Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sebuah botol vaksin Covid-19 dari Pfizer dan BioNTech yang telah lama dinantikan sedang diperlihatkan selama konferensi pers yang digelar di Northwell Health, Pusat Kesehatan Long Island Jewish, Queens, New York, Amerika Serikat (AS), pada 14 Desember 2020. ( Foto: Timothy A. Clary / AFP )

Sebuah botol vaksin Covid-19 dari Pfizer dan BioNTech yang telah lama dinantikan sedang diperlihatkan selama konferensi pers yang digelar di Northwell Health, Pusat Kesehatan Long Island Jewish, Queens, New York, Amerika Serikat (AS), pada 14 Desember 2020. ( Foto: Timothy A. Clary / AFP )

AS Beli Setengah Miliar Dosis Vaksin Covid untuk Negara-Negara Termiskin

Jumat, 11 Juni 2021 | 06:46 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Kamis (10/6) waktu setempat dijadwalkan mengumumkan sumbangan bersejarah AS berupa setengah miliar dosis vaksin Covid-19 untuk 92 negara miskin di seluruh dunia

 

Pemerintah AS membeli 500 juta dosis vaksin itu dari Pfizer-BioNTech. Termasuk 200 juta dosis yang ditetapkan untuk dikirimkan ke seluruh dunia pada akhir tahun ini. Sisanya akan dikirim paling lambat pada Juni 2022.

"Pembelian dan donasi vaksin terbesar yang pernah dilakukan oleh satu negara (ini akan) membantu meningkatkan perjuangan global melawan pandemi," bunyi pernyataan perwakilan Gedung Putih, yang dilansir AFP pada Kamis (10/6).

Biden, sementara itu, sudah berada di Inggris untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) G-7 selama tiga hari.

"(Beliau) juga akan menyerukan demokrasi global dunia untuk melakukan perannya dalam berkontribusi pada pasokan global vaksin yang aman dan efektif," tambah Gedung Putih.

Pemerintah AS sebelumnya mendapat kecaman karena menimbun stok vaksin yang tidak terpakai dalam jumlah besar. Sebelumnya, pemerintah mengatakan pada awalnya stok diperlukan sebagai tindakan pencegahan dalam programnya untuk memberikan vaksin kepada warga AS.

Namun, dengan tingkat vaksinasi domestik sekarang telah mencapai 64% orang dewasa yang menerima setidaknya satu dosis, pemerintah AS bergerak cepat untuk merebut kembali kepemimpinan global dalam masalah ini.

Menolak isu bahwa pemerintah AS terlibat dalam apa yang disebut kontes diplomasi vaksin dengan Rusia dan Tiongkok, perwakilan pemerintah menggambarkan inisiatifnya sebagai kembalinya aksi multilateral setelah kepemimpinan nasionalis isolasionisme era kepresidenan Donald Trump.

Lonjakan sumbangan baru yang sangat besar ini bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan mengakhiri pandemi.

"Amerika Serikat menggunakan kekuatan demokrasi kita, kecerdikan ilmuwan Amerika, dan kekuatan manufaktur Amerika untuk mengalahkan pandemi secara global dengan membantu memvaksinasi dunia," terang Gedung Putih.

Vaksin akan didistribusikan melalui program internasional Covax untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.

Pengumuman ini keluar di atas janji sebelumnya untuk menyumbangkan sekitar 80 juta vaksin pada akhir Juni, berikut kontribusi US$ 2 miliar untuk pendanaan Covax.

"Presiden Biden telah menjelaskan bahwa perbatasan tidak dapat mencegah pandemi ini dan telah bersumpah bahwa bangsa kita akan menjadi gudang senjata vaksin," lanjut pernyataan itu.

Biden mengisyaratkan pengumuman pada Rabu (9/6) sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One menuju Inggris untuk bertemu sesama pemimpin G7 dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang.

"Saya punya satu (strategi) dan saya akan mengumumkannya," jawab Biden, ketika ditanya apakah ia memiliki strategi vaksin untuk dunia.

The New York Times melaporkan, Biden akan mengumumkan hal tersebut bersama CEO Pfizer Albert Bourla. Kesepakatan itu, menurut laporan media-media AS, akan membuat pemerintah AS membayar harga bukan untuk keuntungan dari dosis-dosis vaksin.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN