Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komite Investasi Asiantrust Asset Management, Julian Alexander Thio,

Komite Investasi Asiantrust Asset Management, Julian Alexander Thio,

Investasi Pasif VS Aktif, Mana yang Cocok Untuk Investor Ritel?

Rabu, 27 Juli 2022 | 17:39 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Setiap investor akan selalu menginginkan hasil yang optimal dari investasi pasar modal yang mereka lakukan. Namun tujuan ini tentunya tidak akan tercapai jika tidak dikelola dengan tepat. 

Menurut Komite Investasi Asiantrust Asset Management, Julian Alexander Thio, salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar untuk mencapai hasil yang optimal dalam investasi adalah strategi investasi. 

Ia membeberkan bahwa secara umum terdapat dua strategi investasi dalam pengelolaan portofolio yaitu, strategi pengelolaan aktif dan pasif. Pengelolaan portofolio secara pasif adalah pengelolaan portofolio yang dilandasi dengan proses pembobotan suatu aset (saham, misalnya) sesuai dengan bobot aset tersebut dalam indeks acuan tertentu. Sementara pengelolaan aktif adalah strategi investasi yang proses pembobotan asetnya dilakukan secara aktif sehingga akan cukup berbeda dengan bobot aset tersebut di dalam indeks acuannya. 

Baca juga: IHSG Melesat, Berikut Lima Saham Paling Diincar Investor Asing

"Untuk para investor pasif, mereka cenderung akan membeli Reksa Dana Indeks atau ETF yang mengikuti pergerakan indeks tertentu seperti IHSG atau S&P 500 untuk mencapai hasil investasi yang sesuai dengan return pasar," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (27/7/2022). 

Menurutnya masing-masing strategi investasi memiliki kelebihan dan kekurangan namun semuanya akan kembali kepada tujuan investasi investor.

"Manfaat utama strategi investasi pasif adalah biaya perdagangan dan biaya pengelolaan portofolio yang cenderung lebih murah, seperti pada Exchange Traded Fund atau ETF (Reksa Dana yang diperdagangkan di bursa) misalnya, yang mana transaksi didalam portfolio tersebut akan cenderung lebih sedikit dibandingkan Reksa Dana Saham yang dikelola secara aktif," katanya.

Di sisi lain, strategi investasi aktif melibatkan manajer portofolio yang berperan aktif dalam mengelola dana, dan seringkali memiliki biaya perdagangan dan pengelolaan yang relatif lebih tinggi selain risiko serta volatilitas yang lebih tinggi dibanding indeks acuannya. Tentunya, strategi investasi aktif diharapkan dapat menghasilkan hasil yang lebih tinggi dari indeks acuannya.

Baca juga: Investor Awards 2022, Enam Emiten Raih Predikat Top Performing Listed Companies

Singkatnya, investasi pasif adalah cara yang bagus untuk berinvestasi karena menawarkan akses untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi dengan baik sesuai dengan pilihan pasar atau indeks tertentu seperti IHSG, S&P 500 atau indeks yang lain. Namun, ketika berbicara tentang pasar saham di Indonesia, ia berpikir bahwa strategi pasif mungkin tidak cukup baik untuk menghasilkan keuntungan jangka panjang yang diinginkan oleh investor.

Apabila melihat data historis dibawah, indeks S&P 500 memperoleh imbal hasil tahunan lebih kurang 8%-11% dalam 5-30 tahun terakhir secara konsisten. Akan tetapi, Indeks Harga Saham Gabungan hanya mendapatkan rata-rata imbal hasil tahunan yang malah cenderung menurun dari tahun ketahun (rata-rata 11% dalam 30 tahun terakhir, tapi hanya rata-rata 3% dalam 5 tahun terakhir). 

"Oleh karena itu, kami pikir tepat untuk menerapkan strategi investasi aktif untuk menghasilkan return optimal bagi investor," tuturnya. 

Di Asiantrust Asset Management, jelas Julian, terdapat sejumlah strategi pengelolaan portofolio nasabah untuk mendapatkan return yang optimal. Terkait alokasi saham, dalam menentukan pilihan yang tepat, Asiantrust ungkapnya akan menimbang target harga dan asumsi yang dipergunakan untuk menentukan target harga tersebut. 

Baca juga: Ditopang Crossing Beli Saham FREN,  Investor Asing Cetak Net Buy Rp 1,57 Triliun

"Alokasi atas saham tergantung kepada asumsi kami, keyakinan kami atas kenaikan harga, dan margin of safety kami dengan asumsi-asumsi yang dipergunakan dari target price kami. Apabila terdapat terlalu banyak risiko terkait dengan target price kami walaupun kami suka dengan emiten tersebut, kemungkinan besar kami akan memberikan alokasi yang lebih kecil. Kalau kami merasa saham itu cenderung undervalued dan akan mencapai target price, kita akan memberikan alokasi yang lebih besar," bebernya. 

Untuk sekarang, karena kondisi makro mengalami inflasi dan ekonomi dunia dalam tren kenaikan suku bunga, pihaknya melakukan penempatan lebih (overweight) pada sektor perbankan seperti BCA, Mandiri, BNI dan BRI. Walaupun Bank Indonesia masih mempertahan suku bunga acuan di level 3,50%, pertumbuhan volume kredit dan kondisi sektor perbankan kami nilai masih cukup kuat, hingga sektor perbankan masih akan memiliki potensi kedepannya. 

Jika akhirnya BI menaikkan suku bunga, sektor perbankan (khususnya big 4 banks) juga akan diuntungkan dari  kenaikan suku bunga tersebut karena kenaikkan suku bunga akan menaikkan net interest margin. Demikian juga sektor komoditas seperti batu bara dan agrikultur yang kami rasa masih positif.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN