Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Boeing 737 MAX. Foto: AFP

Boeing 737 MAX. Foto: AFP

Boeing Pangkas Produksi Pesawat

PYA, Senin, 8 April 2019 | 07:47 WIB

NEW YORK – Boeing mengumumkan akan memangkas produksi pesawat 737 terjadwal, menyusul dua kecelakaan baru-baru ini yang membuat 737 MAX dilarang terbang (grounded) di seluruh dunia.

Boeing juga menyamaikan akan membentuk panel penasihat untuk meninjau kebijakan-kebijakan perusahaan dalam merancang dan mengembangkan pesawat.

Menurut laporan, raksasa produsen pesawat Amerika Serikat (AS) itu berencana mengurangi produksi dari 52 pesawat menjadi 42 pesawat per bulan, mulai pertengahan April tahun ini.

Saham Boeing sendiri dikabarkan terjun bebas 2,3% menjadi US$ 382,92, usai pengumuman yang disampaikan tepat setelah penutupan perdagangan Wall Street.

Pada awal pekan ini Federal Aviation Administration (FAA) telah menyampaikan, bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan bahkan sebelum raksasa produsen pesawat itu dapat mengajukan usulan perbaikan, yang diyakini menjadi faktor dalam bencana.

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Boeing Dennis Muilenburg, rencana pengurangan produksi pesawat sifatnya hanya sementara, dan tidak akan memengaruhi tingkat pekerjaan saat ini untuk program 737 dan program-program terkait.

“Kami berkoordinasi erat dengan para pelanggan kami di saat kami mengerjakan rencana untuk mengurangi dampak penyesuaian ini. Kami juga akan bekerja secara langsung dengan para pemasok kami tentang rencana produksi mereka untuk meminimalisir gangguan operasional, dan dampak keuangan akibat perubahan tingkat produksi,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Boeing tercatat masih terus memproduksi pesawat 737 setelah kecelakaan maskapai Ethiopia Airlines pada 10 Maret, yang menewaskan 157 orang. Peristiwa tersebut adalah kecelakaan mematikan kedua dalam lima bulan pasca kecelakaan yang dialami Lion Air Indonesia, pada Oktober 2018 yang menewaskan 189 orang.

Hanya saja, Boeing tidak dapat melakukan pengiriman pesawat ke para pelanggannya. Diperkirakan, pemberhentian penting itu akan mengganggu pendapatan perusahaan, di mana Boeing dijadwalkan melaporkan hasil pendapatan Kuartal I pada 24 April.

Boeing menambahkan, panel penasehat baru akan dipimpin oleh purnawirawan Laksamana Angkatan Laut AS Edmund Giambastiani, sekaligus mantan wakil ketua Kepala Staf Gabungan AS.

“Komite akan memastikan efektivitas kebijakan dan proses kami untuk memastikan tingkat keamanan tertinggi pada program 737 MAX, serta program pesawat kami yang lain, dan merekomendasikan perbaikan pada kebijakan dan prosedur kami. Keselamatan adalah tanggung jawab kami dan kami memilikinya,” katanya dalam pernyataan. (afp)

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN