Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seniman India, Sudarsan Patnaik sedang menyelesaikan pahatan pasir bertulisan Stop Child Labour Menjelang Hari Dunia Menentang Pekerja Anak di Puri, pada 11 Juni 2020 ( Foto: PTI )

Seniman India, Sudarsan Patnaik sedang menyelesaikan pahatan pasir bertulisan Stop Child Labour Menjelang Hari Dunia Menentang Pekerja Anak di Puri, pada 11 Juni 2020 ( Foto: PTI )

Angka Pekerja Anak Naik Lagi

Jumat, 11 Juni 2021 | 07:03 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan pada Kamis (10/6) bahwa angka pekerja anak mengalami peningkatan untuk kali pertama dalam dua dekade. Pandemi virus corona Covid-19 diklaim mengancam jutaan anak lain turut mengalami nasib yang sama.

Dalam laporan bersama yang dirilis Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Unicef, jumlah pekerja anak telah mencapai 160 juta pada awal 2020 atau meningkat 8,4 juta dalam empat tahun.

Menurut laporan, kenaikan itu dimulai sebelum pandemi Covid-19 melanda dan menandai pembalikan dramatis dari tren penurunan yang sempat memperlihatkan berkurangnya angka pekerja anak menjadi 94 juta antara 2000 dan 2016. Dikatakan, saat krisis Covid-19 mulai meningkat, hampir satu dari 10 anak di seluruh dunia terjebak dalam pekerja anak, di mana wilayah sub-Sahara Afrika sebagai yang paling parah terkena dampaknya.

Ketika persentase anak yang menjadi pekerja tetap sama seperti yang tercatat di 2016, artinya angka pertumbuhan penduduk juga meningkat secara signifikan. Baik ILO dan Unicef mengatakan, risiko pandemi Covid-19 telah memperburuk situasi itu secara signifikan.

Kedua badan di bawah naungan PBB itu pun memperingatkan, kecuali ada tindakan yang segera diambil untuk menangani pembengkakan jumlah keluarga yang jatuh ke dalam kemiskinan, maka diprediksi hampir 50 juta lebih anak dapat dipaksa menjadi pekerja selama dua tahun ke depan.

Kehilangan Pijakan

“Kita telah kehilangan pijakan dalam perjuangan untuk mengakhiri pekerja anak. Sekarang, memasuki tahun kedua karantina (lockdown) global, penutupan sekolah, gangguan ekonomi, dan anggaran nasional yang menyusut, banyak keluarga dipaksa untuk membuat pilihan yang memilukan,” ujar Direktur Eksekutif Unicef Henrietta Fore kepada wartawan, yang dikutip AFP.

Dia menekankan, krisis Covid-19 telah membuat situasi yang buruk menjadi lebih buruk. Laporan juga menyebutkan, apabila proyeksi terbaru dari peningkatan kemiskinan karena pandemi terwujud maka ada 9 juta anak lain yang bakal menjadi pekerja pada akhir 2022.

Tetapi pemodelan statistik menunjukkan, jumlahnya berpotensi lima kali lebih tinggi. Demikian disampaikan ahli statistik Unicef, Claudia Cappa yang ikut menulis laporan tersebut.

“Jika cakupan perlindungan sosial turun dari tingkat saat ini, sebagai akibat dari langkah-langkah penghematan dan faktor lainnya maka jumlah anak yang menjadi pekerja bisa naik (bertambah) 46 juta pada akhir tahun depan,” katanya kepada AFP.

Laporan, yang diterbitkan setiap empat tahun itu menunjukkan, bahwa anak-anak berusia antara lima dan 11 tahun menyumbang lebih dari setengah dari angka global.

Pekerjaan Berbahaya

Selain itu, isi laporan juga memperlihatkan bahwa kelompok anak laki-laki secara signifikan lebih mungkin terkena dampak. Tercatat sebanyak 97 dari 160 juta yang harus bekerja keras sebagai pekerja anak pada awal 2020. Namun, kesenjangan gender ini menyempit setengahnya ketika pekerjaan rumah tangga yang dilakukan setidaknya selama 21 jam per minggu ikut dihitung.

Mungkin, khususnya yang mengkhawatirkan, adalah peningkatan signifikan yang terlihat pada anak-anak antara usia 5 tahun dan 17 tahun yang harus melakukan pekerjaan berbahaya, yang dianggap memengaruhi perkembangan, pendidikan, atau kesehatan anak.

Hal tersebut bisa termasuk bekerja keras di industri berbahaya, seperti pertambangan atau menggunakan mesin berat, dan bekerja lebih dari 43 jam seminggu yang membuat anak-anak itu hampir tidak mungkin lagi untuk bersekolah.

Berdasarkan laporan, sebanyak 79 juta anak dianggap melakukan pekerjaan berbahaya seperti itu, sejak awal 2020. Angkanya pun naik 6,5 juta dari empat tahun sebelumnya. Studi ini mengungkapkan, sebagian besar pekerja anak terkonsentrasi di sektor pertanian, yang menyumbang 70% dari total global, atau 112 juta anak. Sedangkan sekitar 20% pekerja anak dipekerjakan di sektor jasa dan sekitar 10% di sektor industri.

Laporan menunjukkan, peningkatan terbesar pekerja anak terlihat di wilayah sub-Sahara Afrika, di mana pertumbuhan populasi, krisis berulang, kemiskinan ekstrem, dan langkah-langkah perlindungan sosial yang tidak memadai mendorong penambahan 16,6 juta anak menjadi pekerja sejak 2016.

Hampir seperempat anak berusia 5-17 tahun di sub-Sahara Afrika sudah menjadi pekerja anak, dibandingkan dengan 2,3% di Eropa dan Amerika Utara.

Badan-badan di bawah naungan PBB itu memperingatkan, guncangan ekonomi tambahan dan penutupan sekolah yang disebabkan oleh krisis Covid-19 berarti bahwa anak-anak yang sudah menjadi pekerja dapat bekerja lebih lama dan dalam kondisi yang memburuk.

“Masih banyak lagi yang berisiko dipaksa masuk ke dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak karena kehilangan pekerjaan dan pendapatan di antara keluarga yang rentan,” kata laporan itu.

“Perkiraan baru itu merupakan peringatan. Kita tidak bisa berdiam diri sementara generasi baru anak-anak berada dalam bahaya. Kita berada pada momen penting dan banyak tergantung pada bagaimana kita merespons. Ini adalah waktu untuk komitmen dan energi baru untuk mengubah sudut dan memutus siklus kemiskinan dan pekerja anak,” ujar Direktur Jenderal ILO Guy Ryder dalam pernyataan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN