Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / David Dee Delgado)

Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / David Dee Delgado)

Wall Street akan Cermati Yield Obligasi AS

Senin, 4 Oktober 2021 | 05:37 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Para investor di Wall Street pekan ini diperkirakan fokus mencermati imbal hasil obligasi pemerintah AS, sebagai kunci utama untuk menentukan bagaimana kinerja saham sepanjang sisa tahun ini. Setelah dalam satu bulan terakhir pasar saham mencatat beberapa kerugian terdalam sejak dimulainya pandemi Covid-19.

Indeks S&P 500 misalnya, pada September mencatatkan penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020. Indeks tersebut turun 5% di bawah rekor tertinggi sepanjang masanya pada untuk pertama kalinnya di tahun ini.

Pasar saham bergejolak lantaran imbal hasil obligasi AS melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun. Hal ini menambah kekisruhan, yang sudah memanas di seputar perdebatan tentang pagu utang pemerintah federal AS, nasib rencana infrastruktur pemerintahan Presiden Joe Biden, dan ancaman dari kemungkinan ambruknya raksasa properti Tiongkok China Evergrande Group. Walau begitu, S&P 500 masih naik 16% di sepanjang 2021 ini.

“Para investor sedang mencari katalis dan katalis yang sekarang menjadi fokus mereka adalah arah dari kupon bunga,” ujar Sam Stovall, direktur strategi investasi CFRA, seperti dikutip AFP.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak dari level rendah historis. Kenaikannya belakangan ini dipandang sebagai tanda-tanda penguatan ekonomi AS.

Reli itu terjadi setelah pernyataan The Federal Reserve (The Fed) yang menguat pada rapat kebijakan moneternya pekan lalu. The Fed menyatakan pembelian obligasi pemerintah senilai US$ 120 miliar per bulan dapat mulai dikurangi paling cepat November 2021. Lalu suku bunga acuan berpotensi untuk mulai dinaikkan tahun depan alias lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik 27 basis poin setelah pertemuan The Fed. Hal ini akan mengurangi minat terhadap saham. Imbal hasil obligasi 10 tahun itu berkutat di level 1,47%.

Pasar saham dan obligasi di AS diperkirakan mencermati perkembangan-perkembangan di Washington sepanjang pekan ini. Kongres akan melanjutkan pembahasan soal paket belanja infrastruktur. Lalu pada Jumat pekan ini juga akan keluar laporan terbaru pasar tenaga kerja AS.

Di antara indikator yang dicermati para investor untuk mengukur arah pergerakan saham ke depan adalah selisih antara imbal hasil obligasi dua tahun dan 10 tahun. Sebagian investor memandangnya sebagai barometer kesehatan ekonomi AS, apakah melambat atau memanas.

“Selisih antara nol dan 150 basis poin adalah titik paling pas untuk saham, karena konsisten dengan imbal hasil tahunan 11% untuk indeks S&P 500 berdasarkan data historisnya,” ujar Ed Clissold, direktur strategi AS di Ned Davis Research.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN