Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi indikator Bollinger Band

Ilustrasi indikator Bollinger Band

Berikut Pengertian dan Cara Menggunakan Bollinger Band

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:34 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Bollinger band adalah salah satu indikator penting dalam dunia trading. Dikutip dari Pintu Academy, bollinger band merupakan salah satu indikator trading yang sangat populer. Bollinger band sendiri dikembangkan pada tahun 1980-an oleh seorang analis keuangan asal Amerika Serikat bernama John Bollinger.

Menurut Investopedia, indikator bollinger band adalah salah satu tools analisis teknikal untuk menghasilkan sinyal oversold atau overbought.

Advertisement

Teknik ini dirancang untuk menemukan sinyal beli dan jual dengan mengidentifikasi apabila suatu aset mengalami oversold atau overbought. Namun, indikator bollinger band hanya berfokus pada harga dan volatilitas aset, sehingga harus dikombinasikan dengan indikator lainnya untuk bisa memperoleh informasi yang lebih akurat.

Suharto FT (2014) mengungkapkan bahwa indikator bollinger band memiliki banyak manfaat bagi trader, di antaranya:

  • Mengidentifikasi tren aset
  • Indikator volatilitas, yang ditunjukan dari menyempit atau melebarnya indikator bollinger band.
  • Memberikan gambaran overbought dan oversold dari pergerakan harga aset

Baca juga: Masuki Area Overbought, IHSG Menguat Terbatas

Rumus bollinger band sendiri biasanya digunakan untuk menghitung band atas (upper band) dan band bawah (lower band).

Band atas = SMA + [D x Std Dev]

Band bawah = SMA – [D x Std Dev]

Dimana,

SMA = Simple Moving Average, yang pada dasarnya adalah harga rata-rata aset pada periode waktu tertentu

D = Nilai Deviasi, misal 1, 2, 3, dan seterusnya.

Std Dev= Standar Deviasi

Perhitungan rumus di atas sendiri cukup rumit dan hanya perlu kamu ketahui sebagai tambahan pengetahuan. Yang penting adalah  memahami bagaimana cara membaca bollinger band dan memanfaatkannya untuk strategi trading kamu.

Baca juga: IHSG Masih Berpeluang Naik Meski Sudah Masuk Zona Overbought

Purnomo LB (2014) mengungkapkan bahwa terdapat dua strategi sederhana dalam penggunaan indikator bollinger band untuk trading, yaitu sell signal di mana sinyal jual muncul ketika harga sudah menyentuh upper band, dengan indikasi harga berpotensi melemah di kemudian hari. Posisi ini dianggap overbought, di mana harga aset sudah menyentuh titik tertinggi dan akan mengalami pullback. Lalu, buy signal di mana sinyal beli ketika harga sudah menyentuh lower band, dengan indikasi harga berpotensi menguat di kemudian hari. Posisi ini dianggap oversold, di mana harga aset sudah menyentuh titik terendah dan akan mengalami kenaikan harga.

QWENah, itu dia pengertian dan cara menggunakan indikator bollinger band secara mudah dalam dunia trading saham, forex, hingga kripto.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN