Menu
Sign in
@ Contact
Search
Investor melihat pergerakan saham di sebuah gedung perkantoran, Jakarta. (B-Universe Photo/David Gita Roza)

Investor melihat pergerakan saham di sebuah gedung perkantoran, Jakarta. (B-Universe Photo/David Gita Roza)

Dear Investor, Ini Saran Investasi di Pasar Modal pada 2023

Jumat, 6 Jan 2023 | 04:00 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Sambut 2023, sejumlah analis mengingatkan para investor untuk tetap berhati-hati saat berinvestasi di saham, produk turunannya maupun obligasi. Beragam faktor yang menjadi alasan mulai dari kenaikan suku bunga, perlambatan ekonomi global, hingga faktor geopolitik.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menjelaskan, pada tahun ini diperkirakan akan menjadi tahun yang sangat menantang bagi kelas aset berisiko seperti saham. Mengingat risiko seperti kenaikan suku bunga yang agresif, serta perlambatan ekonomi yang akan mengguncang sebagian besar ekonomi dunia. Sama halnya untuk reksa dana saham. Meski demikian, volatilitas ini diproyeksikan berlangsung hingga semester pertama 2023.

“Sementara untuk reksa dana pendapatan tetap juga kurang lebih sama, menunggu sinyal pembalikan arah dari bank sentral serta inflasi yang sudah mulai turun,” jelasnya kepada Investor Daily, Kamis (5/1/2023).

Baca juga: Pelayaran Nasional Ekalya (ELPI) Akuisisi Perusahaan Offshore Supply Ship Malaysia

Advertisement

Lebih lanjut soal reksa dana, Fajar mengatakan, sepanjang tahun ini hingga November 2023 dana kelolaan reksa dana terlihat mengalami penurunan cukup signifikan, yang didorong oleh penurunan pada jenis saham, pasar uang, campuran, dan ETF. Sementara, reksa dana indeks mengalami kenaikan dan menunjukkan appetite investor mulai mempercayakan kepada investasi dengan pengelolaan pasif, yang minim biaya.

Soal investor, lanjut dia, jumlahnya diproyeksikan masih melanjutkan kenaikan, seiring proses digitalisasi pemasaran produk-produk investasi yang digencarkan oleh regulator. “Untuk saham, masih banyak investor ritel apalagi jika melihat dinamika pasar saham saat ini yang cukup fluktuatif tentu digerakkan oleh sentimen-sentimen, yang mana tertuju kepada investor ritel yang berorientasi trading,” ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi mengatakan, untuk alokasi asetnya sendiri akan dikembalikan kepada profil risiko kepada masing-masing investor. Secara umum untuk jangka pendek, kelas aset saham akan lebih fluktuatif merespon perkembangan pasar global. Namun dalam jangka panjang potensi pertumbuhannya masih cukup baik selaras dengan potensi pertumbuhan ekonomi indonesia.

Baca juga: Ifishdeco (IFSH) Buyback Saham Rp 200 Miliar

Untuk pasar uang dalam jangka pendek, Eri mengatakan, akan diuntungkan oleh laju kenaikan suku bunga yang ada. “Saya rasa seharusnya dengan perkembangan literasi keuangan yang ada, investor akan semakin paham bahwa investasi yang bijaksana adalah jangka panjang,” kata dia.

Sementara itu, riset Bareksa menyebutkan, tahun ini investor perlu memperhatikan dua hal, yakni potensi perlambatan ekonomi global dan potensi berakhirnya pengetatan kebijakan moneter. Kenaikan tingkat suku di negara maju seperti AS dan Eropa diproyeksikan mendorong perlambatan ekonomi. Di sisi lain, jika inflasi melandai dan kebijakan suku bunga mulai melonggar akan jadi sentimen positif untuk aset yang lebih berisiko.

Hingga semester I-2023 menurut konsensus pasar, tingkat suku bunga AS masih akan naik sampai ke level 5-5,25% dari saat ini 3,75-4%. Risiko geopolitik seperti efek perang Rusia-Ukraina dan efek lockdown Tiongkok juga diperkirakan berlanjut untuk periode yang sama.

Pada kuartal III-2023 investor melihat inflasi yang lebih rendah dan stabil sehingga muncul harapan terjadinya pemangkasan tingkat suku bunga acuan. Di sisi lain, investor asing terlihat mulai melakukan aksi beli di SBN. Selama bulan November 2022 ada capital inflow sekitar Rp23,2 triliun dan kepemilikan asing di SBN juga meningkat menjadi 14,26% dibandingkan akhir Oktober sebesar 13,9%.

Baca juga: Indef Sebut Investasi Masuk RI Tak Berkualitas, Ini Alasannya 

Strategi Investasi

Untuk kuartal I & II 2023, Bareksa menyarankan, investor masih dapat berinvestasi pada reksa dana saham dan reksa dana indeks berbasis saham kapitalisasi besar serta porsi yang seimbang antara reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi maupun basis SBN.

Melihat potensi pembalikan arah di pasar SBN, karena masuknya investor asing sejak November 2022, investor tentu perlu untuk memiliki porsi di reksa dana pendapatan tetap berbasis SBN. Namun, investor tetap mempertimbangkan yield obligasi yang atraktif, yakni jika kembali menyentuh di atas level 7,3%.

Masuki semester II, jika risiko dan inflasi global semakin menurun, investor dapat kembali berinvestasi pada reksa dana berbasis saham sektor properti dan infrastruktur yang saat ini masih tertinggal karena tertekan kenaikan suku bunga.

Selain itu, reksa dana saham dan reksa dana indeks serta reksa dana pendapatan tetap dapat dipertimbangkan untuk investasi di semester I-2023. Selain itu, reksa dana pasar uang bisa digunakan sebagai diversifikasi untuk semua profil risiko.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com