Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aksi unjuk rasa

Aksi unjuk rasa "Ibu-ibu Tolak Kekerasan Senjata" dan seruan agar dilakukan "Pemeriksaan Latar Belakang Federal" di New York City, Amerika Serikat (AS) pada 18 Agustus 2019. Kongres AS kembali bersidang pada 9 September 2019, pasca penembakan massal baru-baru ini yang membuat warga AS bingung dengan lonjakan kekerasan itu. (Foto: AFP/Johannes EISELE)

Sidang Kongres AS Bahas RUU Senjata

Grace Eldora, Senin, 9 September 2019 | 09:02 WIB

WASHINGTON, investor.id – Kongres Amerika Serikat (AS) memulai sidang pada Senin (9/9) untuk fokus membahas tentang senjata. Ini merupakan sidang pertama sejak insiden penembakan massal baru-baru ini yang membuat warga Amerika bingung dengan lonjakan angka kekerasan. Tetapi Pemimpin Senat dari Republik Mitch McConell menekankan tidak akan mempertimbangkan undang-undang senjata tanpa dukungan Presiden Donald Trump.

Pemimpin Senat Mayoritas McConell memperingatkan, bahwa dirinya hanya akan menyerahkan rancangan undang-undang (RUU) senjata untuk dilakukan pemungutan suara jika Trump menjelaskan telah bersedia menandatangani RUU menjadi undang-undang (UU).

“Bagian administrasi sedang dalam proses mempelajari apa yang sudah siap mereka dukung, jika ada, dan saya berharap mendapat jawaban untuk itu pada pekan depan. Jika presiden mendukung sejumlah hal yang telah dia diskusikan secara terbuka dan di depan umum, dan saya tahu bahwa jika kita mengesahkan RUU itu akan menjadi undang-undang, saya akan serahkan kepada anggota dewan,” ujar McConnell dalam acara radio Hugh Hewitt, Rabu (4/9).

Pernyataan tersebut mengacu pada undang-undang yang telah diloloskan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pimpinan Demokrat, termasuk RUU tentang perluasan pemeriksaan latar belakang bagi para calon pembeli senjata – langkah yang sangat didukung publik – dan menutup celah yang memungkinkan beberapa senjata api ditransfer sebelum pemeriksan selesai.

Selain itu, anggota parlemen dijadwalkan membuka forum pada Selasa (10/9), menuntut aksi Senat dan para kandidat presiden dari Partai Demokrat yang menyerukan larangan senjata serbu ala militer seperti yang digunakan dalam pembantaian baru-baru ini.

Seperti diketahui, peristiwa penembakan publik mengerikan di El Paso dan Odessa, Texas; dan di Dayton, Ohio yang menewaskan 38 orang membuat para aktivis dan warga Amerika lain menuntut agar para pembuat undang-undang mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kekerasan senjata yang tidak terkendali di negara itu.

Menurut laporan, seorang pria bersenjata menyerang toko Walmart di El Paso pada 3 Agustus, atas dasar kebencian dan menewaskan 22 orang. Trump pun mengatakan ada “keinginan yang sangat kuat” untuk memperluas pemeriksaan latar belakang.

Tapi Trump gagal mengatasi masalah ini usai bertemu para pemimpin Asosiasi Senapan Nasional – kelompok lobi pro-senjata yang kuat – pasca serangan di El Paso. Bahkan dia bergeming terkait usulan pemeriksaan latar belakang, dan sebaliknya lebih fokus pada isu kesehatan mental.

Sementara itu Gedung Putih mengharapkan usulan hukum yang lebih tegas bagi para pelanggar hukum senjata, tetapi juga dapat mendukung apa yang disebut undang-undang senjata red flag (berpotensi mencurigakan), yang memungkinkan polisi untuk menyita senjata api dari orang-orang yang dinilai membahayakan diri mereka sendiri atau orang lain.

Sedangkan Demokrat sedang mempertimbangkan tiga RUU baru selain yang telah disahkan DPR. Salah satunya tentang larangan kepemilikan magasin atau tempat peluru berkapasitas tinggi, sementara lainnya akan mencegah siapa pun yang sedang berada dalam hukuman tidak dapat mendapatkan senjata untuk digunakan dalam kejahatan rasial.

Di tengah lemahnya tanggapan dari Capitol Hill, dewan editorial Washington Post menyampaikan dakwaan terhadap McConnell dan menyoroti jumlah korban mengejutkan akibat “kegilaan senjata Amerika” yang telah terjadi.

“Lakukan sesuatu, Tuan McConnell,” demikian tulisan editorial satu halaman penuh, pada Rabu.

Tercatat ada 39.773 korban tewas akibat senjata di AS pada 2017, lebih dari setengah dari total korban itu meninggal dunia karena bunuh diri. Tahun itu pun telah memperlihatkan penembakan massal terbesar di zaman modern di Amerika, di mana 58 korban pembantaian tewas di lokasi konser di Las Vegas.

Kemudian pada Februari 2018, sebanyak 17 orang tewas ditembak mati di sekolah menengah Parkland, Florida. Sembilan bulan kemudian, 25 orang tewas dibantai di sebuah gereja di Sutherland Springs, Texas.


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN