Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Di Malawi, Afrika bagian selatan, daun tembakau dikenal sebagai

Di Malawi, Afrika bagian selatan, daun tembakau dikenal sebagai "emas hijau". Tetapi Republik Malawi harus bergulat dengan tuduhan penggunan buruh anak-anak, jika ingin industri tembakau memiliki masa depan. ( Foto: AFP Photo / GIANLUIGI GUERCIA )

AS Batasi Impor Tembakau Malawi karena Tuduhan Eksploitasi Anak

Happy Amanda Amalia, Senin, 2 Desember 2019 | 13:07 WIB

BLANTYRE, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) membatasi impor tembakau dari Malawi karena adanya tuduhan eksploitasi pekerja, termasuk mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Negara miskin di bagian tenggara Afrika itu pun dipaksa menghentikan praktik-praktik pekerja anak dan kerja paksa.

Meskipun ekspor tembakau ke Amerika Serikat hanya merupakan bagian kecil dari total Malawi, tetapi langkah AS tersebut dapat mempersulit penjualan tembakau di tempat lain dan memicu kecemasan di kalangan petani yang takut dipaksa untuk menerima harga yang lebih rendah.

Mengingat tembakau – atau disebut emas hijau – adalah tanaman unggulan Malawi dalam hal lapangan pekerjaan, dan menghasilkan pendapatan valuta asing sebesar 60% dan pendapatan pajak sebesar 25%, maka permasalahan yang dialami di sektor ini dapat cepat menyebar ke seluruh negeri.

Keputusan AS juga semakin memperparah tekanan yang dialami di sektor tembakau, yang telah dihadapkan dengan kampanye anti-tembakau global.

Masalah tersebut berawal pada akhir Oktober, ketika firma hukum Inggris Leigh Day mengumumkan sedang mempersiapkan kasus class action melawan British American Tobacco (BAT) atas nama 2.000 petani Malawi, termasuk ratusan anak-anak, karena praktik kerja paksa dan upah yang sangat rendah.

Tetapi BAT, yang dikatakan telah menanggapi masalah pekerja anak dengan sangat serius, telah membantah melakukan kesalahan dan mencatat bahwa mereka membeli tembakau dari Malawi melalui dealer internasional yang diharuskan mematuhi kode perilaku, yakni tidak mentolerir pekerja anak dan sistem pekerja paksa.

Negeri Paman Sam kemudian menangguhkan impor tembakau dari Malawi, dengan menyatakan bahwa negara itu memiliki informasi layak yang mengindikasikan tembakau diproduksi dengan menggunakan sistem kerja paksa dan mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

Menurut survei yang dilakukan badan statistik negara itu pada 2017, eksploitasi pekerja anak di Malawi sangat luas. Survei menemukan 38% anak-anak yang bekerja di negara itu, berusia antara lima tahun dan 17 tahun.

Meskipun survei tidak memberikan informasi spesifik tentang sektor tembakau, namun hasil surveti itu diakui secara luas bahwa pekerja anak adalah sebuah masalah.

Menurut Betty Chinyamunyamu, yang mengetuai asosiasi petani kecil, insiden pekerja anak kerap terjadi meskipun ada upaya untuk menghapus praktik tersebut. “Dalam beberapa kasus, para petani mungkin berpikir bahwa itulah yang seharusnya terjadi, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka terlibat dalam pekerja anak,” ujarnya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serikat Pekerja Tembakau dan Sekutu (Tobacco and Allied Workers Union) Raphael Sandram menuduh pemerintah ragu-ragu menangani pekerja anak di industri ini.

“Dalam laporan tenaga kerja kami pada 2015, kami mengangkat masalah bahwa ada beberapa penyimpangan dalam industri yang perlu ditangani oleh pemerintah. Fakta bahwa pemerintah tidak menanggapi sesuai dengan persyaratan yang diajukan Pemerintah AS, berarti mereka menunda-nunda untuk bertindak atas masalah ini. Tetapi masalah ini telah terjadi di sana untuk waktu yang lama,” katanya.

Buruh anak-anak di Malawi dipekerjakan untuk memanen daun tembakau. ( Foto: AFP Photo/FELIX MPONDA )
Buruh anak-anak di Malawi dipekerjakan untuk memanen daun tembakau. ( Foto: AFP Photo/FELIX MPONDA )

Mendorong Kepatuhan

Menteri Pertanian Kondwani Nankhumwa pun mengakui adanya kantong anak-anak dan sistem kerja paksa di Malawi, tetapi mengabaikan langkah-langkah AS dengan mengatakan bahwa itu “bukan larangan, melainkan hanya mendorong kepatuhan”.

Di sisi lain, pihak berwenang AS menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang ingin mengimpor tembakau Malawi harus menunjukkan bahwa tembakau itu tidak diproduksi dengan sistem kerja paksa. Tetapi, hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk meyakinkan otoritas AS dan berapa banyak upaya yang akan diambil perusahaan, tidak diketahui secara pasti.

Nankhumwa menambahkan, 80% tembakau Malawi ditanam di bawah skema khusus yang bebas dari eksploitasi pekerja anak atau kerja paksa. “Jadi, kami hanya bergulat dengan 20% di mana ada juga semacam kepatuhan,” pungkas dia.

Sementara itu, firma hukum Leigh Day menggambarkan sistem pertanian tembakau yang membuat para petani di bawah tekanan ekstrem.

Dikatakan bahwa para pembeli daun yang menjual ke perusahaan tembakau multinasional membuat kontrak dengan para pemilik tanah, yang kemudian melibatkan petani-petani penyewa yang menghabiskan 10 bulan di perkebunan. Setiap petani penyewa dialokasikan sekitar satu hektar tetapi hanya ada empat pekerja untuk mengerjakan lahan seluas itu.

“Jumlah yang dibayar petani penyewa untuk panen terlalu rendah bagi mereka untuk dapat mempekerjakan pekerja yang membantu di pertanian. Akibatnya, mereka tidak memiliki pilihan selain bergantung pada anak-anak mereka untuk bekerja di peternakan,” ujar Leigh Day dalam sebuah pernyataan.

Nannkhumwa pun berjanji, Pemerintah Malawi akan melakukan tinjauan kebijakan yang diperlukan untuk melindungi industri tembakau dan membawa negara tersebut mematuhi standar global. “Pemerintah sedang meninjau sistem sewa, yang merupakan akar pertikaian tetapi juga dianggap sebagai katalisator untuk anak dan kerja paksa,” katanya.

Para petani - yang mulai mempersiapkan ladang mereka untuk musim tanam berikutnya - bingung dengan kemungkinan terjepit dengan jatuhnya harga.

“Kami benar-benar bingung,” kata Alick Yagontha, seorang petani kecil di distrik Rumphi utara yang telah menanam tembakau selama dua dekade dan memanen 28.000 kilogram tahun ini. Tapi dia khawatir tidak akan ada masa depan untuk pertanian tembakau di Malawi, jika harga turun. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA