Net Buy Investor Asing. Investor memantau pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Mengutip data RTI, dalam sebulan terakhir, investor  asing mencatat net buy sebesar Rp16,76 triliun di seluruh pasar.

Net Buy Investor Asing. Investor memantau pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Mengutip data RTI, dalam sebulan terakhir, investor asing mencatat net buy sebesar Rp16,76 triliun di seluruh pasar.

Ini Dia 5 Jebakan Rekayasa Transaksi Saham yang Perlu Anda Waspadai

Sabtu, 14 Jan 2023 | 14:10 WIB
Frans S. Imung (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pasar modal dikenal punya kelengkapan aturan paling memadai. Termasuk dalam hal pengawasan transaksi saham. Meski demikian, tidak berarti pelaku pasar boleh mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam bertransaksi. Sebab, selalu ada saja kemungkinan penyelewengan, memanfaatkan peluang maupun celah aturan yang ada. Termasuk dalam aktivitas transaksi, terutama di pasar sekunder.

Sejauh pengawasan oleh otoritas bursa, umumnya ditemukan lima bentuk kecurangan dalam kaitan dengan rekayasa transaksi saham. Pada berbagai kesempatan, BEI pun mensosialisasikan temuan tersebut, untuk melindungi kepentingan investor.

Transaksi semu atau wash sale merupakan jenis kecurangan yang paling sering terjadi. Transaksi semu sejatinya merupakan praktik jual beli sepihak, tidak terjadi perubahan kepemilikan. Tujuannya agar saham menjadi lebih likuid, dan mengerek harga. Tak jarang investor yang tidak cermat, terjebak dalam rekayasa pasar model ini.

BACA JUGA: Lagi-lagi Net Sell Rp 550,82 Miliar, Investor Asing Lanjut Lepas Saham Bank

Advertisement

Investor disarankan cermat mengemati transaksi model ini, yang kerap ditandai dengan kenaikan harga yang begitu tinggi dalam tempo cepat, tanpa informasi strategis tentang aksi korporasi emiten. Praktik transaksi semu sebenarnya ada sanksi pidana, tetapi alangkah bijaknya bila investor cermat sehingga tidak terjebak rekayasa. Mekanisme lazim di BEI, pergerakan saham yang mencurigakan akan dipantau, dan akan dilakukan penghentian perdagangan sementara (suspend) jika pergerakan harga disimpulkan tidak wajar.

Praktik curang kedua disebut marking the close. Pada kasus ini, ada oknum atau pihak yang dengan sengaja menaikkan harga saham pada akhir perdagangan. Bisa saja terjadi, harga yang melonjak pada akhir perdagangan, menarik minat investor pada hari-hari transaksi berikutnya. BEI sudah berupaya mencegahnya dengan ketemtuam pre opening dan pre closing yang mulai berlaku sejak tanggal 2 Januari 2013. Dengan ketentuan pre closing, pihak yang bertransaksi tidak bisa diketahui orang lain untuk menghindari penyalahgunaan informasi.

BACA JUGA: IHSG Pekan Depan Bervariatif, Lima Saham Masuk Daftar Pantauan  

Praktik ketiga, permintaan dan penawaran palsu (creating fake demand supply). Ini merupakan bentuk transaksi palsu yang biasanya dilakukan pada saham yang tidak likuid. Praktik sepeti ini bisa diidentifikasi dari pembelian saham tidur, lalu dijual lagi oleh investor yang sama, dan dalam tempo tidak lama dibeli lagi, dan withdraw lagi. Posisi beli dan jual pada pemesanan sesungguhnya palsu.

Transaksi palsu keempat disebut front running. Praktik curang seperti ini bisa terjadi di tempat billing broker atau bahkan pada pihak nasabah. Aksi ini juga dikenal sebagai upaya mencuri start. Investor bersangkutan melakukan transaksi terlebih dahulu karena karena mengentahui informasi tertentu yang belum diketahui pelaku pasar lain. Katakanlah pada satu perusahaan efek ada order untuk beli. Informasi itu bocor, lalu dimanfaatkan oleh oknum investor untuk melakukan pembelian saham lebih dulu.

Praktik kelima juga sering dilakukan di pasar adalah unusual value and volume. Ini merupakan bentuk transaksi tidak wajar. Nilai transaksi seorang investor yang biasanya rata-rata hanya sebesar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta, tiba-tiba pada satu kesempatan meningkat pesat hingga Rp 5 miliar.

BACA JUGA: OJK Rilis Aturan Baru Modal Perbankan

Ini merupakan karakter alsi investor yang bersangkutan. Broker yang mengenal benar nasabahnya pasti bisa melihat indikasi tidak wajar seperti ini. Itu sebabnya, prinsip mengenal profil dan karakter transaksi nasabahnya masing-masing itu perlu menjadi perhatian AB. Bukan tidak mungkin, terjadi praktik money laundering pada transaksi seperti ini.

Umumnya para broker telah memiliki data profil nasabah secara detal, sejak investor berangkutan mendaftar menjadi member pada AB bersangkutan. Prinsip mengenal nasabah atau know your customer (KYC) telah diatur dalam peraturan OJK Nomor V.D.10. Berdasarkan ketentuan itu, investor diwajibkan memberikan informasi rinci dan detil kepada broker.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Majalah Investor

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com