Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Poster perekrutan tenaga kerja di sebuah jendela pertokoan di Manhattan, New York City, Amerika Serikat (AS) pada 5 Juli 2019. Pergerakan mesin tenaga kerja Amerika Serikat (AS) sepanjang Agustus 2019 dilaporkan sedikit tersendat, karena para pengusaha secara di luar dugaan menunda penambahan jumlah karyawan di sektor industri pada data yang dirilis 6 September 2019. (Foto: AFP / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / SPENCER PLATT)

Poster perekrutan tenaga kerja di sebuah jendela pertokoan di Manhattan, New York City, Amerika Serikat (AS) pada 5 Juli 2019. Pergerakan mesin tenaga kerja Amerika Serikat (AS) sepanjang Agustus 2019 dilaporkan sedikit tersendat, karena para pengusaha secara di luar dugaan menunda penambahan jumlah karyawan di sektor industri pada data yang dirilis 6 September 2019. (Foto: AFP / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / SPENCER PLATT)

Penambahan Lapangan Kerja AS Tersendat

Happy Amanda Amalia, Sabtu, 7 September 2019 | 09:12 WIB

WASHINGTON, investor.id – Pergerakan mesin tenaga kerja Amerika Serikat (AS) sepanjang Agustus 2019 dilaporkan sedikit tersendat, karena para pengusaha secara di luar dugaan menunda penambahan jumlah karyawan di sektor industri. Hal ini menjadi pertanda lain bahwa negara dengan kekuatan kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu bisa juga melemah. Demikian data pemerintah yang ditunjukkan pada Jumat (6/9).

Dirilisnya data pemerintah tersebut membuat Presiden AS Donald Trump memperbarui serangannya kepada The Federal Reserve (The Fed) yang ditudingnya telah gagal meningkatkan perekonomian negara dengan cukup cepat, dan menurunkan catatan jumlah lapangan kerja yang telah diciptakan Trump, menjelang pemilihan umum (pemilu) tahun depan.

Hasil lemah yang mengejutkan itu turut memastikan bahwa laju pasar tenaga kerja di 2019 telah melambat dibandingkan lajunya yang cepat pada tahun lalu. Pertikaian dagang AS-Tiongkok berkepanjangan telah menyeret perdagangan global, menyebabkan lonjakan ketidakpastian bisnis dan mendorong manufaktur AS ke dalam resesi.

Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS memprediksi perusahaan-perusahaan hanya menambah 130.000 posisi baru bersih untuk bulan ini, jauh lebih rendah dari perkiraan analis. Sementara tingkat pengangguran tetap stabil pada 3,7%, sedangkan upah mengalami kenaikan.

Depnaker juga memperlihatkan prediksi Mei dan Juni yang berkurang karena hanya mencatatkan tambahan 20.000 posisi sehingga menjadikan rata-rata penambahan dalam tiga bulan menjadi 156.000 posisi, jauh di bawah 241.000 yang tercatat pada Agustus tahun lalu.

Di tengah lemahnya investasi dari perusahaan-perusahaan dan meningkatnya kekhawatiran akan resesi, para pengusaha mengungkapkan bahwa mereka sedang berjuang mencari karyawan yang memenuhi persyaratan untuk mengisi posisi-posisi terbuka.

Turunnya angka-angka tenaga kerja tersebut turut memperparah tekanan kepada (The Fed) untuk memangkas tingkat suku bunga acuan pada akhir bulan ini, seperti yang diperkirakan luas oleh para ekonom.

Bahkan pada Kamis (5/9) malam dan Jumat pagi waktu setempat, Trump kembali melancarkan serangan baru via Twitter terhadap bank setral AS, yang disebut-sebut telah menaikkan tingkat suku bunga terlalu cepat pada tahun lalu.

“Mereka terlalu dini untuk menaikkan, dan telalu lambat untuk menurunkan, pengetatan kuantitatif dalam dosis besar juga tidak membantu,” demikian cuitan Trump.

“Di mana saya menemukan orang ini, Jerome? Ya Sudah, Anda tidak bisa memenangkan semuanya!” kata Trump, merujuk pada Gubernur The Fed Jerome Powell.

Di sisi lain, meski ada penurunan, namun para pekerja mendapat kenaikan gaji dengan peningkatan rata-rata 11 sen per jam sehingga menempatkan total kenaikan upah lebih dari 3% year-on-year (yoy), untuk 13 bulan berturut-turut.

Menurut penjelasan tentang data tenaga kerja Agustus, ternyata masih ada alasan lain yang perlu dikhawatirkan. Pasalnya, sekitar seperempat penambahan karyawan pada Agustus berasal dari pemerintah sendiri, di saat otoritas federal bersiap untuk melakukan sensus pada tahun depan.

Tercatat, pengusaha sektor swasta hanya menambah 96.000 tenaga kerja pada Agustus, atau jauh di bawah perkiraan ekonom yakni 145.000 tenaga kerja. Kemudian di sektor jasa yang dominan, industri ritel, transportasi dan utilitas semuanya membuka lapangan kerja setidaknya selama dua bulan berturut-turut.

Sedangkan penambahan tenaga kerja di sektor pertambangan menyusut, yang kemungkinan disebabkan oleh lemahnya harga minyak mentah. Jumlah penambahan karyawan di industri pendidikan dan kesehatan juga berkurang separuh. Sementara untuk produsen mobil dan layanan informasi serta rekreasi dan perhotelan, tidak ada penambahan karyawan atau flat.

Wall Street pun tampak tidak terkesan dengan angka-angka tersebut, sehingga saham berjangka melemah setelah dirilisnya data tenaga kerja AS. (afp)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN