Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Backdrop yang terpasang di gedung Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1 April 2021 memperlihatkan pengumuman pertemuan virtual IMF-Bank Dunia yang dimulai 5-11 April 2021 di tengah pandemi Covid-19, di Washington, DC, Amerika Serikat (AS).  ( Foto: DANIEL SLIM / AFP )

Backdrop yang terpasang di gedung Dana Moneter Internasional (IMF) pada 1 April 2021 memperlihatkan pengumuman pertemuan virtual IMF-Bank Dunia yang dimulai 5-11 April 2021 di tengah pandemi Covid-19, di Washington, DC, Amerika Serikat (AS). ( Foto: DANIEL SLIM / AFP )

Saham 'Overvalued' karena Aksi Ambil Risiko Berlebihan

Rabu, 7 April 2021 | 06:46 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Bantuan pemerintah besar-besaran selama krisis ekonomi dan kesehatan yang dipicu pandemi Covid-19 telah membuat likuiditas mengalir deras untuk mendukung ekonomi selama krisis tersebut. Tapi juga turut menyebabkan harga saham di pasar finansial melonjak hingga melampaui nilai yang wajar.

“Dukungan kebijakan luar biasa telah menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang di luar perkiraan, termasuk aksi ambil risiko berlebihan di pasar (finansial),” kata Dana Moneter Internasional atau IMF, Selasa (6/4).

Hal tersebut, kata IMF dalam Laporan Stabilitas Finansial Global di Washington, AS, telah ikut mendorong kenaikan nilai saham hingga melebihi nilai wajar berdasarkan faktor-faktor fundamentalnya.

Harga saham di seluruh dunia, khususnya saham perusahaan-perusahaan teknologi, melonjak selama pandemi Covid-19. Laju kenaikannya semakin tinggi dalam beberapa pekan terakhir dan menembus rekor-rekor tertinggi baru. Seiring ekonomi global menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi yang kuat dari krisis ganda tersebut.

Di pasar saham AS, indeks S&P 500 melonjak lebih dari 50% selama satu tahun terakhir. Sedangkan indeks teknologi Nasdaq melonjak lebih dari 73% dalam periode yang sama.

Di satu sisi, IMF lebih optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Tapi IMF juga meminta para pemerintah tetap mendukung dengan kebijakan-kebijakan terkait, supaya dampak krisis tersebut tidak berkepanjangan.

Tapi IMF juga mengingatkan para pengambil kebijakan untuk menghindarkan warisan kebijakan yang menyebabkan kerapuhan-kerapuhan di sistem finansial. Juga memperketat instrumen-instrumen pengawasan untuk mengatasi naiknya kerentanan.

“Kebijakan-kebijakan yang diambil juga harus jauh-jauh dari pengetatan kondisi finansial karena dapat memicu reaksi yang di luar dugaan,” kata IMF.

Pasar saham mengalami turbulensi dalam beberapa pekan terakhir. Karena prospek pesatnya pemulihan ekonomi AS telah memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS dapat lebih cepat menaikkan suku bunga acuan.

“Untuk saat ini, suku bunga global tetap rendah berdasarkan standar-standar yang pernah ada tapi suku bunga juga dapat menimbulkan volatilitas parah di pasar finansial global,” ujar Tobias Adrian, kepala Departemen Pasar Modal dan Moneter IMF.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN