Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat perkembangan harga saham melalui ponse.  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat perkembangan harga saham melalui ponse. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG Diprediksi Cenderung Konsolidasi

Minggu, 11 Oktober 2020 | 12:08 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, pekan depan, diprediksi berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 5,001 sampai 4,881 dan resistance di level 5,099 sampai 5,187.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, pelaku pasar akan mencermati dengan seksama perkembangan politik di AS, dan juga dampak dari disahkannya UU Omnibus Law.

Menurut dia, Omnibus Law UU Cipta Lapangan Kerja akan memberikan banyak sentimen positif bagi dunia bisnis dan ekonomi Indonesia. "Dampaknya memang akan terasa dalam jangka panjang, tapi sangat positif bagi bisnis," kata dia di Jakarta, Minggu (11/10/2020).

Sektor manufaktur mendapatkan manfaat dan berpeluang mendapatkan realokasi pabrik dari Tiongkok ke Negara Asia Tengara. "Kemudahan investasi bagi pemodal asing akan mengurangi ketergantungan foreign inflow ke dunia keuangan," tambahnya.

Aksi penolakan Omnibus Law UU Cipta Lapangan Kerja, kata dia, sejauh ini tidak membuat pelaku pasar panik. "Pasar saham tetap positif karena biasanya demo berlangsung pendek dan tidak punya pengaruh besar pada perekonomian."

Tetapi di tengah pandemi Covid 19 aksi demo akan menyebabkan klaster baru penyebaran Covid 19. "Kami perkirakan akan terjadi lonjakan kasus positif Covid 19 satu minggu setelah demo yang terjadi," kata Hans Kwee.

Menurut dia, PSBB total di DKI Jakarta tidak terlalu efektif menekan angka kasus baru Covid 19 dan sebaiknya dihentikan.

Peningkatan kasus Covid-19, kata dia, juga menjadi perhatian pasar. Beberapa negara menghadapi ancaman gelombang kedua menjelang musim dingin.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Sumber: Beritasatu TV
Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee
 Sumber: Beritasatu TV

Faktor Global

Hans Kwee mengatakan, pasar juga mencermati perkembangan politik di Amerika Serikat dan juga kemajuan paket stimulus yang diharapkan bisa mendongkrak harga saham.

Beberapa sentimen lainnya yang mungkin mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ke 2 Oktober 2020 adalah:

1. Pasar keuangan fluktuasi akibat naik turunnya kemajuan perundingan stimulus fiskal. Saat ini ekonomi Amerika Serikat sangat membutuhkan stimulus fiskal menyusul perlambatan pemulihan ekonomi yang terjadi.

2. Ketua DPR US Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin kembali gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan. Diperkirakan negosiasi paket stimulus fiskal untuk mengatasi Covid-19 akan terus berlanjut pada pekan ini.

3. Pelaku pasar mulai mengantisipasi peluang kemenangan Joe Biden, kandidat presiden dari Demokrat pada pemilihan presiden 3 November 2020. Kemenangan Biden akan membuka peluang stimulus fiskal yang lebih besar.

4. Jajak pendapat CNN empat pekan jelang pemilu AS menunjukan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden unggul dan diprediksi bakal mampu melewati ambang batas 270 suara elektoral yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilu. Biden diperkirakan memperoleh 290 suara elektoral dan Donald Trump 163 suara elektoral.

6. Popularitas Trump turun setelah debat dan akibat masuk rumah sakit karena Covid 19. Trump mungkin akan menaikan dukungannya dengan memberikan tekanan pada Tiongkok untuk meraih kembali dukungan.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN