Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasil citra dari seniman tentang bagaimana Bimasakti terlihat dari atas. Cincin berwarna menunjukkan luasnya fosil galaksi yang dikenal sebagai nama Heracles. Titik kuning menunjukkan posisi Matahari.

Hasil citra dari seniman tentang bagaimana Bimasakti terlihat dari atas. Cincin berwarna menunjukkan luasnya fosil galaksi yang dikenal sebagai nama Heracles. Titik kuning menunjukkan posisi Matahari.

Ada Fosil Galaksi Tersembunyi di Bimasakti

Sabtu, 21 November 2020 | 20:52 WIB
Fajar Widhiyanto

Sebuah hasil studi yang baru-baru ini dipublikasikan bisa jadi akan mengubah secara drastis pemahaman manusia soal bagaimana galaksi Bimasakti tumbuh menjadi galaksi tempat manusia tinggal saat ini. Studi terbaru menyebut terdapat sebuah “fosil galaksi” tersembunyi di kedalaman Bimasakti.

Pernyataan ini berasal dari hasil pengamatan Apache Point Observatory Galactic Evolution Experiment (APOGEE) dari Sloan Digital Sky Surveys. Sloan Digital Sky Survey atau SDSS sendiri merupakan pencitraan multi-spektral besar dan survei spektroskopi yang menggunakan teleskop optik sudut lebar 2,5 m di Apache Point Observatory di New Mexico, Amerika Serikat. Proyek ini dinamai Alfred P Sloan Foundation, karena Sloan tercatat sebagai penyumbang dana yang signifikan

Menurut para astronom yang terlibat dalam penelitian tersebut, fosil galaksi ini bisa jadi telah bertabrakan dengan galaksi Bima Sakti sepuluh miliar tahun lalu. Para astronom memberi nama galaksi fosil ini sebagai Heracles, mencatut nama pahlawan Yunani kuno yang menerima hadiah keabadian ketika Bimasakti diciptakan.

Sisa-sisa Heracles diperkirakan berukuran sekitar sepertiga dari lingkaran Halo Bimasakti. Namun, jika bintang dan gas dari Heracles membentuk sebagian besar dari Halo galaksi kita, muncul pertanyaan mengapa kita tidak pernah menangkap fenomena alam tersebut di sistem tata surya kita. Perihal pertanyaan ini, para astronom yang terlibat menjawab bahwa letak dari Heracles berada di suatu tempat di kedalaman Bimasakti.

Ricardo Schiavon dari Liverpool John Moores University (LJMU) di Inggris, seorang anggota penting dari tim peneliti mengatakan, untuk menemukan fosil galaksi seperti ini, pihaknya harus melihat susunan kimiawi rinci dan gerakan puluhan ribu bintang.

“Hal ini sangat sulit dilakukan pada bintang di pusat Bima Sakti, karena tersembunyi dari pandangan awan debu antarbintang. APOGEE memungkinkan kami menembus debu itu dan melihat lebih dalam ke jantung Bimasakti dari pada sebelumnya,” kata Schiavon seperti dilansir techexplorist.com, Jumat (21/11) waktu setempat.

Sementara itu seorang mahasiswa pascasarjana dari LJMU, Danny Horta, dalam makalahnya menulis bahwa untuk bisa menemukan bintang yang tidak biasa di pusat Bimasakti, pihaknya harus memeriksa bintang dalam jumlah besar, “Seperti menemukan jarum di tumpukan jerami,” ujarnya.

Paparan tersebut juga menyatakan tim peneliti dan astronom menggunakan komposisi kimia dan kecepatan bintang yang diukur dengan instrumen APOGEE, untuk memisahkan bintang milik Heracles dari susunan bintang milik Bimasakti yang asli.

“Dari puluhan ribu bintang yang kami lihat, beberapa ratus memiliki komposisi dan kecepatan kimiawi yang sangat berbeda. Bintang-bintang ini sangat berbeda sehingga mereka hanya mungkin berasal dari galaksi lain. Dengan mempelajarinya secara mendetail, kami dapat melacak lokasi dan sejarah persis dari fosil galaksi ini," kata Horta.

Bintang yang termasuk dalam fosil galaksi ini menempati sekitar sepertiga dari seluruh massa halo Bimasakti. Artinya, tabrakan kuno yang baru ditemukan ini pasti merupakan peristiwa besar dalam sejarah galaksi Bimasakti.

"Sebagai rumah kosmik manusia Bimasakti sudah sangat istimewa, tetapi galaksi kuno yang terkubur di dalamnya membuatnya semakin istimewa," kata Schiavon.

 

 

 

 

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN