Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. ( Foto: Paul Grover / POOL / AFP )

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. ( Foto: Paul Grover / POOL / AFP )

DK PBB Bahas Dampak Pemanasan Global ke Perdamaian

Senin, 22 Februari 2021 | 06:48 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id – Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (23/2) menggelar pertemuan puncak para pemimpin dunia via konferensi video. Mereka akan membahas implikasi-implikasi perubahan iklim terhadap perdamaian dunia. Isu ini sudah menimbulkan perdebatan di antara 15 negara anggota DK PBB.

Pertemuan ini digagas oleh Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson. Dan berlangsung beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden resmi menggabungkan kembali negaranya ke dalam Pakta Iklim Paris.

Johnson akan memimpinn forum tersebut. Karena Inggris sekarang menjabat kepresidenan DK PBB. Para pemimpin yang dijadwalkan ikut serta antara lain utusan khusus AS untuk iklim John Kerry, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, dan PM dari Irlandia, Vietnam, Norwegia, serta negara anggota lainnya.

Pertemuan ini juga akan menguji hubungan baru antara AS dan Tiongkok. Karena akan membahas salah satu isu besar yang harus disepakati dua kekuatan utama dunia ini.

“Kita akan melihat bagaimana posisi Tiongkok terhadap AS. Biasanya Rusia dan Tiongkok akan serta merta mengatakan (perubahan iklim) tidak ada urusannya dengan DK,” kata seorang diplomat yang tidak disebutkan namanya, kepada AFP, Minggu (21/2).

Tapi sekarang, tambah dia, Tiongkok harus lebih bertanggung jawab untuk terbuka terhadap diskusi semacam ini. Berarti Rusia akan menunjukkan posisinya sendiri.

Rusia selama ini berpendapat perubahan iklim bukan lah isu yang harus ditangani oleh DK PBB. Diplomat itu mengatakan, Rusia lebih memilih untuk membahasnya kasus per kasus.

“Pertemuan Selasa ini akan fokus pada aspek-aspek keamanan dari perubahan iklim,” ujar diplomat lain, yang juga tidak disebutkan namanya.

Beberapa negara anggota tidak tetap DK PBB, termask Kenya dan Niger, sudah menyuarakan kekhawatirannya akan dampak perubahan iklim terhadap keamanan nasional masing-masing.

“Negara-negara lain tidak menginginkan DK PBB menjadi organ yang hanya menangani isu keuangan, adaptasi, mitigasi, dan negosiasi,” kata diplomat tersebut.

Diplomat yang lainnya mengatakan, Tiongkok, Rusia, dan negara-negara lain enggan bila DK membahas perubahan iklim beserta implikasi-implikasinya. Jadi, untuk kali ini belum akan keluar pernyataan bersama,” kata diplomat tersebut.

Ia menambahkan, Tiongkok dan Rusia berpikir bahwa ini adalah isu lain yang tidak ada hubungannya dengan keamanan dan perdamaian.

“Mereka tidak mau DK mengambil keputusan tentang pilihan-pilihan ekonomi. Walau mereka paham bahwa perubahan iklim juga memiliki implikasi-implikasi yang dapat memicu konflik,” lanjut diplomat tersebut.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN