Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perusahaan Jerman, BioNTech sedang mengembangkan obat bersama raksasa perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS), Pfizer. ( Foto: OMR Industry Journal )

Perusahaan Jerman, BioNTech sedang mengembangkan obat bersama raksasa perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS), Pfizer. ( Foto: OMR Industry Journal )

Pfizer-BioNTech Ajukan Persetujuan Darurat

Sabtu, 21 November 2020 | 06:55 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer dan mitranya dari Jerman BioNTech mengonfirmasikan pada Jumat (20/11) waktu setempat akan mengajukan persetujuan penggunaan darurat vaksin Covid-19. Seiring lonjakan kasus baru di AS memaksa Pemerintah New York menutup sekolah dan California memberlakukan jam malam.

Dunia sekarang tak pelak bergantung kepada para ilmuwan dari pandemi global ini. Karena gelombang kedua infeksi Covid-19 membuat langkah-langkah penutupan pergerakan diberlakukan kembali. Sementara dunia belum pulih dari dampak gelombang pertama infeksi virus tersebut.

Tanda-tanda pertama adanya bala bantuan itu muncul pada Jumat, setelah Pfizer dan BioNTech mengajukan otorisasi penggunaan darurat kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS atau Food and Drug Administration (FDA).

“Upaya kami untuk menghadirkan vaksin yang aman dan efektif menjadi semakin mendesak lagi. Pengajuan di AS ini merupakan terobosan sangat penting dalam perjuangan kami menghadirkan vaksin Covid-19 kepada seluruh dunia,” kata CEO Pfizer Albert Bourla.

Kepala ilmuwan AS untuk operasi pengembangan vaksin Covid-19 mengatakan bahwa lampu hijau untuk penggunaan darurat itu kemungkinan keluar pada Desember 2020.

Pfizer dan BioNTech serta Moderna sekarang memimpin perlombaan global dalam menemukan vaksin Covid-19. Presiden Komisi Uni Eropa (UE) Ursula von der Leyen mengatakan, pihaknya juga dapat memberikan persetujuan darurat sebelum akhir tahun ini.

Sementara Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez pada Jumat berharap sebagian besar dari 47 juta penduduk negaranya sudah dapat divaksinasi pada pertengahan 2021.

Sementara itu, gelombang infeksi baru Covid-19 menghantam banyak negara lebih parah dibandingkan gelombang pertama. Sejak virus ini pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, pada akhir tahun lalu.

Jumlah kematian di seluruh dunia sekarang mendekati 1,4 juta orang. Sedangkan yang terinfeksi mendekati 57 juta orang. Walau angka sesungguhnya tidak diketahui karena beda-beda metode pelaporan dan banyak kasus yang tidak terdeteksi.

Lalu jumlah infeksi di India sudah menembus sembilan juta kasus. India menjadi negara terbesar kedua setelah AS yang mencatatkan kasus positif terbanyak. Sebagian rumah sakit di India sudah kehabisan ruang untuk menampung pasien. Kasus-kasus baru di India melonjak sejak roda perekonomian digulirkan kembali, demi memulihkan ekonomi yang sudah kehilangan jutaan lapangan kerja.

“Pada awal kemunculan virus ini, saya pikir kami akan menguburkan 100-200 orang per hari lalu akan selesai. Tapi situasi seskarang di luar bayangan saya sama sekali,” ujar Mohammed Shamim, seorang penggali kubur di New Delhi, kepada AFP.

Kemudian Meksiko menjadi negara keempat dengan jumlah kematian menembus 100.000 orang. “Kita sekarang berada dalam posisi tidak tahu kapan terjadi penurunan (kasus). Kami tidak tahu seperti apa perkembangannya ke depan,” ujar Malaquias Lopez, pejabat di Kemenkes Meksiko, kepada AFP.

  1.  

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN