Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva saat berbicara di Sidang Paripurna Rapat Musim Gugur IMF/Bank Dunia di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 18 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Andrew CABALLERO-REYNOLDS )

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva saat berbicara di Sidang Paripurna Rapat Musim Gugur IMF/Bank Dunia di Washington, DC., Amerika Serikat (AS) pada 18 Oktober 2019. ( Foto: AFP / Andrew CABALLERO-REYNOLDS )

Utang Global Mencapai Rekor US$ 188 Triliun

Jumat, 8 November 2019 | 10:56 WIB

WASHINGTON, investor.id - Beban utang global melonjak hingga mencapai rekor tertinggi baru yang setara dua kali lipat lebih produksi ekonomi dunia. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengungkapkan sekaligus mengingatkan hal ini, Kamis (7/11).

Walau sebagian besar utang itu adalah utang swasta, kata dia, tapi lonjakan utang mengancam pemerintah dan individu bilamana perekonomian melambat.

“Utang global, baik publik dan swasta, telah mencapai rekor tertinggi US$ 188 triliun. Berarti sekitar 230% produksi dunia,” ujar Georgieva, saat membuka konferensi dua hari mengenai utang di Washington, AS.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan dari rekor sebelumnya yang mencapai US$ 164 triliun pada 2016.

Walaupun suku bunga tetap rendah, para pengutang dapat memanfaatkan dana tersebut untuk investasi di kegiatan-kegiatan yang produktif atau mengatasi dampak rendahnya harga-harga komoditas. Tapi, kata Georgieva, hal tersebut akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Jelasnya adalah beban utang yang tinggi membuat banyak pemerintah, perusahaan, hingga rumah tangga rentan jika kondisi-kondisi finansial tiba-tiba mengetat,” tutur dia.

Utang korporasi mencapai sekitar dua pertiga dari total utang tersebut. Tapi, utang pemerintah juga terus naik sejak krisis finansial global.

“Utang publik di negara-negara maju mencapai level yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II. Sedang utang publik di pasar berkembang mencapai rekor tertinggi sejak krisis utang 1980-an,” lanjut Georgieva.

Ia menyarankan ada langkah-langkah untuk menjadikan utang tersebut lebih terkendalikan. Termasuk dengan membuat praktik penyalurannya lebih transparan dan mempersiapkan restrukturisasi utang bersama para pemberi utang non-tradisional. Georgieva tampak merujuk kepada Tiongkok, yang sudah menjadi kreditor besar bagi negara-negara berkembang, termasuk di Afrika. (afp/sn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA