Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, D.C Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, D.C Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

The Fed Pantau Risiko Virus Korona ke Ekonomi Global

Iwan Subarkah Nurdiawan, Rabu, 12 Februari 2020 | 13:12 WIB

WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menandaskan bank sentral terus memantau dampak dari penyebaran virus korona baru di Tiongkok, karena bisa menyebar ke seluruh dunia.

Setelah korban jiwa menembus 1.000 orang, layanan transportasi berhenti dan aktivitas bisnis terganggu, pengiriman suku cadang utama ke perusahaan-perusahaan manufaktur asing menjadi tertunda.

“The Fed memantau terus penyebaran virus korona, karena dapat menimbulkan gangguan-gangguan di Tiongkok yang menyebar ke seluruh perekonomian global,” ujar Powell, dalam testimoninya di hadapan Kongres AS, Selasa (11/2).

Powell berbicara sehari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan rancangan anggaran US$ 4,8 triliun kepada Kongres. Dengan anggaran sebesar itu, defisit anggaran AS yang sudah besar akan berlanjut setidaknya hingga 15 tahun ke depan. Powell kembali mengatakan bahwa anggaran pemerintah harus lebih dapat terkelola.

Dalam penyampaian pandangan kebijakan moneter enam bulanan di hadapan Komisi Jasa Keuangan Dewan Perwakilan AS itu, Powell cukup optimistis terhadap ekonomi AS. Ia menyinggung penciptaan lapangan kerja yang solid dan ekonomi terus tumbuh.

Ia juga menegaskan bahwa para pejabat yang mengelola keuangan pemerintah juga berperan dalam mendukung perekonomian. Selain para pejabat bank sentral. Terutama jika terjadi penurunan lagi.

Suku bunga pinjaman di AS saat ini sangat rendah. Berkisar 1,5%-1,75%. Jadi The Fed tidak memiliki banyak ruang untuk bermanuver. Dengan demikian, lanjut Powell, kebijakan fiskal sangat penting untuk menyokong perekonomian, bilamana terjadi pelemahan.

“Jika pada saat ekonomi kuat, anggaran federalnya dapat dikelola dengan baik, para pengambil kebijakan akan terbantu dalam menggunakan kebijakan fiskal untuk menstabilkan ekonomi saat terjadi penurunan,” tutur Powell.

Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )
Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Ia menandaskan bahwa anggaran federal yang terkelola juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Defisit anggaran AS tahun ini diperkirakan tembus US$ 1 triliun.

Trump berkali-kali menyerang The Fed dan juga Powell. Ia menyebut Powell tidak tahu harus berbuat apa. Trump terus menuntut suku bunga acuan diturunkan untuk mendorong perekonomian.

Anggaran pemerintah AS memproyeksikan ekonomi tumbuh 3,0% selama beberapa tahun. Kalangan ekonom berpendapat tidak realistis. Sejarah menunjukkan hal itu mustahil tercapai. Khususnya setelah lebih dari 10 tahun mencatat ekspansi.

Tidak Berubah

Tapi Powell menekankan bahwa sikap kebijakan moneter The Fed saat ini tidak akan berubah. Hanya akan berubah jika perkembangan-perkembangan ke depan menimbulkan masalah material terhadap prospek ekonomi.

“Pada 2019, lesunya pertumbuhan di luar negeri dan perkembangan perdagangan membebani aktivitas pabrik-pabrik di sini,” kata Powell.

Walaupun belanja konsumen, termasuk pembelian hunian, tetap solid, kata Powell, investasi bisnis dan ekspor lemah sepanjang paruh kedua tahun lalu.

Ketidakpastian terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dan global menjadi pemicu The Fed memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun lalu. Langkah kebijakan moneter itu diambil untuk menyokong pertumbuhan, yang sekarang sudah mencapai rekor 11 tahun berturut-turut.

Tapi Trump pada Januari 2020 mencapai gencatan perang dagang dengan Tiongkok. Eskalasinya berhenti, tapi sebagian besar tarif impor masih berlaku. Trump juga menandatangani pakta perdagangan bebas dengan Kanada serta Meksiko.

“Sebagian ketidakpastian yang melingkupi perdagangan sudah memudar. Tapi risiko-risiko terhadap prospek tetap bertahan,” kata dia. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA