Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mobil mengantre di lalu lintas Twickenham menuju pusat London pada 21 Juni 2022, di tengah pemogokan kereta api terbesar dalam lebih dari 30 tahun di Inggris. (FOTO: JUSTIN TALLIS / AFP)

Mobil mengantre di lalu lintas Twickenham menuju pusat London pada 21 Juni 2022, di tengah pemogokan kereta api terbesar dalam lebih dari 30 tahun di Inggris. (FOTO: JUSTIN TALLIS / AFP)

Inflasi Inggris Tertinggi Baru dalam 40 Tahun, BoE Ditekan untuk Naikkan Suku Bunga

Rabu, 22 Juni 2022 | 15:55 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Inflasi tahunan Inggris telah mencapai tertinggi baru 40 tahun, ditunjukkan oleh data resmi pemerintah yang dirilis Rabu (22/6). Kenaikan ini lebih lanjut mengikis upah pekerja dan menekan bank sentral Inggris (BoE) untuk terus menaikkan suku bunga.

Kenaikan inflasi Inggris naik tipis menjadi 9,1% pada Mei dari level 9,0% pada April 2022. Angka ini tetap pada level tertinggi sejak 1982, kata Kantor Statistik Nasional (ONS) dalam pernyataan resmi.

Inflasi Inggris diperkirakan di atas level 11% sebelum akhir tahun ini menurut BoE, didorong oleh melonjaknya harga energi yang telah meningkatkan prospek resesi global.

Baca juga: IEA: Dana US$ 2,4 Triliun untuk Energi Tahun ini Tidak Cukup Mengatasi Krisis Pasokan

Inflasi Inggris meningkat pada Mei 2022 karena kenaikan harga pangan yang terus berlanjut dan rekor harga bahan bakar yang tinggi, kata kepala ekonom ONS Grant Fitzner. Ini diimbangi oleh kenaikan biaya pakaian kurang dari setahun sebelumnya dan penurunan harga game komputer, tambahnya.

Inflasi yang tinggi selama beberapa dekade menyebabkan krisis biaya hidup.

Pekerja kereta api Inggris minggu ini melakukan aksi mogok terbesar di sektor ini dalam lebih dari 30 tahun, karena melonjaknya harga mengikis nilai upah.

Tekanan Parah

“Peningkatan lebih lanjut dalam inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) menjadi 9,1% menggarisbawahi tekanan berat yang dialami bisnis dan rumah tangga,” kata David Bharier, kepala penelitian di Kamar Dagang Inggris, Rabu.

“Lonjakan inflasi ini berada di samping prospek ekonomi yang buruk. Dan kecuali pemerintah bertindak dengan urgensi untuk mendorong bisnis berinvestasi, kemungkinan resesi hanya akan meningkat,” ungkapnya.

Negara-negara di seluruh dunia sedang dilanda inflasi yang melonjak karena perang Ukraina dan pelonggaran pembatasan Covid-19 memicu kenaikan harga energi dan pangan.

Itu telah memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga, mempertaruhkan prospek resesi karena biaya pinjaman yang lebih tinggi memukul investasi dan konsumen.

BoE telah menaikkan suku bunga utamanya lima kali sejak Desember 2021.

Baca juga: Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga 75 Bps Juli, 50 Bps September

“Kenaikan moderat dalam inflasi CPI ... tidak akan mencegah bank sentral Inggris menaikkan suku bunga lebih lanjut, tetapi mungkin mendorongnya untuk memilih lagi kenaikan suku bunga seperempat poin (persentase) pada pertemuan berikutnya di Agustus daripada menaikkan taruhan (dengan kenaikan setengah poin),” menurut prediksi Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics.

Itu terjadi ketika Inggris menghadapi pemogokan di sektor lain. Pengacara di Inggris dan Wales telah memilih untuk walk out dari pendanaan bantuan hukum berturut-turut minggu depan.

Staf pengajar maupun pekerja di Layanan Kesehatan Nasional (NHS) yang dikelola negara dan layanan pos juga mempertimbangkan aksi mogok.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

BAGIKAN