Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengungsi Rohingya. Foto ilustrasi: beritasatu.com

Pengungsi Rohingya. Foto ilustrasi: beritasatu.com

10 Juta Orang Mengungsi Akibat Konflik Sepanjang 2018

PYA, Minggu, 12 Mei 2019 | 09:26 WIB

JENEWA – Laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Pemantauan Pengungsian Internal atau Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC) dan Dewan Pengungsi Norwegia (Norwegian Refugee Council/NRC), pada Jumat (10/5), menunjukkan bahwa sejak 2018 terdapat sebanyak 10 juta orang yang telah meninggalkan rumah-rumah mereka untuk menyelamatkan diri dan tinggal di tempat lain dalam negara mereka.

Catatan itu memperlihatkan, jumlah orang-orang yang terlantar di Negara yang mereka tinggali atau secara internal, akibat tindak kekerasan telah mencapai rekor tertinggi.

Angka baru ini membuat jumlah keseluruhan orang yang saat ini hidup dalam kondisi berpindah antar tempat akibat kekerasan mencapai 41,3 juta dan tercatat sebagai rekor tertinggi sepanjang masa.

“Ini benar-benar angka yang membingungkan. Diperlukan tindak kekerasan ekstrem dan ketakutan besar kan bencana yang dapat memaksa keluarga keluar dari rumah mereka, tanah mereka, properti mereka, komunitas mereka,” ujar Ketua NRC Jan Egeland kepada wartawan di Jenewa.

Laporan secara keseluruhan untuk 2018 saja, jumlah orang-orang yang mengungsi secara internal atau terpaksa pergi dari rumah-rumah mereka akibat bencana alam dan juga konflik mencapai 28 juta orang. Tahun lalu, sebanyak 10,8 juta orang pengungsi internal (IDP) baru.

Mereka harus melarikan diri dari konflik, seperti yang terjasi di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Suriah, serta ketegangan antar masyarakat di Ethiopia, Kamerun dan Nigeria.

Menurut hasil studi, negara-negara tersebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebagian besar perpindahan. Jumlah orang-orang yang saat ini hidup sebagai pengungsi dilaporkan jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 25 juta orang yang melarikan diri dengan melintasi perbatasan sebagai pengungsi.

Pengungsi Terbanyak

Yang mengeutkan dari hasil laporan temuan itu, bahwa jumlah perpindahan internal baru tertinggi tahun lalu berasal dari Ethiopia di mana 2,9 juta orang melarikan diri dari rumah mereka di negara yang berlokasi di Afrika Timur guna menghindari bentrokan komunal yang biasanya dipicu “masalah biasa” seperti sengketa tanah.

Sementara Republik Demokratik Kongo, yang dilanda perselisihan, menempati urutan kedua dengan total 1,8 juta pengungsi baru pada 2018, diikuti oleh Suriah dengan 1,6 juta perpindahan internal baru. Tetapi secara total, Suriah – yang porak-poranda akibat perang selama delapan tahun – mencatatkan sekitar 6,1 juta pengungsi. Jumlah tersebut kurang lebih sama dengan keberadaan warga Suriah yang masih hidup sebagai pengungsi.

Di luar jumlah orang yang dipaksa keluar dari rumah-rumah mereka akibat tindak kekerasan. Sebanyak 17,2 juta orang telah diungsikan secara internal akibat bencana alam tahun lalu. Demikian laporan yang disampaikan, Jumat.

Bencana alami yang ditimbulkan siklon tropis dan banjir telah memaksa hampir 10 juta orang di Filipina, Tiongkok, dan India melarikan diri. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN