini, masyarakat yang semakin membutuhkan kemudahan komunikasi mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membayar pulsa.

 

“Untuk menurunkan harga pulsa ada tiga hal yang bisa ditempuh, yakni penurunan tarif interkoneksi, membatasi margin operator telekomunikasi, serta operator tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk kegiatan pemasaran produk (service activity cost). Terkait masalah interkoneksi, penurunan biaya interkoneksi yang pernah dilakukan harus dilanjutkan. Untuk marjin operator, tidak boleh melebihi 35%. Selanjutnya, operator juga tidak boleh terlalu banyak membelanjakan dana untuk gimmick dan promosi penjualan,” kata mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi di Jakarta, belum lama ini.

 

Heru menuturkan, harga pulsa ponsel di Tanah Air masih relative tinggi dibanding negara-negara lain, seperti India, Vietnam, bahkan Myanmar. Tidak saja tarif pulsa telepon atau SMS cukup mahal, tarif data di Indonesia juga masih mahal.

 

Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya pernah berhasil menurunkan tarif pulsa secara drastis, saat harga pulsa yang sangat mahal pada 2008 bisa diturunkan melalui reformasi perhitungan biaya interkoneksi, sehingga tahun 2009 tarif pulsa kita sempat di titik terendah.

 

“Tahun 2008 harga pulsa kita paling tinggi, kemudian ada reformasi biaya interkoneksi dan tahun 2009 harga pulsa menjadi paling rendah. Saat itu, biaya interkoneksi sebesar Rp 37 bisa diturunkan menjadi Rp 24, tapi harusnya penurunan ini terus dilakukan dan sekarang mestinya tinggal Rp 5. Tapi, ternyata terhenti di Rp 24. Ya akhirnya harga pulsa kita sekarang lebih mahal dari pulsa di India, padahal tarif di sana (India) tahun 2009 lebih mahal dari kita,” kata Heru.

 

Pengamat telekomunikasi Herry SW menyatakan, harga pulsa di Tanah Air masih bisa diturunkan. Namun, hal ini antara lain bergantung pada regulator yang turut menetapkan tarif interkoneksi. (lm/gor)

 

Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/banyak-jaringan-telekomunikasi-tidak-efisien/147055

BAGIKAN