Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto yang diambil pada 5 April 2020, menunjukkan deretan truk pendingin yang digunakan sebagai kamar mayat sementara tampak diparkir di luar Rumah Sakit Bellevue di New York, Amerika Serikat (AS). ( Foto: BRYAN R. SMITH / AFP )

Foto yang diambil pada 5 April 2020, menunjukkan deretan truk pendingin yang digunakan sebagai kamar mayat sementara tampak diparkir di luar Rumah Sakit Bellevue di New York, Amerika Serikat (AS). ( Foto: BRYAN R. SMITH / AFP )

JP Morgan Prediksi Ekonomi AS Masih Terkontraksi Pada Q1/2021

Sabtu, 21 November 2020 | 19:44 WIB
Fajar Widhiyanto

Ekonom JPMorgan menilai pada kuartal I tahun 2021 kontraksi ekonomi masih akan terjadi di Amerika Serikat sebagai imbas dari penyebaran virus korona dan pembatasan aktivitas publik yang diberlakukan oleh sejumlah negara bagian dan kota.

Perkiraan baru ini berbeda dari pandangan yang banyak dipegang sejumlah kalangan di bursa Wall Street, yang memproyeksikan bahwa kuartal pertama tahun depan ekonomi Amerika Serikat akan masuk zona positif, dengan ekonomi yang membaik sepanjang tahun 2021.

Ekonom JPMorgan dalam pernyataannya yang dilansir CNBC.com, Jumat (20/11) waktu setempat, mengatakan mereka memperkirakan ekonomi akan berkembang pesat pada kuartal kedua dan ketiga, berdasarkan perkembangan penemuan vaksin yang positif.

"Musim dingin ini akan suram, dan kami yakin ekonomi akan berkontraksi lagi di Kuartal I," tulis para ekonom tersebut.

Mereka memproyeksikan kuartal pertama akan berkontraksi 1% setelah pertumbuhan 2,8% di kuartal keempat tahun 2020. Untuk kuartal kedua, mereka melihat ekonomi akan rally dan pertumbuhan akan berada di angka 4,5% diikuti oleh 6,5% di kuartal ketiga.

Para ekonom tersebut juga memperkirakan akan adanya dana sekitar US$ 1 triliun berupa stimulus fiskal, yang kemungkinan besar akan digelontorkan mulai akhir kuartal pertama. Hal itu diyakini akan membantu meningkatkan pertumbuhan negara tersebut di pertengahan tahun 2021.

“Satu hal yang tidak mungkin berubah antara 2020 dan 2021 adalah virus yang akan terus mendominasi prospek ekonomi. ... Jumlah kasus dalam gelombang terbaru ternyata melampaui (angka kasus, red) pada gelombang Maret dan Juli,” tulis para ekonom.

Mereka juga mencatat bahwa ekonomi AS sempat terbantu pada Juli lalu oleh langah pembukaan kembali kegiatan perekonomian. “Sebagai gantinya, sekarang ekonomi menghadapi hantaman dari meningkatnya pembatasan aktivitas (baru, red). Musim liburan, dari Thanksgiving hingga Tahun Baru, akan menjadi ancaman munculnya peningkatan kasus lebih lanjut.”

Para ekonom juga memperkirakan akan melihat penurunan bulanan pada penyerapan jumlah tenaga kerja di berbagai sektor selama beberapa bulan ke depan. Namun demikian diproyeksikan pula akan terjadi penyerapan tenaga kerja kembali pada pertengahan tahun dan kemudian menurun lagi di akhir tahun 2021.

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN