Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Akibat pemanasan global. Foto ilustrasi: IST

Akibat pemanasan global. Foto ilustrasi: IST

BUMEE

Membatasi Pemanasan Global 1,5 Derajat C

Kamis, 14 Oktober 2021 | 10:51 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

KONFERENSI Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Konferensi Para Pihak atau Conference of the Parties (COP) yang ke-26 di Glasgow, Skotlandia pada 31 Oktober – 12 November 2021 memiliki tujuan utama menjaga asa dunia untuk membatasi pemanasan global 1,5 derajat Celsius sesuai Perjanjian Paris 2015.
Pertanyaan besarnya adalah, dapat kah hal itu tercapai? Orang mengatakan COP26 adalah kesempatan besar terakhir bagi dunia untuk dapat mengatasi pemanasan global. Berikut ini beberapa hal yang harus menjadi perhatian ekstra besar bagi seluruh pemangku kepentingan di seluruh dunia:

- Ekstra Keras
Dunia harus bekerja ekstra keras untuk mencapai sasaran tersebut. Lantaran pemanasan global sekarang sudah 1,1 C. Yang berarti dunia harus memangkas polusi karbon separuhnya pada 2030 dan menjadi nol pada pertengahan abad ini.
Panel Antarpemerintah PBB untuk Perubahan Iklim atau IPCC pada Agustus 2021 mengeluarkan peringatan seram. Pemanasan global 1,5 C itu dapat tercapai paling cepat pada 2030.
Pada 2050, Bumi akan 1,5 C lebih panas dibandingkan level sebelum revolusi industri. Sekeras apa pun yang dilakukan dunia untuk memangkas emisi gas karbondioksida (CO2) tersebut.
Malapetaka yang sudah terjadi sekarang adalah kebakaran hutan dan lahan luar biasa di Australia dan AS. Gelombang panas di Amerika Utara dan Siberia. Dan banjir besar di Asia Tenggara, Afrika, Eropa Utara.

- Berubah Seluruhnya
Lalu apa yang harus berubah jika dunia ingin mencapai target Perjanjian Paris tersebut. Henri Waisman, pakar pembangunan rendah emisi lembaga kajian asal Prancis IDDRI dan penulis utama laporan iklim PBB 2018 yang pertama kali menyebutkan dunia akan mencapai pemanasan global 1,5 C mengatakan, semuanya.
“Dan perubahan itu harus sangat mengakar. Kita harus mengubah sama sekali cara kita memproduksi maupun mengonsumsi energi. Cara kita membuat produk-produk industri utama. Juga cara kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pun cara kita menyuapi diri kita sendiri,” tutur Waisman, kepada AFP belum lama ini.

- Sekaligus
Oleh karena luar biasanya tugas yang diemban oleh seluruh umat manusia, ada godaan untuk mengatasi persoalan di setiap sektor satu-satu. Masalahnya, dunia sudah tidak memiliki waktu lagi.
“Jika kita ingin konsisten pada jalur 1,5 C itu, kita harus melakukan segalanya sekaligus dan bersamaan,” kata Anne Olhoff, peneliti di Technical University of Denmark.
Ia adalah penulis laporan tahunan PBB yang memantau kemajuan dalam membatasi emisi global. Ada enam sektor yang harus menjadi target umat manusia untuk memangkas emisi CO2 pada 2030 dari hampir 60 menjadi 25 ton CO2. Keenam sektor itu adalah energi, pertanian, konstruksi, transportasi, industri, dan kehutanan.

- Energi Kunci
Di antara sektor-sektor itu, energi akan menjadi kunci. Karena produksi energi menyumbang lebih dari 70% emisi.
Produksi energi dipandang luas sebagai titik tolak terbaik untuk mencapai target pengurangan itu. Khususnya  energi listrik karena separuh dari emisi berasal dari energi ini.
Sementara bahan bakar fosil yang menjadi target terbesar karena paling besar mengeluarkan emisi dan juga paling kotor adalah batubara.
“Pembangkit listrik tenaga batubara, yang menyumbang sekitar 40% dari total pembangkit listrik saat ini, harus dihilangkan dalam dua dekade,” ujar Matthew Gidden, ketua tim mitigasi di lembaga riset Climate Analytics.
Negara-negara kaya harus memimpin upaya ini, tambah dia, dan pada 2030 harus sudah menutup seluruh PLTU-nya. Di AS misalnya, itu sama dengan menutup satu PLTU setiap 14 hari.

- Tiga Sektor Lain
Namun begitu, menjadikan listrik yang karbon netral saja tidak akancukup. Setiap sektor yang lain pun harus memangkas emisinya.
Di sektor transportasi, Badan Energi Internasional atau IEA menyerukan penjualan mobil berbahan bakar fosil dihentikan paling lambat pada 2035.
Di sektor pertanian, fokusnya adalah pada cara-cara produksi yang tidak lagi menggunakan nitro oksida (N20), karena merupakan tiga gas rumah kaca paling besar setelah CO2 dan metana.
Di samping itu, dunia juga harus sangat mengurangi produksi serta konsumsi daging sapi. Karena hingga saat ini daging sapi adalah yang paling intensif karbon dari seluruh jenis daging yang lain.
Kemudian perlu adanya renovasi rumah dan gedung perkantoran. Karena emisinya sama dengan transportasi. Juga mengembangkan cara-cara baru dalam proses manufaktur, terutama yang sarat karbon seperti semen dan baja.
Terakhir, seyogyanya tidak ada lagi pengrusakan hutan. Karena hutan sangat banyak menyerap dan menyimpan CO2. (afp/sn)
   

Editor : Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN