Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teknologi 5G. Foto ilustrasi: lintangtech.com

Teknologi 5G. Foto ilustrasi: lintangtech.com

Dominasi Telekomunikasi Tiongkok Dapat Membahayakan

(gor/ant), Selasa, 26 Februari 2019 | 07:17 WIB

SINGAPURA – Dominasi Tiongkok di pasar jaringan telekomunikasi global dapat menimbulkan ancaman-ancaman keamanan untuk beberapa dekade. Kekhawatiran tersebut berkenaan dengan mulai digelarnya jaringan seluler generasi kelima kecepatan ultratinggi atau 5G oleh sejumlah negara tahun ini.

Kekhawatirannya adalah Tiongkok dapat memanfaatkan peranti keras asal perusahaan-perusahaannya untuk memata-matai pemerintah negara-negara Barat.

“Tantangan strategis dari posisi Tiongkok di era teknologi yang semakin mengglobal jauh lebih besar dibandingkan hanya satu perusahaan perangkat telekomunikasi. Ini merupakan tantangan strategis pertama bagi kita semua,” ujar Jeremy Fleming, pakar keamanan siber dari badan keamanan siber Inggris GCHQ, saat berbicara di Singapura, Senin (25/2).

Menurut dia, tantangan strategis yang sangat kompleks itu akan berlangsung hingga beberapa dekade ke depan. “Jadi bagaimana kita menanganinya bakal sangat penting bagi kemakmuran dan keamanan di luar kontrak-kontrak 5G,” tambah Fleming.

Sepanjang tahun lalu, Amerika Serikat (AS) terus menekan sekutu- sekutunya untuk memblokir raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei, untuk membangun jaringan 5G di negara masing-masing. Alasan-alasan keamanan menjadi pertimbangannya.

Keberadaan Huawei sudah sangat dibatasi di AS, Australia, dan Selandia Baru. Sedangkan Inggris sudah meluncurkan kajian keamanan, yang akan memutuskan apakah teknologi Huawei akan dipakai dalam jaringan 5G di Inggris Raya. Para eksekutif Huawei pada Desember tahun lalu sudah bertemu para pejabat senior Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris. Mereka menyepakati serangkaian persyaratan teknis untuk memenuhi standarstandar keamanan Inggris.

Fleming mengatakan, persyaratan itu barangkali adalah rezim pengawasan paling ketat bagi perusahaan tersebut. “Kami membutuhkan pasar yang beragam dan bersaing dari sisi kualitas serta keamanan, selain tentu dari sisi harga,” kata Fleming.

Berbicara di hadapan pada pemimpin negara dan militer se-Asia Tenggara, Fleming mengatakan bahwa separuh dari 1.100 serangan siber di Inggris dalam dua tahun terakhir melibatkan aktor Negara sebagai dalangnya. Inggris menyebut antara lain Tiongkok dan Rusia. (afp/sn)

 

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN