Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pil Covid-19 eksperimental yang disebut molnupiravir, sedang dikembangkan oleh Merck & Co Inc dan Ridgeback Biotherapeutics LP. ( Foto: Merck & Co Inc/Handout via REUTERS )

Pil Covid-19 eksperimental yang disebut molnupiravir, sedang dikembangkan oleh Merck & Co Inc dan Ridgeback Biotherapeutics LP. ( Foto: Merck & Co Inc/Handout via REUTERS )

AS akan Beli 1,7 Juta Pil Covid Percobaan

Jumat, 11 Juni 2021 | 07:17 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Rabu (9/6) waktu setempat mengumumkan perjanjian dengan Merck untuk membeli 1,7 juta pil antivirus Covid-19 percobaan. Kesepakatan bernilai US$ 1,2 miliar itu adalah untuk membeli obat molnupiravir, yang saat ini sedang dilakukan uji klinis Fase 3 global terhadap 1.850 orang. Hasilnya diharapkan keluar pada musim gugur mendatang.

“Perjanjian itu adalah bagian dari pendekatan seluruh pemerintahan Presiden Joe Biden untuk mengembangkan perawatan Covid-19 baru dan untuk merespons kebutuhan kesehatan masyarakat,” ujar Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, yang dikutip AFP.

AS sendiri baru akan menyelesaikan kesepakatan, jika molnupiravir telah menerima otorisasi penggunaan darurat atau persetujuan penuh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA).

Di sisi lain, Presiden Merck, Rob Davis mengaku senang perusahaannya dapat bekerja sama dengan Pemerintah AS. Perjanjian baru ini akan memberi warga Amerika akses pengobatan Covid-19, dengan menggunakan molnupiravir.

Perusahaan berharap memiliki lebih dari 10 juta pil percobaan untuk perawatan selama lima hari, yang diperkirakan tersedia pada akhir 2021. Molnupiravir, yang dikembangkan Merck dalam kemitraan dengan Ridgeback Biotherapeutics, adalah salah satu dari beberapa antivirus oral yang sedang diteliti dan diujikan terhadap virus Covid-19.

Menurut para ahli, langkah itu diperlukan karena tidak semua orang merespons vaksin Covid-19 dengan baik. Di samping itu, akses vaksin masih menjadi masalah utama bagi sebagian besar negara di dunia.

Molnupiravir termasuk dalam kelas antivirus yang disebut polymerase inhibitors, yang bekerja dengan menargetkan enzim yang dibutuhkan virus untuk menyalin materi genetik mereka, dan memperkenalkan mutasi yang membuat mereka tidak dapat bereplikasi.

Dalam studi laboratorium, jenis pengobatan itu telah menunjukkan efektivitas terhadap virus lain, seperti influenza, Ebola, dan virus Venezuelan Equine Encephalitis. Namun pil ini belum memperoleh pengesahan atau disetujui.

Hasil awal dari uji coba Fase 2 menunjukkan, di antara lusinan sukarelawan yang dites positif di awal, tidak satu pun dari mereka yang menerima molnupiravir memiliki virus corona yang terdeteksi pada hari kelima. Sedangan seperempat dari relawan yang menerima plasebo, terpapar virus corona.

Angka-angkanya memang menjanjikan, tetapi sampelnya masih terlalu kecil untuk menarik kesimpulan yang pasti. Itu sebabnya sekarang sedang dipelajari dalam kelompok yang jauh lebih besar. Jika terbukti efektif, antivirus terhadap Covid-19 akan paling efektif terbatas setelah seseorang dites positif, tetapi sebelum penyakitnya menjadi parah.

Pada tahap ini, sebagian besar bahaya yang dialam kesehatan pasien berasal dari sistem kekebalan mereka sendiri yang bekerja terlalu keras dan merusak organ mereka, daripada replikasi virus. Upaya penting lainnya termasuk antivirus yang sedang dikembangkan oleh Roche, bekerja sama dengan Atea. Sedangkan lainnya dikembangkan oleh Pfizer, yang secara khusus untuk melawan Covid-19.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN