Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sedang berbicara kepada media pada Selasa (6/8) di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Kudlow menyampaikan, bahwa Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan kemajuan yang dihasilkan dari negosiasi di Beijing, Tiongkok pada awal bulan ini. AFP/SAUL LOEB

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sedang berbicara kepada media pada Selasa (6/8) di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Kudlow menyampaikan, bahwa Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan kemajuan yang dihasilkan dari negosiasi di Beijing, Tiongkok pada awal bulan ini. AFP/SAUL LOEB

Trump Mau Pakta Perdagangan dengan Tiongkok

Iwan Subarkah Nurdiawan, Rabu, 7 Agustus 2019 | 09:22 WIB

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) menginginkan perjanjian dagang dengan Tiongkok. Tapi, perjanjian itu harus tepat. Keinginan Trump tersebut diutarakan oleh penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow, pada Selasa (6/8).

Keinginan Trump itu juga terlontar pada saat pasar saham berusaha pulih dari aksi jual besar-besaran pada Senin (5/8). Tekanan jual melanda pasar saham global akhir pekan lalu gara-gara eskalasi ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok.

“Presiden tidak senang dengan kemajuan pembicaraan di Beijing bulan ini. Presiden membela perekonomian Amerika terhadap banyak praktik perdagangan yang tidak adil,” ujar Kudlow kepada CNBC.

Trump pada Kamis pekan lalu mengumumkan tarif baru 10% terhadap US$ 300 miliar barang impor Tiongkok dan dijadwalkan berlaku per 1 September 2019. AS kemudian merespons penurunan nilai tukar yuan dengan resmi menyebut Tiongkok sebagai manipulator mata uang.

Tiongkok pada Senin juga menyatakan sudah menghentikan impor produk-produk pertanian AS. “Trump ingin melanjutkan negosiasi. Ia ingin mencapai kesepakatan, tapi harus kesepakatan yang tepa bagi Amerika Serikat,” kata Kudlow.

Setelah bertemu langsung di Shanghai, Tiongkok pekan lalu, tim perunding AS dan Tiongkok dijadwalkan bertemu lagi di Washington, AS bulan depan.

Eskalasi ketegangan perdagangan tersebut membuat para investor yakin bahwa sangat tipis peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Hal ini menambah kekhawatiran akan dampak perang dagangan terhadap perlambatan ekonomi global.

Sejak tahun lalu, AS dan Tiongkok terlibat dalam perang dagang, ditandai penerapan tarif hingga US$ 360 miliar barang impor masing-masing.

Jika berlaku, ancaman tarif dari Trump akan membuat seluruh barang impor Tiongkok dikenai tarif. Sementara perang dagang ini sudah berlangsung setahun lebih lamanya.

Sementara pasar saham global mulai stabil pada perdagangan Selasa. Setelah otoritas Tiongkok mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan yuan.

Sekitar 20 menit memasuki perdagangan, indeks Dow Jones berada di level 25.863,41 atau naik 0,6%. Sedangkan indeks S&P 500 naik 0,7% dan Nasdaq melonjak 1,1%.

“Pada Selasa, bank sentral Tiongkok tampaknya menerapkan penyesuaian kontrasiklus untuk meredam kejatuhan nilai tukar yuan,” ujar Carl Weinberg, kepala ekonom internasional.

Ia menambahkan bahwa dengan kata lain Tiongkok dapat menggunakan aturan-aturan manajemen nilai tukar untuk membuat makin yuan makin murah, tapi malah melakukan sebaliknya.

Ia juga menggambarkan perang dagang berkepanjangan antara AS dan Tiongkok telah merusak perekonomian global. Karena ketidakpastian yang ditimbulkannya kepada pasar finansial dan para pengusaha.

Kelegaan

Pasar saham Eropa juga memulih pada Selasa. Indeks-indeks saham Asia juga berhasil mengurangi kerugian besar pada sesi sebelumnya.

Nilai tukar yuan menyentuh 7,0 terhadap dolar AS pada Senin (5/8). Level tersebut dipandang para investor sebagai ambang batas kunci mengenai nilai tukarnya. Pasar saham global juga anjlok di tengah kekhawatiran eskalasi perang dagang AS-Tiongkok.

“Ada reli karena kelegaan (para investor), karena penyesuaian yuan cukup kuat dan kuatnya permintaan pabrik di Jerman, tapi pemuihan ini masih sangat tentatif,” ujar David Cheetham, kepala analis pasar XTB.

Naiknya volatilitas sejak akhir pekan lalu, tammbah dia, diperparah dengan tipisnya volume perdagangan. Sedangkan Agustus biasanya termasuk salah satu bulan yang paling tidak sibuk dari sisi kegiatan perdagangan. Karena ada liburan musim panas dan cuti tahunan.

Kejatuhan nilai tukar yuan pada Senin mengundang kritik tajam dari Trump. Ia menyebut Tiongkok sebagai pelanggaran besar yang pada akhirnya akan sangat melemahkan negara tersebut.

Tiongkok membalas pada Selasa. Bank sentralnya menyebut pihaknya menolak keras terhadap pelabelan oleh AS. Trump sudah berkali-kali menuding Tiongkok memanipulasi mata uang, namun selalu dibantah oleh Tiongkok.

Kebijakan-kebijakan Tiongkok sebelumnya terhadap yuan adalah dengan membeli valuta asing, menjaga nilai tukar yuan pada level yang ditetapkan sebelumnya. Langkah tersebut diambil untuk menghindarkan arus keluar modal. Namun kalangan analis memperkirakan yuan masih berpotensi terus melemah.

“Depresiasi yuan dapat berlanjut walau mungkin tidak besar. Mata uang sekarang menjadi sorotan dan Tiongkok berpotensi untuk menoleransi pelemahan (yuan) lebih lanjut dan dapat mencapai lima persen lagi sebelum akhir tahun ini,” kata Edward Moya, analis pasar OANDA. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN